Zen Or Li Zen

Zen Or Li Zen
bab 16



Be ong segera menyusul keberadaan Zen lewat petunjuk yang sudah ia dapatkan. Perjalanannya cukup memakan waktu karna ia sedang bepergian dengan Jenny.


" Be ong kenapa kau terlihat terburu-buru? Bahkan belum ada setengah jam kita sampai disini."


" Maaf Jenny, tapi ada hal darurat yang terjadi dengan temanku. Minggu depan kita pergi jalan lagi. Aku janji."


" Iya tak apa tapi menyetirnya jangan mengebut nanti bahaya."


" Iya, terima kasih sudah mengingatkan aku."


Setelah mengantar Jenny pulang, Be ong segera menyusul Zen. Ia pun sampai disebuah gedung serba guna yang tampak ramai dan penuh mobil.


" Permisi tuan, disini ada acara apa?"


" Disini sedang diadakan pesta pernikahan tuan Shuin dan nona Ana."


" Terima kasih tuan atas informasinya."


Memangnya Zen menghadiri pernikahan siapa? Dia sama sekali tidak bilang padaku.


Be ong segera masuk kedalam gedung dan mencari keberadaan Zen. Ia berkeliling sambil memperhatikan para tamu yang berada didalam gedung pernikahan itu.


Bukankah itu Shulan? Jangan-jangan Li zen pergi dengannya. Padahal aku sudah memperingatkan dia untuk tidak berdua dengan Shulan. Tapi tunggu, dimana Li zen? Kenapa dia tidak ada?


Pandangan Be ong kembali berputar hingga ia kembali memperhatikan Shulan dan ia begitu kaget saat melihat wanita yang berada disamping Shulan menolehkan kepalanya.


" Li zen," ucap Be ong lirih dan hampir tak percaya dengan keadaan Li zen.


Be ong mencari kesempatan agar bisa mendekati Li zen tanpa sepengetahuan Shulan hingga ia mendapatkan kesempatan saat melihat Shulan yang naik kepelaminan untuk berfoto.


" Ikut aku sekarang!" bisik Be ong yang membuat Zen kaget.


" Kau....kau ada disini?"


" Cepat ikut aku dan tinggalkan tempat ini atau aku akan melepas wigmu sekarang juga!"


Zen pun terpaksa mengikuti Be ong meninggalkan gedung dan masuk kedalam mobilnya.


Be ong segera menyalakan mobilnya dan melajukan mobilnya menjauhi tempat tersebut. Tak lama ia menghentikan mobilnya ditepi jalan yang cukup sepi.


" Jelaskan padaku, Apa maksudmu berpenampilan seperti ini?" tanya Be ong marah.


" Aku hanya membantu Shulan untuk menghadiri pernikahan sepupunya dan aku berpura-pura jadi kekasihnya untuk menyelamatkan dia agar tidak kalah taruhan."


" Dan kau melakukannya tanpa seijinku dan tak memberitahu aku apa pun!"


" Ini urusanku dengan Shulan dan tidak ada hubungannya sama sekali denganmu!"


" Lihat penyumpal dadamu ini! Sungguh menggelikan. Sekarang lepas semua bajumu dan pakailah bajuku dan jangan lupa untuk membersihkan wajahmu."


Zen menurut dan mulai melepas gaun yang melekat ditubuhnya lalu berganti pakaian milik Be ong.


Be ong memesan satu kamar dan mulai mengajak Zen istirahat.


" Kau tahu, aku tidak rela saat melihat para pria yang memperhatikan kecantikanmu!"


" Tak usah dibahas lagi, aku lelah. Aku akan menghubungi Shulan agar dia tidak bingung mencariku."


" Jangan terlalu dekat dengannya, aku cemburu."


" Mana mungkin kau cemburu? Kau kan tidak menyukaiku. Lagi pula kita tidak ada ikatan."


" Kau adalah kekasih gelapku jadi jangan coba dekat dengan pria lain."


" Memangnya kau yakin kalau aku sudah sembuh dan menjadi wanita normal?"


" Jika belum pun, aku akan terus membuatmu normal."


" Dan ingat kau sudah mempunyai Jenny dan aku tidak mau menjadi selingkuhanmu."


" Sudahlah kita bercinta saja karna kita harus sering melakukannya untuk terapimu. Oh ya kau pakai wigmu lagi. Aku sangat ingin membelai rambutmu disaat kita sedang ciuman."


Zen menuruti keinginan Be ong dan Be ong pun langsung melahap bibirnya.


" Li zen."


" Ehmm..."


" Benda kenyalmu sungguh menggemaskan."


" Ahhh Ong jangan mengotori dadaku dengan liurmu!"


Be ong tak mempedulikan perkataan Zen dan terus melahap dada mungil Zen.


Bless


Be ong memasukkan senjatanya dan mulai menggerakkan tubuhnya. Kali ini ia akan mengeluarkan cairannya didalam.


" Li zen."


" Hemmm."


" Apakah enak?"


" Aku tidak tahu. Kau lihatnya bagaimana?"


" Yah aku senang dengan ekspresi wajahmu saat kita melakukannya."


Asal kau tahu Li zen, meskipun aku terlihat nakal tapi kaulah orang yang berhasil melepas keperjakaanku.


bersambung.....