Zen Or Li Zen

Zen Or Li Zen
bab 24



Be ong menemui ibunya yang sedang berada di ruang keluarga. Ia mendudukkan dirinya dihadapan ibunya yang sedang menyulam.


" Selamat malam Ibu. Tadi pelayan bilang kalau Ibu ingin bicara padaku," tanya Be ong.


" Selamat malam juga. Iya, ada hal penting yang ingin Ibu bicarakan padamu."


" Tentang apa Bu?" tanya Be ong mulai penasaran.


" Ini tentang kelanjutan hubunganmu dengan Jenny. Ibu rasa kau dan Jenny harus segera bertunangan."


" Apa Bu! Tapi aku dan Jenny belum ingin melangkah lebih jauh Bu. Apalagi kami masih kuliah dan masih terlalu muda untuk menikah!"


" Ibu tidak memintamu untuk cepat menikahinya. Ibu hanya memintamu untuk bertunangan dengannya sebagai pengikat agar tidak ada satu orang pun yang menganggu hubungan kalian."


" Apa ayah yang memintanya Bu?"


" Hem, ini kesepakatan ayah dan ibu. Kau tahu hubungan kalian akan memperkuat kerja sama perusahaan kita dengan perusahaan keluarga Jenny yang bergerak dibidang fast food."


Be ong tak menjawab pernyataan ibunya dan memilih beranjak dari kursinya.


" Be ong, kau menyukai Jenny kan? Dia gadis yang pintar dan cantik. Dia sangat cocok berdampingan denganmu."


****


Be ong memilih pergi ke apartemen Zen untuk menenangkan pikirannya. Ia sungguh tak menyangka jika orang tuanya menyuruh dirinya dan Jenny untuk segera bertunangan.


Jenny memang gadis yang sempurna. Baik, pintar dan cantik. Bahkan dirinya dulu begitu tergila-gila dengan Jenny. Tapi entah kenapa setelah ia berhasil berpacaran dengan Jenny, ia merasa perasaannya tak sekuat dulu.


Be ong masuk dan mendapati Zen yang sedang berdiri dibalkon sambil menikmati pemandangan perkotaan.


Be ong memeluk Zen dari belakang sambil menyenderkan dagunya dipundak Zen.


" Ong, kau mengagetkanku saja!"


" Lagi pula siapa yang menyuruhmu melamun disini?"


" Aku hanya bingung karna tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku bosan Ong. Sampai kapan aku harus mengurung diri disini dan tak melakukan aktifitas apa pun," ucap Zen frustasi.


" Kenapa kau malah tersenyum begitu?"


" Kau terlihat semakin seksi dengan pipimu yang lebih berisi. Apalagi dengan memakai rok hamil ini kau terlihat makin cantik," ucap Be ong sambil mengamati Zen dari atas sampai bawah.


" Aku sedang tidak butuh rayuanmu Ong. Aku butuh kebebasan diluar sana tapi itu tidak mungkin."


Be ong menarik Zen kedalam pelukannya sambil mengusap punggung Zen.


" Lalu apa yang ingin kau lakukan sekarang?"


" Aku ingin pergi dimana tak ada orang yang tahu tentangku dan setelah bayi ini lahir, aku akan kembali kesini. Tapi aku juga tak bisa merawat bayi ini sendirian."


" Ini bayi kita Li zen, aku juga akan merawatnya. Setelah bayi kita lahir, apa kau mau menikah diam-diam denganku?"


" Kau...kau mau kita menikah?"


" Iya, tapi mungkin aku tak bisa mengumumkan pernikahan kita didepan umum."


Zen menjauhkan dirinya dari Be ong lalu duduk diranjang.


" Aku tak tahu Ong. Aku ingin menjadi wanita normal, tapi aku takut."


" Aku minta maaf Li zen karna sudah membuatmu seperti ini. Begitu aku tahu kalau kau ternyata adalah seorang perempuan, jujur saja aku tak bisa menahan diriku saat itu."


" Apa kau juga melakukannya dengan Jenny?"


Be ong menggelengkan kepalanya berusaha menyakinkan Zen.


" Jenny sangat cantik, kau tidak mungkin tidak tergoda saat melihat dirinya."


" Tapi aku memang tidak tergoda, tapi kalau kau yang telanjang didepanku saat ini maka sudah kupastikan kalau aku akan langsung menerkammu," ucap Be ong sambil bergaya seperti singa kelaparan.


bersambung.....