Zen Or Li Zen

Zen Or Li Zen
bab 11



Didalam gedung bioskop, Zen duduk bersebelahan dengan Shulan sedangkan Jenny dan Be ong berada didepannya. Zen melihat keromantisan yang tercipta antara Jenny dan Be ong.


" Heh kau cemburu ya?" tanya Shulan sambil menyenggol lengan Zen.


" Aku tidak cemburu."


" Yang benar? Lalu kenapa mukamu kusut begitu?" Goda Shulan.


" Aku hanya bosan dan sama sekali tidak menikmati filmnya. Aku tidur saja, nanti bangunkan aku jika sudah selesai," ucap Zen lalu memejamkan matanya.


Shulan mengangguk dan memperhatikan raut wajah Zen yang sudah memejamkan matanya. Tak sengaja pandangannya tertuju pada bibir tipis Zen.


Kenapa bibirnya sangat menggoda.


Ah tidak pasti aku sedang tidak waras.


Shulan, ingat kau masih normal.


Be ong menolehkan kepalanya kebelakang dan ia melihat Shulan yang sedang memperhatikan wajah Zen dengan intens.


"Hemm."


Suara deheman dari Be ong pun mengalihkan perhatian Shulan.


" Kenapa temanmu malah tidur?"


" Ahh...dia bilang dia sangat mengantuk," jawab Shulan gelagapan.


Kurang ajar! Kenapa dia memperhatikan Zen dengan tatapan mendamba seperti itu. Batin Be ong kesal.


Film pun selesai, mereka berempat pun memutuskan mampir untuk makan siang di mall tersebut sebelum pulang. Mereka menikmati makanan dengan suasana hening.


" Aku sudah selesai. Aku ke toilet sebentar," ucap Zen sambil beranjak dari kursinya.


Tak lama Be ong pun menyusul Zen ke toilet. Saat akan membuka pintu toilet, Zen kaget karena Be ong sudah berada didepan pintu.


Dengan cepat Be ong mendorong Zen hingga masuk ke toilet lagi lalu mengunci pintu.


" Ong."


Be ong merapatkan Zen ketembok dan mengunci tubuhnya.


" Mulai sekarang kau jangan lagi berteman dengan Shulan. Aku tidak suka!"


" Dia temanku, lalu apa masalahmu?" tanya Zen tak suka.


" Aku tidak mau! Dia temanku, dia baik dan tidak buruk seperti dirimu!"


Be ong menggeretakkan giginya karna kesal. Tanpa aba-aba, ia membuka celana Zen dengan paksa kemudian menurunkan resleting celananya dan mengeluarkan benda keramat miliknya.


Tanpa pemanasan, Be ong melesakkan miliknya meskipun mengalami kesulitan.


" Ong, hentikan ini sakit sekali !" ucap Zen dengan wajah meringis menahan sakit.


Be ong tak mempedulikan Zen dan tetap berusaha memasukkan miliknya. Ia mulai menggerakkan pinggulnya meskipun posisinya tidak mengenakkan.


" Ong, hentikan!" teriak Zen sambil memukul dada Be ong.


Tak lama Be ong mencabut miliknya meskipun belum mencapai *******. Ia membenahi celananya yang sudah melorot.


" Baiklah, ku ijinkan kau tetap berteman dengannya tapi aku tak ingin ada kontak fisik atau melihat kalian dalam keadaan berdua. Sekarang keluar, aku antar kau pulang."


" Lalu Jenny?"


" Aku antar dia dulu lalu kesini lagi untuk menjemputmu yang jelas kau tak boleh pulang dengan Shulan. Terserah kau mau beralasan apa."


Pandangan Be ong turun kearea sensitif Zen dan ia melihat ada luka lecet yang masih baru, mungkin karna perbuatannya barusan yang kasar.


" Kau bisa jalan?"


Zen keluar dari toilet dengan langkah tertatih tanpa memperdulikan pertanyaan Be ong. Tentu saja keadaan Zen membuat Shulan dan Jenny jadi heran.


" Zen kau kenapa?" tanya Shulan.


" Tak apa, tadi aku hanya terpeleset."


Shulan berdiri lalu menghampiri Zen untuk memapahnya, namun tangannya langsung ditepis Zen.


" Tak perlu Shulan, aku bisa berjalan sendiri. Oh ya kau duluan saja karna aku ada janji dengan seseorang."


" Lalu kau?"


" Tak apa, nanti aku akan pulang bersama temanku."


Be ong menggandeng tangan Jenny menuju pintu keluar restoran. Ia melirik Zen sekilas sambil memberikan jempolnya.


bersambung....