
Zen segera berganti baju olahraga karena pagi ini ia akan lari pagi bersama Da eng. Ia sengaja memakai setelan panjang karena udara pagi itu cukup dingin.
Be ong melingkarkan tangannya dipinggang Zen dari belakang sambil bermanja.
" Li zen, kita tidur lagi saja lagi pula dingin begini kau mau lari pagi."
" Aku sudah janjian dengan kak Da eng lagi pula aku ingin menjaga kebugaranku."
" Baiklah tapi kau harus janji kau tak boleh terlalu dekat dengannya," ucap Be ong sambil membalikkan tubuh Zen.
" Iya, aku mengerti. Lagi pula apa yang kau khawatirkan? Dia pasti lelaki normal jadi tak mungkin menyukaiku."
" Li zen....sadarlah, wajahmu itu terlalu manis sebagai seorang laki-laki. Bisa saja dia menjadi gay setelah dekat denganmu. Pokoknya kau tak boleh terlalu dekat dengannya!"
" Ya sudah cepatlah pergi sebelum kak Da eng melihatmu. Kau kan juga ada meeting pagi-pagi."
" Iya aku pergi tapi setelah kau berikan satu ciuman untukku." Goda Ong sambil menggigit bibir bawahnya.
" Memangnya semalam masih kurang? Bibirku saja rasanya sudah pegal."
" Cepatlah! Kalau kau tidak mau maka aku akan tetap disini."
Cup
Zen mencium bibir Be ong dengan cepat lalu menjauhkan tubuhnya. Be ong yang merasa puas pun segera kembali kekamarnya untuk bersiap menghadiri rapat.
****
Da eng menunggu Zen dilobi dengan wajah tertekuk. Sesekali ia melihat jam ditangannya karena merasa Zen tak kunjung turun.
Sebenernya dia itu jadi lari pagi atau tidak sih? Jangan-jangan dia masih asyik bercinta dengan pacarnya.
Pipi Da eng menjadi memanas memikirkan hal itu. Namun lamunannya tiba-tiba buyar saat Zen menepuk pundaknya.
" Maaf Kak, kau lama menunggu ya?"
" Kak kenapa kau melihatku seperti itu? Apa ada yang salah dengan penampilanku?"
" Dimana pacarmu?"
" Hah pacar?" ucap Zen tak mengerti.
" Tak usah pura-pura! Semalam kau bersama pacarmu kan? Aku mendengar suara kalian!"
Akhirnya yang aku takutkan terjadi. Kak Da eng mendengar suaraku dan Ong.
" Kenapa kau diam? Aku tak masalah kau mau melakukan apa dengan pacarmu Zen ! Tapi jika kau masih dalam posisi bekerja bersikaplah profesional. Jangan karna aku baik padamu lalu kau merasa spesial dan tak menghormatiku sebagai atasanmu!" ucap Da eng marah.
Da eng yang marah pun pergi meninggalkan Zen dan kembali kekamarnya. Zen yang merasa bersalah pun berusaha mengejar Da eng.
" Kak tunggu sebentar! Aku minta maaf jika apa yang kulakukan menyinggungmu dan aku juga minta maaf jika kau merasa aku tak menghormatimu sebagai atasanku. Jadi mulai sekarang aku akan bersikap formal terhadapmu dan hubungan kita resmi sebagai atasan bawahan. Sekali lagi aku minta maaf."
Zen bukan itu yang kumaksud. Aku tak ingin hubungan kita seperti itu dan kita menjadi jauh. Aku sungguh tak tahu Zen dengan apa yang terjadi dengan diriku sendiri. Aku sungguh tak suka jika ksu mempunyai pacar Zen.
Da eng kembali melangkahkan kakinya setelah berhenti sesaat. Zen berusaha mengejar Da eng lagi hingga ia menarik tangan Da eng yang ingin masuk kamar.
Da eng pun bermaksud mengibaskan tangan Zen namun karna posisi yang kurang seimbang menyebabkan Zen jatuh dan tangannya ikut menarik tangan Da eng.
Da eng pun ikut terjatuh dengan posisi menindih tubuh Zen yang berada dibawahnya.
Mata mereka saling mengunci pandangan saat tanpa sengaja bibir Da eng menyentuh bibir Zen.
Hah apa ini? Kenapa rasanya lembut sekali? Beginikah rasanya bibir seorang pria.
Brak
Zen pun mendorong Da eng hingga terjatuh dan segera pergi dari kamar Da eng.
bersambung.....