Zen Or Li Zen

Zen Or Li Zen
bab 26



Shulan terlihat khawatir saat melihat wajah Zen yang pucat. Shulan segera mendekati Zen yang sedang duduk dikantin.


" Zen, wajahmu pucat sekali. Apa ada masalah dengan kandunganmu?" tanya Shulan dengan berbisik.


" Aku tidak tahu Shulan. Aku hanya merasa badanku lemas."


" Kalau kau belum sehat betul lebih baik kau jangan berangkat kuliah dulu. Kau ingin makan apa? Biar aku yang memesannya untukmu."


" Aku sedang malas makan. Tolong pesankan aku jus alpukat saja."


Shulan segera berdiri lalu kembali lagi dengan membawa segelas jus untuk Zen.


" Terima kasih Shulan," ucap Zen lalu meminum jus tersebut.


Zen meletakkan gelasnya lalu memandang Shulan yang sibuk menatap dirinya.


" Apa ada yang salah denganku?"


" Ah tidak Zen. Aku hanya tidak menyangka jika saat ini sedang tumbuh janin didalam perutmu," ucap Shulan dengan senyuman kecut.


" Aku juga tak menyangkanya Shulan. Mungkin dia ditakdirkan untuk menemani hidupku agar tak sendirian lagi."


Shulan menarik satu tangan Zen lalu menggenggamnya erat.


" Kau jangan khawatir Zen, aku akan slalu ada untukmu jadi jangan ragu untuk mengatakan apa pun."


Zen segera menarik tangannya dan menatap Shulan dengan tajam.


" Shulan apa yang kau lakukan? Orang-orang pasti akan merasa aneh jika melihat kita!"


" Maaf, tadi aku terbawa suasana Zen. Oh ya kalau begitu aku pergi dulu karna kemarin Aryong memintaku untuk menemaninya mandi air panas."


" Pergilah Shulan. Oh ya apa kau berpacaran dengan Aryong?"


" Ya, aku dan dia sepakat mencoba menjalin hubungan. Sepertinya dia sudah putus asa untuk mengejarmu Zen."


" Aku senang jika kau pacaran dengannya dan aku juga sungguh merasa bersalah pada Aryong. Aku harap dia bisa bahagia denganmu."


****


Be ong mencari keberadaan Zen karna merasa cemas dengan keadaannya. Tak lama ia mendapati Zen sedang duduk dikelasnya sendirian.


" Zen, bagaimana hari ini?"


" Aku baik-baik saja. Ini aku baru mau siap-siap pulang."


" Ya, hati-hati dijalan. Aku juga ingin mengantar Jenny ke mall untuk mencari gaun."


" Siang Zen, kau sudah mau pulang?"


" Iya, aku duluan ya Jen."


" Tunggu Zen, aku dengar jika Aryong berpacaran dengan Shulan. Bukankah dia pacarmu Zen? Apa dia mengkhianatimu dengan menjalin hubungan dengan temanmu sendiri?"


Zen memutar tubuhnya dan menatap Jenny.


" Aku tidak berpacaran dengan Aryong, waktu itu aku membohongimu untuk memutuskanmu. Jadi tidak ada pengkhianatan apa pun."


Jenny tampak marah. Ia berjalan mendekati Zen dengan tangan terkepal.


Plak


Sebuah tamparan yang cukup keras mendarat mulus dipipi Zen hingga wajahnya memerah.


" Kau jahat sekali Zen! Memang apa salahku sampai kau tega mempermainkan perasaanku juga tubuhku!"


" Ma...maafkan aku Jen. Aku tidaklah pantas untukmu. Aku doakan kau bahagia selalu dengan Be ong."


" Ya, Be ong yang terlihat nakal itu ternyata jauh lebih baik darimu Zen! Dia selalu memperlakukan aku dengan lembut bahkan dia tak pernah memintaku untuk melayani hasratnya!" Teriak Jenny lalu pergi dari hadapan Zen.


Zen masih berdiri mematung sambil memegang pipinya yang terasa panas karna tamparan Jenny. Air mata yang biasanya jarang menetes kini keluar begitu saja dari matanya.


Jika kau tahu kalau aku sebenarnya adalah wanita dan saat ini tengah mengandung anak kekasihmu, mungkin kau akan membenciku seumur hidupmu Jen.


Zen melangkahkan kakinya lagi hingga ia ditarik seseorang menuju sudut ruangan.


Orang itu memeluk Zen dengan erat sambil mengusap pipinya.


" Maaf Zen, tadi aku tak berbuat apa-apa untuk menyelamatkanmu dari amarah Jenny."


" Ini tak ada hubungannya denganmu. Ini murni kesalahan yang sudah kubuat pada Jenny."


" Tapi ini semua karna aku. Aku minta maaf, aku sungguh mencintaimu Li zen "


" Kau mencintaiku?"


" Ya, mungkin kebersamaan yang intens telah menghadirkan perasaan itu."


Li zen memandang Be ong tak percaya hingga bibir Be ong kini mendarat dibibirnya. Li zen menikmati ******* kecil nan hangat yang diberikan Be ong.


bersambung....