Zen Or Li Zen

Zen Or Li Zen
bab 43



Shulan yang masih mempunyai kesadaran ditengah nafsu yang melandanya segera bangkit dari tubuh Aryong.


" Akhh..apa yang sudah aku lakukan?" Shulan menyugar rambutnya dengan frustasi.


Shulan segera memakai baju yang sempat dilepasnya tadi.


Aryong yang kaget segera membuka matanya dan menatap Shulan keheranan.


" Shulan, apa yang terjadi?"


" Aryong, maafkan aku. Segeralah pakai bajumu kembali."


Shulan segera keluar dari kamar Aryong menuju ruang tamu. Ia mendudukkan dirinya disofa sambil memijat keningnya.


Tak lama Aryong pun menyusulnya dengan rambut yang masih berantakan. Ia ikut duduk disebelah Shulan hingga membuat lelaki itu beralih menatapnya.


" Aryong, sekali lagi maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Kalau begitu aku pamit pulang sekarang." Shulan segera menenteng tasnya lalu keluar.


Sedangkan Aryong masih terlihat bingung dengan apa yang terjadi.


****


Be ong mengajak Jenny untuk bertemu disebuah restoran terkenal. Ia sedikit resah karena menunggu Jenny yang tak kunjung datang.


" Be ong." Teriak Jenny begitu melihat Be ong.


Jenny menghampiri Be ong sambil membawa beberapa design dekorasi pengantin.


" Maaf ya aku baru datang. Kau sudah lama menunggu?"


" Cukup lama. Apa yang kau bawa?"


" Ohh...ini aku membawa gambar dekorasi yang ingin aku ubah karena yang kemarin aku kurang suka. Kau tidak keberatan kan?" Ungkap Jenny dengan ceria hingga membuat Be ong ragu untuk mengatakan curahan hatinya yang sebenarnya.


" Be ong..kau kenapa?" tanya Jenny karena melihat Be ong melamun.


" Tidak apa...oh ya untuk dekorasi terserah kau saja."


Bagaimana aku harus mengatakannya Jen? Awalnya aku memang begitu menginginkanmu tapi setelah mendapatkanmu kenapa aku jadi merasa hampa.


****


Zen segera memasukkan baju-bajunya kedalam tas besar. Ia harus menjauh sejenak dari semua situasi yang tengah menimpa dirinya. Ia ingin menenangkan dirinya agar pikirannya bisa kembali tenang.


Baru saja ingin keluar, ia melihat Shulan sudah berada didepan pintu.


" Aku...aku hanya ingin berjalan-jalan saja. Aku suntuk sekali."


" Kau ingin menghindari Be ong ya?"


Zen akhirnya menganggukkan kepalanya.


" Jika aku tetap disini, Be ong bisa saja sewaktu-waktu membatalkan pernikahannya. Jadi aku putuskan untuk pergi. Aku juga sudah menyerahkan surat cuti kepihak kampus."


" Memangnya kau mau kemana?"


" Aku belum tahu. Yang jelas aku ingin pergi ketempat yang jauh agar Be ong tak tahu keberadaanku."


" Kalau begitu kau bisa pergi ke desa asal ibuku. Disana suasananya sangat tenang jadi kurasa kau akan merasa nyaman berada disana."


" Benarkah? Kalau begitu beritahu aku tempatnya dan aku akan segera kesana."


" Aku yang akan mengantarmu," jawab Shulan yang langsung menarik tangan Zen.


Shulan membawa Zen kestasiun untuk naik kereta.


" Shulan, kau yakin ingin pergi denganku tanpa membawa apa pun?"


" Aku kan bisa pinjam bajumu."


" Enak saja. Aku tidak mau bajuku bercampur dengan bau keringatmu."


" Eh kau pikir aku bau. Anggap saja itu sebagai bentuk terima kasih karna aku sudah mengantarmu."


" Aku tidak memintamu untuk ikut. Kau sendiri yang menawarkam dan main mengintiliku."


" Hahaha..."


" Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?"


" Aku senang jika kau kesal seperti ini. Wajahmu jadi semakin menggemaskan." Bisik Shulan tepat dihadapan Zen.


Zen segera menoyor kepala Shulan agar menjauh.


" Jauhkan kepalamu! Aku tidak mau orang-orang yang melihat kita berpikir kalau kita gay."


Shulan semakin senang karna membuat Zen bertambah kesal.


Bersambung....