
Be Ong tersenyum puas saat melihat Zen meringkuk dilantai sambil memeluk kedua lututnya. Ia tak menyangka kalau tubuh yang selama ini ia anggap sebagai lelaki manis itu ternyata cukup memuaskan hasratnya.
Ia memunguti pakaiannya yang bercecer dilantai lalu memakainya dengan segera. Setelah selesai ia mengambil pakaian Zen lalu melemparkannya kearah Zen.
" Cepat pakai pakaianmu! Kau tidak ingin tidur disini kan?"
Dengan gemetar, Zen mengambil pakaiannya lalu memakainya kembali.
" Kau benar-benar brengsek Ong! Aku tidak akan pernah memaafkanmu!" ucap Zen dengan tangan mengepal.
Be Ong yang mendengarnya pun hanya tertawa dan menatap sinis kearah Zen.
" Kau mengataiku! Berkacalah pada dirimu sendiri! Jika Jenny tahu siapa kau sebenarnya pasti dia akan sangat jijik dan membencimu. Dan satu lagi, aku tidak butuh pemberian maaf darimu. Cepat sekarang berdiri, aku akan mengantarm kerumah sakit."
" Kau menghajarku dan sekarang kau mau mengobatiku? Kau sungguh lucu Ong."
" Aku baru saja mengetahui dirimu yang sebenarnya. Aku tidak mau menjadi banci karna menghajar seorang wanita!"
Zen pun akhirnya mengikuti keinginan Be Ong dan ternyata Be Ong membawanya ketempak dokter pribadi keluarganya.
" Bagaimana dokter Fang?"
" Untung saja pukulan yang diterimanya tidak sampai mengenai organ dalam jadi aman karna hanya luka luar. Ini salep dan obat pereda nyerinya."
" Terima kasih dokter Fang, kalau begitu aku akan mengantarnya pulang."
Be Ong pun memapah Zen hingga masuk kedalam rumahnya. Ong memperhatikan rumah sewa Zen yang begitu kecil untuk ukurannya.
Ong menidurkan Zen yang masih lemah diatas kasur.
" Kau istirahatlah tapi jangan berpikir setelah ini kau bisa lepas dariku."
" Kau jangan memberitahukan hal ini pada siapapun. Aku belum siap," ucap Zen lemah.
" Aku akan menjaga rahasiamu untuk saat ini, tapi ingat kau harus menuruti semua perintahku dan perintah pertamaku adalah kau harus memutuskan Jenny dengan segera."
Beberapa hari kemudian, Zen kembali berangkat kekampus. Luka diwajahnya sudah mengering meskipun masih terlihat bekasnya. Sebelum memasuki kelas, Zen berniat untuk menemui Jenny dulu.
" Jen, aku ingin bicara."
Jenny menoleh kearah Zen dan begitu kaget saat melihat wajah mulus Zen terlihat ada bekas luka.
" Zen, kau kenapa? Kenapa bisa seperti ini?" tanya Jenny khawatir.
" Aku tak apa. Ini hanya luka kecil, aku tak sengaja terserempet motor," jawab Zen bohong.
" Sudahlah Jen, aku kesini karna ada hal penting yang ingin kusampaikan."
" Hal penting apa Zen? Kau jangan membuatku takut."
" Aku....aku ingin kita mengakhiri hubungan Jen dan aku sangat minta maaf padamu untuk hal ini."
Jenny melepas genggaman tangannya dan melangkah mundur.
" Kau ingin kita putus Zen? Tapi kenapa?" teriak Jenny marah.
Zen hanya membuang pandangannya karna bingung harus memberikan alasan yang tepat untuk Jenny. Sekilas Zen melihat Aryong yang sedang melintas dan ia segera memanggil gadis itu.
" Aryong," panggil Zen.
Aryong yang merasa dipanggil Zen pun segera menghampirinya.
" Kau memanggilku kenapa Zen?"
Zen segera menarik tangan Aryong dan membawa Aryong kepangkuaannya.
" Apa maksudnya ini Zen? " tanya Jenny.
" Maafkan aku Jen tapi aku mencintai Aryong."
Plak
Sebuah tamparan dari tangan Jenny mendarat dipipi kanan Zen.
" Kau jahat Zen! Ku pikir kau mencintaiku dan berbeda dengan lelaki lainnya. Aku sungguh kecewa padamu Zen!" teriak Jenny kemudian pergi.
Aryong yang masih belum paham dengan apa yang terjadi segera bangkit dari pangkuan Zen.
" Sebenarnya ada apa Zen?"
" Maaf Aryong aku melibatkanmu tanpa seijinmu."
" Maksudmu?"
" Aku ingin memutuskan Jenny dan aku tanpa sengaja menjadikanmu sebagai alasan. Sekali lagi aku minta maaf."
Aryong yang sudah paham dengan situasinya pun segera pergi tanpa berpamitan.
bersambung.....