Zen Or Li Zen

Zen Or Li Zen
bab 21



" Li zen bagaimana keadaanmu?" tanya Be ong cemas.


" Badanku sangat lemas Ong," jawab Zen dengan mata terpejam.


Be ong yang khawatir pun segera menghubungi dokter pribadi miliknya.


" Tenanglah, aku sudah menghubungi dokter. Sebentar lagi dia akan kemari. Kau sudah makan?"


Zen menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


" Huuhh....memangnya kenapa? Jika kau tidak makan nanti tubuhmu bisa semakin lemas!"


" Aku lapar tapi tidak ada makanan yang membuatku berselera."


" Memangnya kau mau makan apa?"


" Ehmmm....sederhana saja, aku hanya ingin sosis panggang dengan saus pedas."


" Baiklah nanti aku akan membelikannya. Kita tunggu dokternya datang dulu."


Dokter yang dipanggil Be ong pun akhirnya datang juga.


" Bagaimana keadaannya dok?"


Dokter itu tak segera menjawab tapi malah mengkerutkan keningnya.


" Dok, aku bertanya kenapa kau malah diam saja!" ucap Be ong kesal.


" Mm...maaf tuan. Setelah saya memeriksanya, saya tidak menemukan penyakit apa pun."


" Jadi Zen kenapa kalau tidak sakit?"


" Zen hamil," ucap sang dokter pelan namun membuat Be ong dan Zen sangat terkejut saat mendengarnya.


Zen bangkit dan menatap tajam kearah dokter yang memeriksanya.


" Aku hamil! Kau tidak salah memeriksa kan dok?" tanya Zen dengan wajah cemas.


" Jika nona kurang yakin nona bisa memeriksakannya ke dokter obgyn. Ehmm ini resep yang harus ditebus supaya kandungan nona kuat dan ada vitamin tambah darah juga."


Zen menerima resep tersebut dengan lemas. Bahkan ia sampai tak menjawab saat dokter itu berpamitan.


Zen dan Be ong saling bertatapan dengan saling diam dan perasaan tak menentu.


" Aku hamil Ong. Apa yang harus kulakukan?"


" Tenanglah, aku akan melindungimu. Dia anak kita."


" Tapi bagaimana jika semua orang tahu Ong? Mereka pasti akan membullyku!"


" Jangan cemaskan hal itu. Ingat saat ini kau sedang hamil. Yang aku tahu biasanya wanita hamil tidak boleh stres. Sekarang aku akan keluar untuk menebus obat juga untuk membeli sosis yang tadi kau inginkan."


****


Shulan merasa cemas karna beberapa hari ini Zen tidak masuk kuliah. Ia menjadi khawatir dengan keadaan Zen yang sedang sakit saat terakhir mereka bertemun. Tapi ia sendiri juga masih merasa bingung sekaligus marah karna ternyata selama ini Zen menyembunyikan identitas aslinya.


Bahkan ia tak menyangka jika Zen yang sebenarnya adalah seorang perempuan sempat menjalin hubungan kasih dengan Jenny.


Shulan mengacak rambutnya karna ia merasa bingung. Tanpa aba-aba, ia segera menuju tempat parkir. Ia menjalankan mobilnya menuju ke rumah Zen.


Shulan berdiri tepat didepan pintu kamar Zen. Dengan pelan ia mengetuk pintu itu hingga seseorang membukakan pintu untuknya.


" Shulan, kau kemari?"


" Eh iya, aku penasaran karna kau tidak masuk kuliah beberapa hari jadi aku datang kesini. Apa kau masih sakit?"


" Masuklah, aku sudah tak apa."


Shulan menatap Zen secara intens hingga membuat Zen merasa risih.


" Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa ada yang salah dengan wajahku? tanya Zen sambil menolehkan kepalanya.


Tanpa disangka, Shulan langsung menarik kepala Zen dan mencium bibir mungil Zen.


Zen yang kaget pun memberontak hingga Shulan melepaskan ciumannya.


" Shulan apa yang kau lakukan?" tanya Zen marah.


" Kenapa kau membohongi semua orang Zen?" Bentak Shulan.


" Bohong apa?"


" Kau seorang perempuan kan Zen! Kenapa kau harus menutupinya dan berbohon, bahkan padaku yang kau anggap teman dekatmu sendiri!"


Deg


bersambung.....