
Zen memilih tempat yang lebih sepi untuk menenangkan diri. Entah mengapa dirinya merasa tak senang saat melihat Be ong berdansa dengan Jenny.
" Zen ternyata kau disini. Dari tadi aku mencarimu!" ucap Shulan.
" Didalam berisik sekali makanya aku menyepi disini."
" Ayo masuk, acara intinya akan dimulai."
Zen akhirnya mengikuti Shulan masuk kedalam lagi. Be ong sudah berdiri diatas panggung dengan kue ultah ukuran besar yang berada dihadapannya.
Seorang pembawa acara segera meminta Be ong untuk memotong kue dan memberikannya pada orang-orang spesial.
Be ong memberikan potongan kuenya pada kedua orang tuanya dan yang ketiga untuk Jenny. Semua para tamu undangan langsung memberikan tepuk tangan untuk Be ong.
Zen kembali keluar dari ballroom dan menuju mini bar.
" Zen, sedang apa kau disini?" tanya Aryong yang tiba-tiba muncul.
" Aku hanya sedang minum sedikit saja. Kau sendiri kenapa disini?"
" Didalam sedang acara pidato sambutan makanya aku kesini. Kau belum memberikan kadomu?"
" Belum sempat. Aku ketoilet dulu."
Kenapa Zen sikapnya biasa saja setelah kejadian ciuman itu. Apakah itu artinya hal itu tidak berarti apa pun baginya? Batin Aryong merasa sedih.
Zen membersihkan mulutnya agar tidak terlalu bau minuman. Tiba-tiba ada yang menarik tangan Zen dari pintu toilet sebelah.
" Ong! Lagi-lagi kau mengunciku dikamar mandi. Kenapa kau malah disini?"
" Dari tadi kau menghilang terus dan kau juga tidak mengucapkan apa pun padaku."
" Aku bosan dengan acara ini makanya aku pergi-pergi."
" Tapi bukan berarti kau mengabaikanku kan?" Kau juga tak memberiku kado?"
" Ini kadomu. Sudah lepaskan aku, aku mau keluar."
" Tidak boleh, kau tak boleh pulang! Tunggu aku dikamar 46. Aku sudah memesannya dan sebentar lagi aku akan kesana. Terima kasih untuk kadonya."
Cup
Be ong mengecup bibir Zen sekilas sebelum pergi.
Zen keluar lalu menuju kamar yang ditunjukkan Be ong. Tak lama Be ong pun masuk kekamar.
" Kenapa kau menyuruhku kemari? Bagaimana jika orang tuamu dan Jenny mencarimu?"
" Aku bilang pada mereka kalau aku sedikit pusing dan ingin beristirahat. Ini kado darimu tadi ya? Aku buka ya?"
" Kenapa?"
" Kalau kau tidak suka, kembalikan padaku dan jangan tertawa."
" Apa pun isinya aku akan menerimanya kecuali kau memberiku bom!"
Be ong segera membuka bingkisan kotak dari Zen.
" Kue kering?"
" Menggelikan ya? Sudah jangan kau tatap terus jika geli."
Be ong memakan kue kering tanpa memperdulikan perkataan Zen sedangkan Zen menatap ekspresi Be ong.
" Kau buat sendiri?"
" Hemm...aku tidak tahu harus memberimu apa karna aku yakin kau sudah punya semuanya."
Cup
" Terima kasih Li zen, kau sudah mau bersusah payah membuat ini untukku. Akan kusimpan kue ini sebagai camilanku dirumah. Ayo tidur aku sudah lelah."
" Masak aku harus pakai jas ini untuk tidur?"
" Tenang, aku sudah membawa 2 stel piyama dari rumah."
Zen naik keatas ranjang sambil memainkan ponselnya.
" Kau menghubungi siapa?"
" Aku bilang pada Shulan kalau aku pulang duluan."
" Oh begitu. Li zen, aku ingin hadiah ulang tahun lagi darimu."
" Ha! Memangnya kau ingin minta apa lagi?"
" Aku ingin berdansa denganmu."
" Aku tidak bisa berdansa lagi pula kau tadi sudah berdansa dengan Jenny!"
" Tidak bisa ya? Kalau begitu kita berdansa diatas ranjang saja, kau pasti bisa kan!"
" Ong!" Teriak Zen saat Be ong sudah mendorong tubuhnya hingga terlentang.
bersambung....