
Hati Be ong bertambah kesal ketika mendapati Zen tak lagi tinggal diapartemen. Lemari yang dipakai Zen pun sama sekali sudah tak ada pakaiannya.
Dengan geram Be ong menuju rumah sewa Zen dulu. Malam itu sudah menunjukkan pukul satu dini hari dan Be ong sudah sampai didepan pintu kamar Zen.
Tok tok tok
" Zen buka pintunya!" Teriak Be ong sambil mengetuk pintu lebih keras karna Zen tak juga membukanya.
" Zen buka pintunya! Atau akan kudobrak pintu ini!" Teriak Be ong disertai ancaman.
Ceklek
Zen menatap tajam kearah Be ong lalu menarik tangan Be ong untuk masuk.
" Kau tidak bisa pelan ya? Bagaimana jika para tetanggaku marah karna merasa terganggu?"
"Aku tidak peduli! Lagi pula salahmu sendiri kenapa lama membuka pintu!"
" Baiklah, sekarang kau sudah disini jadi apa tujuanmu datang kemari malam-malam begini?"
" Kenapa kau tiba-tiba pindah lagi kemari tanpa memberitahuku? Kau sudah tidak menganggapku?"
" Mulai sekarang jangan lagi mencampuri urusanku. Biarkan aku bebas tanpa dirimu lagi."
" Apa maksudmu Li zen? Lalu bagaimana dengan bayi yang ada diperutmu? Dia juga anakku!" ucap Be ong tak terima.
" Aku bisa mengurus diriku sendiri dan juga kehamilanku. Kau urus saja Jenny, bukannya sebentar lagi kalian akan menikah?"
Be ong yang sadar atas kesalahannya pun menarik Zen kedalam pelukannya.
" Maafkan aku Zen. Aku bertunangan dengan Jenny karna desakan dari orang tuaku."
" Kau sudah bertunangan dengannya Ong. Jalinlah hubungan yang serius dengannya dan jangan menyakiti hatinya. Lagi pula aku sudah tak mau menjadi simpananmu lagi."
" Tidak Li zen, kau adalah milikku! Kau tak boleh pergi dariku. Kita akan tetap bersama meskipun dibelakang semua orang."
" Aku sudah tak mau Ong. Kau tak perlu khawatir. Aku akan merawat anak kita nanti dengan baik dan kau tetap bisa mengunjunginya."
" Lakukan saja! Aku sudah tak peduli jika kau ingin membuka identitas asliku didepan semua orang. Aku hanya ingin kau melepaskan aku dan jangan ganggu hidupku lagi!"
" Kau sungguh menguji kesabaranku Li zen! Kali ini kau benar-benar membuatku marah! Teriak Be ong yang sudah tak bisa menahan kekesalannya.
Dengan kasar, Be ong mendorong tubuh Zen hingga terlentang disofa. Ia membuka bajunya dengan cepat lalu menindih Zen.
" Be ong, apa yang kau lakukan? Kau jangan gila!" Teriak Zen sambil berusaha memberontak dari kukungan Be ong.
Be ong yang sedang marah pun seperti tak menghiraukan perkataan Zen.
" Be ong, lepaskan aku! Kau benar-benar brengsek!
Be ong yang semakin kesal karna mendapat umpatan Zen pun tak segan lagi untuk memperkosa Zen untuk yang kedua kali.
" Ahh Ong, perutku sakit sekali..." Rintih Zen sambil meringis menahan sakit.
Be ong tak mempedulikannya dan masih menikmati aksinya yang terasa menyiksa bagi Zen.
" Ong, hentikan. Perutku benar-benar sakit," ucap Zen dengan wajah yang semakin pucat.
Be ong yang menyadari hal itu langsung bangkit dari tubuh Zen. Wajahnya langsung pucat saat melihat ada aliran darah yang mengalir dikaki Zen.
" Ong tolong aku." Rintih Zen yang menyadarkan Ong dari keterkejutannya.
" Li zen kau kenapa? Kau tenang ya, aku akan segera membawamu kerumah sakit."
Be ong memakai kembali pakaiannya dengan terburu-buru. Ia membopong tubuh Zen lalu membawanya ke mobil.
Be ong melajukan kendaraannya dengan begitu cepat sambil sesekali melihat kondisi Li zen yang sudah seperti mayat hidup.
" Li zen, maafkan aku. Aku sungguh tak bermaksud menyakitimu dan calon bayi kita. Kuatkan dirimu, aku yakin kau akan baik-baik saja," ucap Be ong dengan beruraian air mata.
bersambung....