
Zen merasa seluruh badannya lunglai karena perbuatan Be ong semalam. Ia melirik kearah Be ong yang masih memejamkan matanya bahkan terdengar dengkuran halus dari mulutnya.
Zen melepas tangan Be ong yang memeluk pinggangnya namun Be ong langsung menggeliat.
" Disini dulu Zen," ucap Be ong dengan mata terpejam.
" Aku ingin mandi Ong, badanku rasanya lengket semua."
Dengan sigap Be ong langsung menggerakkan tubuhnya untuk menindih Zen.
" Aku ingin olahraga pagi."
Belum juga menjawab, wajah Zen sudah dihadiahi kecupan bertubi-tubi dari bibir Be ong. Zen merasa ada yang perlahan masuk keorgan intinya.
" Ahhh...Ong, rasanya nyilu sekali," rintih Zen.
" Tenanglah, aku tidak akan kasar seperti semalam."
Pagi itu, Be ong benar-benar melakukannya dengan lembut karna takut jika bagian inti Zen lecet lagi.
Selesai melakukan aktifitas panas, mereka pun segera membersihkan diri lalu pulang.
****
Shulan memasang wajah masamnya didepan Zen. Ia merasa kesal sekali karna tiba-tiba Zen menghilang dan pergi begitu saja meninggalkannya.
" Shulan jangan marah lagi. Aku minta maaf sekali."
" Kau itu menyebalkan sekali Zen! Aku begitu panik saat kau menghilang dan satu jam setelahnya kau baru mengabariku!"
" Aku minta maaf sekali lagi Shulan. Aku pergi dulu."
Zen meninggalkan Shulan yang masih kesal kepadanya. Ia menuju ruang kesehatan karna merasa begitu letih juga sedikit tak enak badan.
Zen masuk ke ruang kesehatan lalu merebahkan dirinya.
Ceklek
Zen kaget saat ada yang membuka pintu dan itu adalah Aryong.
" Zen, kenapa kau ada disini? Kau sakit?"
" Aku hanya sedikit tidak enak badan saja."
Aryong yang khawatir pun segera menghampiri Zen. Ia mengambil vitamin dikotak obat lalu memberikannya pada Zen.
Zen langsung meminum tablet vitamin yang diberikan Aryong.
Lama mereka terdiam dan saling menatap hingga keluar ucapan dari bibir Aryong.
" Aku masih menyukaimu Zen meski kau menolakku."
Zen merasa sedih karna telah melukai gadis sebaik Aryong. Perlahan ia menarik kepala Aryong hingga mereka begitu dekat.
Dengan tanpa sungkan, Aryong mencium bibir Zen hingga terjadilah ciuman singkat diantara mereka.
" Maaf Aryong, aku..."
" Tak apa Zen, ini bukan salahmu. Aku yang menciummu terlebih dahulu," ucap Aryong lalu kabur karna merasa malu.
Sebenarnya seksualitasku yang mana? Aku sekarang begitu menikmati sentuhan Be ong meskipun awalnya aku marah tapi tadi saat Aryong menciumku, aku merasa geli. Batin Zen.
Be ong menarik tangan Zen dan membawanya ketempat sepi saat melihat Zen berjalan sendirian di koridor.
" Ong, kau mau membawaku kemana?"
" Kenapa wajahmu pucat sekali?"
" Kau yang menyebabkan aku seperti ini dan sekarang kau bertanya kenapa?"
" Semalam aku tidak bisa menahan diri untuk tidak terus menyentuhmu. Oh ya ini undangan pesta ulang tahunku. Kau harus datang."
" Undanganmu mewah sekali."
" Tentu saja dan ini pesta formal jadi pakailah setelan jas."
" Aku tidak punya."
" Aku tahu, besok akan aku kirim bajunya kerumahmu. Ya sudah aku pergi dulu."
Cup
Be ong mencium bibir Zen sekilas sebelum pergi.
" Ong, kau jangan sembarangan! Bagaimana jika ada yang melihat kita!"
" Kalau begitu jika pergi ke kampus pakailah bibir jelek jadi mungkin aku tidak menciummu. Dah..."
Zen pun membuka undangan ekslusif tersebut dan mulai membacanya.
Aku harus memberi kado apa untuk dia sedangkan dia sudah punya segalanya.
bersambung.....