
Malam itu Be ong menemani Jenny pergi ke mall untuk mencari gaun. Jenny membawa Be ong masuk kesalah satu toko yang menjadi langganannya.
" Hai Ain, kau sudah siapkan gaun yang kuminta kemarin?"
" Hai Jen, selamat malam. Aku sudah siapkan beberapa gaun untuk kau pilih. Hemm, apa dia pacarmu?"
" Aku sampai lupa. Perkenalkan dia Be ong, pacar sekaligus yang akan menjadi tunanganku," ucap Jenny memperkenalkan.
" Wah selamat ya untuk kalian berdua. Kalau begitu silahkan ke kamar pas, aku sudah siapkan beberapa gaun disana."
Jenny menggandeng tangan Be ong menuju ruang pas. Matanya berbinar melihat beberapa gaun yang sudah disiapkan Ain.
" Be ong, menurutmu mana yang paling bagus untukku?"
Be ong berpikir sambil bersedekap lalu ia memilih gaun warna biru muda yang terlihat tak terlalu glamor namun elegan.
" Kurasa ini bagus untukmu. Cobalah."
Jenny mengambil gaun yang diberikan Be ong lalu mencobanya. Setelah pas, Jenny keluar dan memperlihatkannya pada Be ong.
" Bagaimana Ong?" tanya Jenny sambil memutar tubuhnya.
" Sangat pas untukmu Jen dan kau terlihat semakin cantik dengan gaun ini."
" Aku juga suka dengan pilihanmu Ong. Lalu bagaimana dengan bajumu?"
" Ibu sudah menyiapkannya untukku. Kalau sudah selesai kita pergi ya. Aku sudah lapar."
Setelah selesai, Jenny dan Be ong segera pergi menuju restoran.
Be ong duduk dihadapan Jenny setelah menarikkan kursi untuknya.
" Terima kasih Ong, kau romantis sekali."
" Iya, ehmm Jen boleh aku tahu kenapa kau menerima pertunangan yang diajukan ibuku?"
" Ya karna ibuku setuju makanya aku juga setuju. Lagi pula menurutku itu tidak buruk karna aku ingin menjalin hubungan dengan ikatan yang jelas."
" Jadi kau merasa ini tidak terlalu cepat untuk kita Jen?"
" Tidak, aku senang saja. Kenapa Ong? Sepertinya kau keberatan dengan rencana pertunangan kita?"
" Ah tidak, aku juga setuju saja. Aku hanya takut jika kau terpaksa mengingat hubungan kita yang baru sebentar. Boleh aku tahu kenapa kau dulu putus dengan Zen?"
Raut wajah Jenny tiba-tiba menjadi sedih.
" Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja dia memutuskanku dan mengaku kalau mencintai Aryong. Dan ternyata selama ini dia sudah membohongiku tentang Aryong. Aku sungguh sakit hati. Ong, bisakah kita tidak menbicarakannya?"
" Maaf Jen, aku hanya memastikan kalau kau benar-benar sudah menerimaku didalam hatimu sebelum kita lebih jauh. Ya sudah ayo makan lalu pulang."
****
" Zen, kenapa kau belum tidur?"
" Aku belum mengantuk. Kau kenapa jam segini juga belum tidur dan malah kelayapan kesini?"
" Kau jangan tidur terlalu larut. Kasihan bayi kita yang masih diperutmu!"
" Aku sudah menyelimuti perutku jadi jangan berlebihan. Kau tadi baru pulang pergi bersama Jenny ya?"
" Ehmm iya, dia memintaku menemaninya mencari baju. Sudah ayo tidur, ini sudah larut. Aku akan menidurkanmu."
Be ong naik keranjang lalu menarik selimut untuk menutupi. Be ong mematikan lampu lalu tangannya memeluk Zen.
Perlahan tangan Zen menelusup kedalam rok hamil yang dipakai Zen.
" Ong tadi kau mengajakku tidur tapi kenapa kau malah bertingkah?"
" Tadi rokmu tersingkap, aku hanya ingin membetulkannya."
" Ya sudah kalau begitu segera singkirkan tanganmu!"
" Ehmm Li zen."
" Kenapa?"
" Kau tidak bisa tidur mungkin karna bayi kita merindukanku. Kalau begitu aku akan menengoknya."
" Aku tidak mau!"
" Sebentar saja Li zen. Lagi pula aku akan berhati-hati, aku tidak mungkin membahayakannya."
Be ong sudah berhasil meloloskan rok hamil yang dipakai Li zen. Be ong membuat milik Zen basah hingga siap untuk dimasuki.
" Ong, pelan-pelan. Ini sangat rentan."
" Iya, aku akan sangat pelan. Aku rasa bayi kita sangat senang karna kutengok. Lihatlah kau sangat menikmatinya?" Goda Be ong.
Plak
Zen memukul pantat Be ong yang sedang bergerak hingga memerah.
" Kenapa kau memukulku? Kau ini mengurangi rasa nikmat saja!"
" Bukan aku yang menikmati tapi kau yang selalu saja tak bisa menahan!"
Be ong pun membalas dengan menggelitiki benda kenyal milik Zen.
" Ahhh Ong, hentikan. Ini menggelikan."
bersambung....