Zen Or Li Zen

Zen Or Li Zen
bab 33



" Selamat siang. Kau karyawan baru ya? Kenalkan namaku Ji en," ucap seorang wanita sambil membungkukkan badannya.


" Siang juga Nona. Aku karyawan part time disini. Perkenalkan namaku Zen," ucap Zen sambil melakukan hal yang sama.


" Wah kau sangat tampan ya dan bibirmu itu berwarna merah seperti memakai lipstik."


" Ehm trima kasih Nona. Anda juga sangat cantik. Ini memang seperti ini, aku tidak memakai pewarna bibir."


" Ah aku hanya bercanda. Oh ya jika kau butuh bantuan bilang saja padaku." Bisik wanita itu ditelinga Zen.


" Hem...hemm." Tiba-tiba suara deheman Da eng membuat suasana yang tadinya cair menjadi tegang.


" Apa yang kau lakukan padanya? Jangan menganggu karyawan baru dan kerjakan pekerjaanmu sendiri!"


" Eh iya Tuan. Saya minta maaf," ucap Ji en sambil berlalu pergi.


Da eng mendekati Zen yang sudah kembali beraktifitas dengan komputernya. Da eng memperhatikan warna bibir Zen yang memang sedikit merah.


" Apa benar kata karyawanku tadi jika kau memakai lipstik?" tanya Da eng sambil meraba bibir Zen.


Plak


Zen memukul tangan Da eng yang menyentuh bibirnya.


" Kau ini kenapa sih? Jagalah wibawamu!"


" Kau itu yang kenapa? Kau berani bermain kasar dengan bosmu sendiri," ucap Da eng merasa tak berdosa.


" Baik pak bos. Aku ini sedang bekerja jadi tolong jangan mengangguku!"


" Itu hakku mau menganggu siapa pun. Ini kan perusahaanku. Oh ya kau belum jawab pertanyaanku tadi."


" Aku tidak memakai pewarna bibir! Memang warnanya seperti ini. Aku sudah menjawab pertanyaanmu jadi biarkan aku kembali bekerja."


" Benarkah? Pasti kemarin-kemarin aku tidak memperhatikannya. Aku jadi ingin mencobanya, bolehkah?"


Bughh


Zen yang kesal pun langsung meninju lengan Da eng hingga meringis.


" Auww sakit Zen. Tenagamu besar juga," ucap Da eng sambil mengusap lengannya.


****


Be ong duduk didepan kuburan anaknya. Ia mengelusnya sambil memikirkan sesuatu.


" Nak, apa kau masih marah pada ayah? Ibumu masih marah pada ayah. Dia membenci ayah. Ayah tidak sanggup. Ini semua salah ayah. Ayah akan terus berjuang hingga bisa mendapatkan hati ibumu kembali."


Sudah beberapa hari ini Be ong tidak masuk kuliah. Ia sama sekali tak ada semangat untuk melakukan aktifitas apa pun. Bahkan ia membiarkan perutnya kosong tanpa asupan gizi yang masuk kedalam perutnya.


Ia hanya tiduran sambil memeluk guling yang ia anggap sebagai Li zen yang sedang menemani tidurnya.


Ting tong


Suara bel berkali-kali membuat Be ong terpaksa bangkit untuk membukakan pintu.


" Li zen," ucap Be ong yang kaget melihat Li zen berdiri dipintu apartemennya.


Be ong menarik Li zen masuk lalu memeluknya erat.


" Li zen akhirnya kau datang. Aku sangat merindukanmu."


Be ong memeluk Zen makin erat sambil mengusap punggunggnya.


" Lepaskan aku Ong. Aku tak bisa bernafas."


Be ong melepas pelukannya lalu menggandeng tangan Zen dan mengajaknya duduk disofa.


" Shulan bilang padaku jika kau tak kuliah beberapa hari jadi aku kesini untuk menjengukmu."


" Kau masih peduli padaku Li zen. Aku senang kau mengunjungiku."


Zen menatap wajah Be ong yang pucat dan matanya yang berwarna putih. Zen memegang dahi Be ong yang terasa hangat.


" Wajahmu pucat sekali. Kau sudah minum obat?"


" Aku tidak perlu meminum obat. Kau datang kesini itu sudah cukup membuatku semangat. Aku benar-benar merindukanmu Li zen."


Zen memalingkan wajahnya dari tatapan Be ong.


" Ehm kau sudah makan? Jika belum aku akan memesan makanan untuk kita berdua," ucap Be ong.


" Aku belum makan."


Be ong lalu mengambil ponselnya dan mulai memesan makanan. Tak berapa lama seorang petugas datang membawa pizza.


Zen menata pizza itu dipiring lalu membawanya kekamar karna Be ong ingin makan dikamar.


" Tolong suapi aku Li zen."


Zen pun menuruti keinginan Be ong lalu menyuapkan potongan pizza kemulutnya.


bersambung....