Zen Or Li Zen

Zen Or Li Zen
bab 36



Zen memijat keningnya yang terasa pusing. Jujur saja ia juga sangat merindukan Be ong meskipun masih tersimpan rasa kecewa yang begitu besar dihatinya terhadap Be ong.


Bukannya ia tak mau memaafkan Be ong dan memberikannya kesempatan tapi kini ia juga memikirkan Jenny yang berstatus sebagai tunangan Be ong. Ia tak ingin membuat gadis itu sakit hati lagi dengan menjalin hubungan tersembunyi dengan Be ong.


Drrrtttt


Zen meraih ponselnya dan ternyata ada sebuah pesan dari Be ong.


Li zen, apa itu masih sakit? Nanti malam aku akan kerumahmu dan membawakan salep pereda nyeri.


Zen pun mengetik huruf dilayar ponselnya untuk membalas pesan Be ong.


Tak perlu kerumah.


Zen segera mematikan ponselnya karna ia tak ingin diganggu dulu.


" Zen kau kenapa? Kelihatannya kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Ji en yang tiba-tiba ada dihadapan Zen.


" Eh Kak Ji en. Aku baik-baik saja. Apa aku terlihat stres?"


" Sepertinya. Apa ada pekerjaan yang menyulitkanmu? Jika iya, katakan saja. Aku pasti membantumu."


" Terima kasih Kak tapi sejauh ini aku masih bisa mengatasinya. Apa Kak Ji en ada perlu denganku?"


" Iya. Aku kesini untuk memberimu kue. Semalam aku membuatnya jadi cobalah. Semoga rasanya enak."


Zen menerima kue itu lalu segera memakannya. Zen mengunyah kue itu dengan perlahan.


" Bagaimana Zen rasanya?"


" Ehm enak Kak. Selain cantik kau juga pandai membuat makanan." Puji Zen yang membuat wajah Ji en tersipu.


" Ahh kau bisa saja Zen. Oh ya panggil aku Ji en saja biar aku tak terkesan lebih tua."


" Baiklah, tapi menurutku wajahmu belum tua dan masih terlihat seumuran dengan teman-teman kuliahku."


" Ah Zen kau membuatku malu. Apa lagi kau juga sangat tampan Zen. Kau terlihat manis dan menggemaskan. Aku jadi ingin menggigit pipimu," ucap Ji en sambil mencolek pipi Zen yang terasa halus.


Zen pulang kerumahnya sekitar jam tujuh malam setelah tadi lembur kerja. Zen segera melepas seluruh pakaiannya dan mengambil handuk. Ia ingin segera mandi untuk menyegarkan badannya yang terasa lengket.


Setelah setengah jam melakukan ritualnya dikamar mandi, Zen segera keluar dengan tubuh yang segar. Ia segera mengambil pakaian tidur dari dalam lemarinya.


Belum sempat Zen memakai bajunya, tiba-tiba ada tangan kekar yang memeluk dadanya.


" Ong, apa yang kau lakukan disini?"


" Tadi aku sudah bilang ingin kesini kan. Ehm tubuhmu sangat harum Zen," ucap Be ong sambil menghirup aroma sabun yang masih melekat dibadan Zen.


" Pulanglah Ong, aku sangat lelah. Aku ingin segera istirahat."


" Kalau kau lelah biar aku yang memijit badanmu."


Zen diam dan memilih segera memakai bajunya namun langsung ditahan Be ong.


" Jangan dipakai dulu, aku masih merindukanmu," ucap Be ong dengan tangannya yang sudah mulai bergerilnya.


" Ong..."


" Jangan menolakku Li zen. Aku tahu kau sebenarnya juga merindukanku. Jangan membohongi dirimu sendiri Li zen."


Zen pasrah dan tak mampu menolak Be ong seperti tadi siang meskipun pada akhirnya ia tak bisa menahan Be ong.


Zen mulai membalas ciuman Be ong yang terasa hangat dan lembut hingga kini mereka sudah berada diatas ranjang.


" Aghh...Ong."


" Aku suka suaramu itu Li zen," ucap Be ong saat melakukan penyatuan.


Zen tak dapat lagi menahan desahannya saat Be ong sudah menguasai tubuhnya dengan kelihaian Be ong sebagai seorang laki-laki.


bersambung.....