Zen Or Li Zen

Zen Or Li Zen
bab 39



Mobil yang dikendarai Da eng sudah sampai diarea proyek yang berada Nakago. Tak jauh dari kawasan itu terdapat hotel yang akan dijadikan tempat menginap untuk Da eng dan Zen.


"Zen kau istirahat saja dulu jika lelah. Aku akan ke proyek dulu sebentar untuk meninjau."


" Aku ikut Kak! Masak aku bersantai sedang bosku malah bekerja," ucap Zen sambil mengambil kamera untuk memfoto.


" Baiklah. Kau memang anak buah yang berbakti."


Mereka berdua pun berjalan sebentar menuju lokasi proyek yang terletak disebrang hotel.


Da eng disambut oleh anak buahnya dan seorang arsitek. Mereka menjelaskan perkembangan bangunan proyek yang akan dijadikan pusat perbelanjaan itu.


Sementara Zen sibuk mengabadikan gambar bangunan yang masih setengah jadi itu sebagai bahan laporan.


" Kemarikan kameranya," ucap Da eng sambil merebut kamera dari tangan Zen.


" Kau mau apa Pak bos?" tanya Zen kesal.


" Berdirilah disana. Aku akan mengambil fotomu."


" Tidak mau! Aku kesini bukan untuk bekerja sebagai model." Tolak Zen.


Da eng spontan menarik tubuh Zen hingga mendekat padanya. Ia sedikit merendahkan badannya agar wajahnya bisa dekat dan sejajar dengan Zen.


Klik


Da eng memasang senyum dibibirnya saat kamera itu menangkap wajahnya bersama Zen.


" Tadi itu pose apa? Kenapa terlihat aneh?" ucap Zen lalu menjauhkan tubuhnya.


Ia merasa risih ketika Da eng menyentuh pingganggnya.


" Ya....ya hanya berpose biasa saja. Sudahlah ayo kembali ke hotel. Ini sudah cukup sore."


Sampai di hotel, Zen segera membersihkan dirinya. Ia memakai celana katun panjang dan sweater karna cuaca yang sedikit dingin. Zen turun menuju restoran untuk makan malam bersama bosnya itu.


" Kau terlihat manis Zen dengan sweater itu." Puji Da eng yang membuat Zen malas.


" Jangan pernah mengataiku manis! Itu sangat menggelikan."


" Hai tenanglah, aku hanya bercanda. Kau mau pesan apa?"


" Aku pesan minum saja. Aku sedang malas makan."


" Terserah kau saja tapi jangan menyalahkan aku jika kau nanti kelaparan!"


Dari arah meja berbeda tampak seorang lelaki ysng cukup kaget karna melihat Zen berada disatu restoran dengannya. Bahkan hatinya mulai terasa panas saat melihat Zen yang tampak sedang duduk berdua dengan seorang lelaki bahkan terkadang terlihat bercanda.


Kenapa Zen dan Kak Da eng bisa berada disini? Tadi saat dikampus ia tak mengatakan apa pun.


Be ong pun akhirnya membuntuti Zen sampai didepan kamarnya. Ia berbalik menuju resepsionis dan berhasil mendapatkan kunci duplikat kamar Zen.


Be ong kembali kekamarnya untuk berganti baju dan mengerjakan sedikit pekerjaannya yang harus ia selesaikan. Tepat pukul sebelas malam, Be ong sudah menyelesaikan pekerjaannya lalu bergegas menuju kamar Zen.


Be ong duduk disamping Zen lalu merapikan anak rambut yang menutupi dahi Zen.


" Li zen, kulihat kau cukup akrab dengan kak Da eng dan hatiku sangat panas saat melihatnya."


Zen yang merasa tidurnya terganggu pun mulai membuka matanya perlahan. Ia begitu terkejut saat melihat ada orang lain didalam kamarnya.


" Hah siapa kau? Bagaimana bisa kau berada disini?" Teriak Zen yang belum menyadari kehadiran Be ong.


" Li zen jangan teriak begitu. Ini aku. Masak kau tidak mengenaliku."


" Be ong? Kau kah itu? Bagaimana bisa kau ada disini?"


" Aku memang menginap dihotel ini selama mengurusi perusahaan ayahku dan aku tak menyangka jika akan bertemu denganmu disini. Kenapa tidak bilang jika kau juga akan pergi? "


" Kenapa bisa kebetulan sekali ya? Aku lupa Ong. Lagi pula aku disini karna urusan pekerjaan dan besok siang aku sudah kembali."


Be ong mendorong tubuh Zen hingga posisinya tertidur kembali. Ia menarik selimut dan ikut masuk kedalamnya.


" Tadi kau terlihat sangat akrab dengan Da eng. Aku tak suka," ucap Ong ssmbil memeluk erat Zen.


" Dia bosku Ong. Lagi pula dia juga calon kakak iparmu."


" Li zen jangan mengingatkan aku akan hal itu. Malam ini sangat dingin. Aku akan menemanimu."


" Kau selalu saja berniat lain."


Be ong tertawa kecil mendengar sindiran dari Zen. Ia mulai menyingkap kaos Zen lalu melepas kain yang melilit dada mungil milik Zen.


Be ong mulai merasakan asupan nutrisi dari Zen yang sangat ia sukai.


" Ahhh...Ong. Bisa kempes milikku jika kau selalu seperti ini."


" Ini bola kenyal kesayanganku. Kau tak boleh melarangnya," ucap Ong sambil tangannya bergerak ingin melepas celana Zen namun tertahan.


" Kenapa?"


" Jangan Ong. Disebelah adalah kamar kak Da eng. Kamar ini tidak kedap suara." Cegah Zen.


" Biarkan saja dia mendengar suara maut kita! Aku tidak peduli. Aku masukkan sekarang."


" Auww...sakit Ong. Kau selalu saja buru-buru."


" Iya...aku minta maaf. Katakan jika sudah tak sakit dan aku akan mulai bergerak."


Tak lama Be ong mulai melancarkan aksinya. Zen hanya mampu menahan suaranya agar tak terdengar dari kamar Da eng. Namun sepertinya Be ong tak membiarkan hal itu dan ia melakukan gerakan-gerakan yang membuat Zen tak tahan untuk diam.


Sementera itu Da eng terjaga dari tidurnya karna merasa haus. Ia sedikit mengkerutkan keningnya saat mendengar suara yang mirip ******* dari kamar Zen.


Hah aku tidak salah dengar. Pasti Zen membawa pacarnya kemari tanpa seijinku.


bersambung.....