
"Hai Nona sekarang udah ada temennya makan ya! apalagi yang nemenin pak Richard Thompson pebisnis terkenal, memang anda siapanya nona ini? Nona Ini dari tadi makannya seperti orang kesetanan udah gitu dia bilang kalau kekasihnya super tampan dan super kaya, lebih tampan daripada saya hah! Siapa yang percaya hahaha." Steven pun dengan kepercayaan diri yang tinggi menyerang Vanya dengan kata-kata yang lebih menyakitkan lagi di depan Richard.
"Siapa kamu hah? berani beraninya mengganggu pacarku?"
"Aahh yang benar saja pacar anda tingkah lakunya seperti ini tidak mempunyai table manner tidak mempunyai sopan santun di atas meja makan hahaha sungguh memalukan."
"Heh masih bocah udah banyak tingkah, sekarang katakan siapa nama kamu!"
"Steven Abraham namaku, aku tekankan Steven Abraham."
"Hahaha Apa benar kamu anak dari Stefanus Abraham? asal kamu tahu Stefanus bapak kamu itu sering mengemis proyek kepadaku, sama-sama perusahaan konstruksi tetapi perusahaannya sudah hampir bangkrut, karena kebiasaan berjudinya yang tidak juga berhenti sampai sekarang, sehingga mau nggak mau dengan belas kasihanku aku memberinya proyek asalkan dia harus bisa memenuhi syarat yang aku minta!
Ternyata anaknya pun lagaknya seperti ini, sok berkuasa belum bisa mencari uang sendiri tapi gayanya selangit. Kamu sok kaya sekali, sok berkuasa sok menindas kaum yang lemah, masih pakai duit bapakmu aja kebanyakan gaya! sekarang minta maaf lah kepada kekasihku bersujudlah di bawah kakinya ciumlah kakinya atau kamu mau melihat perusahaan bapakmu gulung tikar sebelum jam 12.00 siang besok!
Aku tekankan sekali lagi dalam hitungan ketiga ciumlah kaki kekasihku sekarang juga bersujudlah, kalau tidak mau harta bendamu hangus beralih kepadaku!"
"Ah tidak tidak tidak Om Aku menyesal Om, maafkan aku Om tidak tidak aku tidak berani Om," penyesalan Steven lalu seketika mencium kaki Richard sambil menangis tersedu.
"Hei siapa suruh mencium kakiku cium kaki kekasihku sujudlah di bawah kakinya sampai dia memaafkanmu baru kamu boleh pergi."
Pak bagus dan sebagian pengunjung restoran Vietnam yang sudah menyaksikan dari tadi bahwa Vanya telah dibully oleh pemuda itu sedemikian rupa sehingga saat Richard memberinya hukuman para pengunjung restoran pun bertepuk tangan dan bersorak-sorai.
"Gggrrrrrr."
...Prok prok prok...
"Bagus sekali pak memang cecunguk seperti itu harus diberi pelajaran dari tadi kekasih bapak sudah dibuatnya tidak nyaman untuk menikmati makanannya kasihan juga sih tetapi kita nggak bisa apa-apa takut membuat keributan." seru sejumlah orang yang melihat kejadian lucu itu.
"Wah kalau bukan Richard Thompson mana bisa memberi hukuman seperti itu." ucap salah seorang pengunjung lainnya.
Steven pun dengan menanggalkan gengsinya akhirnya mau bersujud di bawah telapak kaki Vanya. Vanya pun sedang asyik menikmati hidangan yang belum juga selesai dia makan, Vanya tidak memperdulikan Steven yang dari tadi menciumi kaki Vanya seolah santai seperti di pantai sambil menikmati dan sesekali menyuapi makanan ke mulut suami tampannya itu.
"Dad makanlah dulu apa Daddy nggak lapar? Yuk makan dulu yuk? jangan ngeliatin aku gitu dong emang daddy nggak pengen coba-coba ini aku suapin ya aakkk." Vanya pun tidak memperdulikan tingkah Steven yang sudah menangis darah sambil mencium kakinya. Mengingat kata-kata Steven yang begitu kasar mengolok-ngoloknya tadi membuat jantung Vanya seakan berhenti berdetak.
Kini waktunya Vanya untuk membalas semua perbuatan Steven yang telah dia lakukan tadi. Teman Steven pun melihat hal itu dengan tertawa terbahak-bahak. Ia pun sangat senang sekali karena sepulang dari restoran ini maka mobil sport milik Steven akan menjadi miliknya.
Satu jam kemudian Vanya pun telah selesai menghabiskan semua makanannya. Vanya sangat senang sekali akhirnya bisa makan dengan lahap. Mungkin ini juga karena si jabang bayi yang menginginkan memakan makanan Vietnam tadi.
"Heh pergilah Jangan menghalangi jalanku sampai kapan pun aku tidak akan memaafkanmu tapi aku tidak sudi dicium oleh bibirmu yang najis itu." Kesempatan Vanya untuk membalas dendam di depan suami tercinta.
"Udah Sayang udah kenyang mau makan apa lagi."
"Hmmm Mau yang manis-manis dad yuk ke sana yuk?"
"Non bapak pamit ke basement dulu ya kalau sudah selesai telepon bapak lagi, mari bapak permisi non tuan."
"Ya Pak tunggulah di basement aja." ucap Richard mempersilakan Bagus untuk pergi terlebih dahulu.
Steven pun akhirnya bangkit dari sujud terlamanya seumur hidupnya hingga hidungnya yang putih pun sampai merah kecoklatan terkena noda dari lantai yang kotor akibat saking banyaknya pengunjung yang datang di restoran itu.
"Haha prok prok prok, mana kuncinya nih kunci motor sport gue mana ke sini kan kunci mobil sport lu."
"Ah lu tega men sama gue udahlah lupain aja anggap aja angin lalu please lo mau gue diajar sama bokap gue apa udah gitu ternyata bokap gue suka ngemis proyek ke pria tadi lagi duh apes banget sih gue hari ini?"
"Enak aja lo nih Gue rekam pembicaraan kita tadi Jangan main-main lho sama gue hah?"
"Oke oke baiklah nasib nasib bisa dibunuh gue sama bokap gue ntar."
Akhirnya mereka berdua pun saling bertukar menukar kunci kendaraan masing-masing.
lagian ya tuh cewek meskipun makanya seperti itu lo nggak lihat apa wajahnya wajahnya sangat cantik men lo buta Ya ngatain cewek secakep itu dengan kata-kata kasar seperti itu. udah bagus dia selalu ngelawan apa yang lo hujat kepadanya tadi
"Gue kagum akan keberanian gadis itu dia selalu menjawab apa yang kamu lontarkan kepadanya dia nggak nangis sama sekali Dia pun cuek bebek tetap aja makan andai gue punya cewek seperti dia yang nggak manja yang bisa berdiri sendiri tanpa gue. capek men punya cewek yang dikit-dikit minta antar dikit-dikit minta jemput dikit-dikit ke salon dikit-dikit itu ah manja mending kayak cewek itu tadi udah cantik kemana-mana sendiri dia pun nggak ngerepotin pacarnya padahal pacarnya se kaya itu."
"Udah emang ah nggak usah dibahas lagi emang hari ini apesnya gue sih mungkin gue kena karma kebanyakan jahat sama cewek-cewek lemah."
"hahaha baguslah kalau lu sadar siap-siap aja lo karena golok bokap lu di rumah."
"Bang sat ba jingan sialan keparat lo ngingetin gue aja, jiwa miskin gue meronta-ronta huawaaa, mimpi apa aku semalam bisa ketemu sama Richard Thompson dan selama berjam-jam telah memaki kekasihnya Ya Tuhan dosaku untungnya dia tidak melaporkanku ke polisi sebagai tindakan anarki dan pencemaran nama baik lalu pembulian serta Ahhh tidaakk, nama keluargaku bisa makin tercoreng."
✨
✨
✨
Richard membiarkan Pak bagus untuk pulang terlebih dahulu sambil membawa mobilnya untuk diparkirkan di Mansion. sedangkan Richard dan Vanya berkendara berdua sambil menikmati pemandangan malam di jalan raya.
"Dad, terima kasih karena sudah menjadi suami yang terbaik selama ini?"
"Sama-sama kembali kasih istriku yang cantik dan menggemaskan, gitu dong makanya yang banyak biar pipinya agak gembul sedikit karena kamu terlalu kurus sayang kamu sangat kurus sekali."
"Mudah-mudahan Ya dek semoga makanan yang se restoran tadi masuk ke dalam perutku nggak membuatku mual lagi dengan begitu kan lama-lama aku bisa gendut, yang penting bayi kita di dalam perutku bisa makan juga dengan lahap."
"Oh iya besok kan waktunya kamu kontrol sayang akan aku usahakan mengantarkanmu dikontrol yang pertama ini aku ingin melihat bentuk si jabang bayi yang usianya hampir 8 minggu ya kalau nggak salah."
"Yah kurang lebih 2 bulanan Dad 8 Mingguan bener."
"Oke besok aku sempatkan Untuk mengantarmu sayang semoga tidak ada meeting yang penting ada meeting pun rasanya harus aku tinggal untuk kontrol pertama anak kita."
"Iya Sayang nggak ada yang sepenting urusan kamu dan urusan bayi kita."
✨
✨
✨
🏬 Thompson Corp
Ruang CEO
"Bos ada sesuatu yang harus Bos bereskan ini Bos nyonya dilabrak oleh tiga orang karyawan yang bernama Yenda, Reta dan Mirna saksi yang melihat Bos bermesraan dengan Vanya dan mereka melaporkan kepada komite kedisiplinan bahwa Nyonya lah yang merayu Bos di depan karyawan yang lain." Fajar mengungkapkan fakta yang terjadi setelah diberitahu oleh Radian. Radian tidak mau Vanya di-bully sekali lagi oleh karyawan perempuan yang notabene ngefans berat sama sosok Richard Thomson yang statusnya single kembali.
"Apa?! Ketua komite kedisiplinan melabrak Vanya? siapa yang telah memberi alibi bahwa Vanya telah menggodaku? Ya Tuhan panggil ketuanya ke sini dan juga 3 orang pengadu itu!" Richard yang geram karena istrinya selalu diperlakukan buruk oleh karyawan wanita yang lain akhirnya bertindak tegas.
"Baik Siap laksanakan Bos."
30 menit kemudian keempat orang penindas pun hadir di dalam ruangan Richard. Richard yang memang hari itu khusus mengosongkan jadwalnya untuk menemani istrinya memeriksakan kandungannya ke rumah sakit.
Tok tok tok
"Masuk!"
"Selamat siang Pak Richard."
"Hemmm, Siapa di antara kalian yang menyaksikan aku bermesraan dengan hanya kemarin?"
"Ka kami bertiga Pak."
"Lalu apa kesimpulanmu setelah melihat ku bermesraan dengan Vanya?"
"Pak Richard digoda oleh karyawan magang itu Pak."
"Apa?" Kamu buta ya! siapa nama kamu?"
"Nama saya Yenda Pak."
"Kamu nggak ngeliat bahwa aku yang menggoda Vanya bukan malah sebaliknya? Sebaiknya jangan suka memutar balikan fakta!"
"Ulangi sekali lagi siapa yang menggoda Siapa di sini katakan kalian bertiga."
”Pak Pak Richard yang menggoda Vanya Pak."
"Catat itu Tantri dan sebaiknya jangan selalu mendengarkan keterangan dari satu pihak saja kedua belah pihak harus dipanggil dua-duanya setelah itu harus ada bukti konkrit yaitu CCTV sebaiknya kamu memeriksa dulu CCTV apakah benar hanya yang menggodaku atau enggak sebaliknya?"
"Bolehkah saya bertanya Pak? pertanyaan ini juga mewakili rasa penasaran semua wanita single yang menjadi karyawan bapak, mengapa bapak memilihkannya pak?"
"Pffttt hahaha kamu mabuk ya? pertanyaan macam apa itu, aku mendekati Vanya karena aku jatuh cinta bukan karena sembarangan aku mendekati semua wanita. dan aku tekankan sekali lagi jangan ada satupun lagi yang berani mengusik dan mengganggu ketenangan Vanya di perusahaan ini, kalau kalian masih mau bekerja lebih lama di perusahaanku! sekarang di detik ini juga kalian berempat pergi ke ruangan Vanya dan minta maaf padanya sampai hanya memaafkan kalian apabila Vanya belum memaafkan kalian maka kalian jangan pergi dari hadapannya mengerti!"
"Me mengerti pak! kami permisi dulu Pak!"
*
*
*
...Ruang konstruksi lantai 9...
Vanya yang sedang menggambar desain untuk pesanan klien sekali lagi agaknya tidak mengetahui bahwa keempat orang yang telah membuatnya mengelus dada datang ke hadapannya untuk meminta maaf.
"Wah ada yang mau minta maaf rupanya, Vanya hahaha tuh ada yang menyesal tuh."
"Vanya kami mau meminta maaf ke kamu, maafkan atas perilaku kami Vanya, kami nggak akan mengulangi lagi perbuatan kami yang suka membully kamu karena perlakuan dari Pak Richard yang berbeda terhadapmu ternyata beliau bilang kalau beliau jatuh cinta padamu, dan nggak akan membiarkan satupun salah satu dari kami atau karyawan yang lain mengganggumu ke depannya."
"Oh aku sudah memaafkan kalian kok, Pak Richard bilang begitu, makin sayang deh ama dia," mendengar jawabannya seketika Ferry dan Norman pun menyauti dengan siulan tanda sukacita menyambut kebahagiaan Vanya dan Richard.
Suitt ..suitt.
Setelah kepergian ketika 4 rival Vanya itu Ferry dan Norman pun diinterogasi oleh Vanya.
"Eh jadi kalian udah tahu toh? mulai kapan tahunya?"
"Ya mulai lu mual-mual muntah itu kita berdua cari tahu deh kan ya nggak mungkin kalau sakit.. gejalany mual muntah tapi badannya nggak demam ya kita juga curiga kali jangan-jangan gue yang dituduh mlendungin elu?"
"Yeee amit-amit nggak sudi deh gue!"
"Ya kita berdua ikut senang lah soalnya mau punya keponakan, terus rencana lo gimana mau ngelanjutin kuliah atau cuti dulu?"
"Nggak tahu deh gue nggak kepikiran sejauh itu pelan-pelan lah ntar gue pikirin ke depannya harus gimana."
"Trus undangan buat kita berdua mana nih?"
To be continued