Zen Or Li Zen

Zen Or Li Zen
bab 8



Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, tapi Zen belum juga memejamkan matanya. Ia bingung harus bagaimana, hidupnya sudah tak sama sejak bertemu Be Ong sore itu.


Drttttt


Zen segera meraih ponselnya yang berdering diatas meja. Tampak nama Shulan terpampang diponselnya.


" Halo Shulan, ada apa?"


" Kau sedang apa Zen? Cepatlah kemari!"


" Ini sudah malam, tentu saja aku sedang tidur. Kau dimana? Kenapa suaranya bising sekali?"


" Aku sedang di klub. Cepatlah kemari, aku melihat pacarmu sedang mabuk dimeja bar."


" Maksudmu Jenny mabuk?"


" Tentu saja Jenny, memangnya siapa lagi pacarmu kalau bukan dia!"


Zen bangkit lalu mengenakan celana kargo dan jaket hodinya. Ia segera menuju tempat yang sudah diberitahukan Shulan.


Zen masuk klub, matanya mengedar mencari keberadaan Jenny. Zen mendekati Jenny saat melihat mantannya itu duduk dimeja bar sambil menegak minuman.


Zen menahan tangan Jenny yang ingin kembali menegak minuman itu. Jenny yang merasa terusik langsung menatap Zen dengan tajam.


" Hentikan Jen! Ayo kita pulang, aku akan mengantarmu."


Jenny mengibaskan tangan Zen dengan kasar dan kembali duduk.


" Jenny...."


" Diam kau! Untuk apa kau disini? Kita sudah putus jadi jangan mencampuri urusanku."


Zen menatap sedih kearah Jenny yang terluka karena keputusannya.


" Jenn, maafkan aku. Aku bukanlah sumber kebahagiaanmu. Ku mohon pulanglah, aku tidak ingin melihat kau seperti ini."


" Cuih....aku tidak perlu mendengarkan pengkhianat sepertimu. Cepat pergi dariku!"


Zen yang tak ingin bicara panjang lebar lagi langsung menggendong Jenny menuju mobilnya. Zen terlihat kuwalahan karna berat tubuh Jenny, apalagi gerakannya yang memberontak membuat Zen harus mengeluarkan tenaga ekstra hingga ia terengah-engah.


Zen mengemudikan mobil Jenny dan membawa Jenny pulang keapartemen. Zen yang sudah lelah terpaksa meminta petugas keamanan apartemen untuk menggendong Jenny hingga naik keapartemen.


Zen memandang wajah Jenny yang sudah tidur diatas ranjang.


" Aku menyayangimu Jen, tapi kita tak bisa bersama. Harusnya aku sadar itu dari awal. Aku tidak ingin membuatmu lebih kecewa lagi."


Zen menarik selimut hingga sebatas leher Jenny. Ia segera keluar dari apartemen Jenny. Karena kereta cepat sudah tutup, Zen terpaksa berjalan kaki menuju rumahnya.


Tin tin tin


Tiba-tiba suara mobil menghentikan langkah Zen yang sedang berjalan sendirian. Zen menatap kearah mobil dan saat kaca mobil itu diturunkan muncullah wajah yang sangat ia benci.


" Ayo naik!" ucap Be Ong tegas.


" Kita mau kemana Ong?"


" Aku akan membawamu kesuatu tempat. Tadi sebenarnya aku ingin mengunjungi Jenny tapi malah bertemu denganmu. Apa yang baru saja kau lakukan padanya?"


" Aku hanya mengantarnya pulang karna Shulan memberitahuku kalau Jenny mabuk."


" Aku tidak menyangka kalau dia akan sefrustasi itu denganmu tapi tenang saja sebentar lagi aku akan datang padanya dan mengobati lukanya."


Mobil yang dikemudikan Be Ong sudah sampai dikawasan apartemen elite. Memang Be Ong merupakan anak dari keluarga salah satu pengusaha kaya dikotanya. Tak heran jika ia tinggal ditempat seperti ini, mengendarai supercar saat ke kampus dan baju brand ternama yang selalu melekat ditubuhnya.


" Kau....untuk apa membawaku kemari?"


" Bukankah aku sudah bilang kau harus selalu menuruti keinginanku."


Tanpa bertanya lagi, Zen mengikuti Be Ong dari belakang sampai mereka tiba dikamar Be Ong yang isinya begitu mewah.


Be Ong melemparkan gaun dan sebuah wig untuk Zen.


" Pakai itu sekarang karna aku tak ingin saat kita bercinta kau seperti laki-laki," ucap Be Ong santai.


" Maksudmu kau ingin mengulanginya lagi? Jangan harap karna aku tak sudi!" jawab Zen geram.


" Kau tak punya pilihan lain jadi menurutlah."


Setelah Be Ong keluar, Zen segera mengganti pakainnya dan memakai wig. Zen menatap dirinya dicermin dengan perasaan aneh.


Tak lama Be Ong pun masuk dan cukup terkejut dengan penampilan ala perempuan Zen. Be Ong mengitari tubuh Zen dan memperhatikan tiap jengkal penampilan Zen.


" Kau sangat cantik bahkan lebih cantik dari Jenny tapi sayang kau tak normal!"


" Jangan meledekku! Kau tak tahu apa-apa!"


" Baiklah, saatnya kita bermain."


Be Ong melepaskan baju dan celananya sambil terus menatap Zen. Ia mendekati Zen dan membelai rambut palsunya. Tangannya bergerak melepas gaun yang baru saja Zen kenakan.


Perlahan bibir Be Ong merapat ke wajah Zen dan membisikkan sesuatu ketelinga Zen.


" Mulai hari ini aku akan memanggilmu Li Zen Asaeka."


Zen yang terkejut pun langsung mengambil jarak dan menatap heran kearah Be Ong.


" Aku tahu identitas aslimu, jadi jangan macam-macam denganku. Ayo lanjutkan dan perintahku saat ini adalah balas setiap sentuhanku."


Be Ong kembali memeluk Zen hingga kini mereka berdua sudah berada diatas ranjang. Zen masih merasakan sakit saat Be Ong memasukkan miliknya.


" Ong....jangan kasar. Ini masih sakit rasanya."


Be Ong seperti tak memperdulikan permintaan Zen dan terus berada diatas tubuh Zen dengan gerakan sangarnya.


bersambung.....