Zen Or Li Zen

Zen Or Li Zen
bab 25



Be ong menyakinkan Zen untuk pergi kuliah lagi tanpa harus khawatir akan adanya Shulan. Be ong ingin Zen tetap berkuliah sebelum perutnya terlihat membesar karna Be ong tak ingin melihat Zen yang hanya murung diapartemen.


Be ong memberikan kunci pada Zen sebelum ia kembali ke rumah.


" Ini kunci apa Ong?"


" Ini kunci motor untukmu karna aku tak ingin melihatmu naik bus atau kereta. Itu bisa membahayakan dirimu jika sampai berdesakan."


" Benarkah Ong? Kalau begitu aku sangat senang sekali," ucap Zen sambil tersenyum.


" Ayo kuperlihatkan motornya," ucap Be ong sambil menarik tangan Zen untuk keluar.


Setelah sampai dilantai dasar, Be ong langsung menunjukkan motor yang dibelinya. Zen dengan antusias mencoba naik keatas motor barunya.


" Ingat ya kau harus hati-hati. Jangan sampai ngebut!"


" Iya-iya, kau tahu kalau aku sudah lama ingin membeli motor tapi aku belum bisa mewujudkannya karna tabunganku belum cukup."


" Ya, anggap saja ini hadiah kehamilanmu."


Zen seketika langsung merubah ekspresi wajahnya begitu mendengar ucapan Be ong.


" Li zen, kau kenapa tiba-tiba jadi murung begitu?"


" Ehmmm....Ong, bagaimana jika orang tuamu dan Jenny tahu kalau aku mengandung anakmu?"


" Sudah kau jangan memikirkan hal itu atau lainnya. Kau hanya perlu memikirkan bayi kita yang kini ada diperutmu. Ya sudah aku pulang dulu."


****


Pagi harinya Zen sudah tiba di kampus. Ia berjalan menuju kelasnya setelah memarkirkan motornya. Di tengah koridor, tiba-tiba Zen berpapasan dengan Shulan yang tengah berjalan bersama Aryong.


Tampak Shulan yang merangkulkan tangannya dipundak Aryong.


" Pagi Zen, kau sudah sehat," tanya Aryong.


" Eh...iya, aku baik-baik saja," jawab Zen sambil melirik Shulan yang kini sedang memperhatikan tubuhnya dari atas sampai bawah.


Shulan yang melihat kepergian Zen pun langsung menyusulnya setelah bicara pada Aryong karna tak jadi mengantarnya ke kelas.


" Zen tunggu!" teriak Shulan yang menghentikan langkah Zen.


" Ada yang masih harus kita bicarakan Zen," ucap Shulan lalu mengajak Zen pergi keruang musik yang masih sepi.


" Kau ingin bicara apa Shulan?"


" Aku minta maaf karna waktu itu aku sudah mencoba berbuat kurang ajar padamu dan sekarang aku ingin penjelasanmu Zen."


Zen berdiri sambil menatap alat-alat musik dengan pandangan kosong. Zen menghembuskan nafasnya dengan panjang sebelum bicara.


" Dulu saat aku masih berada dipanti asuhan, ada seorang wanita yang menjadi pendonor tetap disana. Dia sangat baik padaku dan menganggap aku seperti anaknya hingga suatu saat dia mulai melakukan hal-hal tak senonoh padaku. Aku yang waktu itu masih kecil hanya bisa menurut karna aku begitu takut. Lama-lama aku jadi terbiasa dengan semua yang ia lakukan padaku hingga aku memutuskan pergi dari panti dan berpindah-pindah kota hingga aku menetap disini. Sejak itu aku menjadi suka sesama jenisku dan merubah penampilanku menjadi laki-laki karna wanita itu bilang kalau wajahku tampan dan lebih pas menjadi seorang laki-laki," jawab Zen menunduk sedih karna teringat akan pelecehan seksual yang ia alami selama 3 tahun.


Shulan hanya diam, tak menyangka jika Zen ternyata mempunyai masa lalu yang tragis hingga menderita kelainan.


Shulan mendekati Zen lalu memeluknya.


" Maafkan aku Zen. Aku sungguh minta maaf karna kejadian kemarin. Aku sudah menciummu dan hampir memperkosamu," ucap Shulan penuh sesal.


" Aku juga minta maaf Shulan karna sudah membohongimu."


Shulan melepas pelukannya dan menatap kearah perut Zen. Perlahan Shulan mengusap perut Zen yang masih datar.


" Zen, benarkah yang kau katakan jika kau hamil?"


" Ya."


" Siapa ayahnya Zen? Aku akan menghajarnya karna sudah menodaimu!" ucap Shulan dengan tangan terkepal.


" Tahan emosimu Shulan. Aku menerima kehadiran anak ini dalam perutku. Mungkin ini salah, tapi secara tidak langsung ia bisa mengobati kelainanku. Ya sudah aku duluan untuk menemui dosen."


bersambung....