YOUR SECRET SUGAR BABY

YOUR SECRET SUGAR BABY
Restu



"Yee nggak ada waktu gue buat ngeladenin tante," seru Vanya sambil membuka pintu ruangan Richard tanpa mengetuk terlebih dahulu tanpa dia sadari ada seorang wanita di ruangan itu.


"Heh kecil-kecil sudah jadi ******." Kesal Alda hingga mengumpat dan mengeluarkan kata-kaa mutiara untuk Vanya.


"Richy upss.. hmm saya di perintah pak Radian untuk meminta tanda tangan bapak," ucapan Vanya yang belibet karena sang kekasih sedang berbincang dengan wanita tua yang seumuran ibu tirinya.


"Hai sayang kemarilah," pinta Richard agar Vanya berjalan mendekat ke arah ruang tamu yang terdapat sofa disana.


Mengapa Richy memanggilku sayang di depan ibu-ibu itu.


"Kenalkan ini Nyonya Thompson, ibu kandungku," ujar RIchard memperkenalkan ibu kandungnya sebagai nyonya Thompson


"Kamu cantik sekali sayang, apa kamu mencintai pria nakal ini?" tanya Miranda pada Vanya.Vanya yang masih dengan rasa kebingungan yang tidak bisa di ukur dan di bendung dengan kata-kata. Bukankah Richard memiliki istri yang tidak mungkin membuat Vanya yang notabene gadis tanpa status sosial yang jelas tidak mungkin pantas bersanding dengan pria mapan dengan status terhormat seperti Richard.


"Hmm saya Vanya Nyonya, sa saya sangat mencintai putra Nyonya." ucap Vanya dengan gemetar


"Sayang, kemarilah apa benar kalian berdua sudah sejauh ini? ini?" tanya Miranda kepada Vanya dengan memberi isyarat kedua jari telunjuknya di tempelkan seperti sedang berciuman. Miranda penasaran benarkah sang anak bisa mempraktekkan hubungan suami istri dengan Vanya hingga penyakit yang memalukan itu bisa di sembuhkan. Sebelum ke kantor Richard Miranda terlebih dulu berkunjung ke Rumah Sakit Harapan Jaya tempat dr Bram sahabat Richard membuka praktek disana. Miranda yang akhirnya  sedikit luluh dan mengalah berkat penjelasan dari Dr Bram yang membuka semua permasalahan rumah tangga Richard dan Vero yang berakhir dengan Vero yang senang mencari kepuasan dari laki-laki lain membuat Miranda mau tidak mau mendukung sedikit langkah Richard untuk berpisah dari Vero secepatnya.


"Nyonya jangan seperti itu, aku masih belum sepenuhnya mempercayaimu, jangan memojokkan Vanya," ucapan Richard yang agak mengintimidasi karena takut Vanya akan terpojok dengan pertanyaan Miranda tersebut.


"Iya Nyonya kami ber cin ta hampir tiap hari," jawab Vanya dengan menahan malu yang luar biasa sambil menggi git bi bir bagian bawahnya kecil.


"Oh iya, aku tidak percaya ini, ini sungguh keajaiban, apa dia pernah menyakitimu?"


"Tidak Nyonya, Richy sangat perhatian, sepertinya dia juga mempunyai perasaan yang sama padaku."


"Sudahlah, nyonya membuat Vanya terpojok, sebaiknya nyonya pulang atau kembali ke SRT Group sebagai President Direktur yang baik sebaiknya Nyonya tidak terus terusan meninggalkan tempat seperti ini."


"Sayang Vanya, aku sangat berharap ada benih Richard di rahimmu kelak, jangan terlalu mendengarkan omong kosongnya kalo mengomel dia seperti nenek-nenek tua, baiklah aku akan pergi, sayang bolehkah aku memelukmu dari dulu aku ingin sekali memiliki anak perempuan, terimakasih sudah membuat Richard sembuh dari penyakitnya," Miranda pun pergi dari ruangan Richard setelah memeluk erat tubuh Vanya. Miranda seperti menemukan anak gadisnya yang telah lama hilang. Begitu pun juga Vanya, pelukan sosok ibu yang sangat di dambakannya dia dapatkan barusaja setelah berpelukan dengan Miranda.


Sungguh Vanya tidak menyangka bahwa akan mendapatkan reaksi positif dari ibu kandung Richard mengenai hubungan mereka berdua. Vanya terkejut dan tidak pernah menduganya sama sekali bahwa ibu kandung Richard akan menerima keberadaannya secepat itu, disaat hubungan Richard dan istrinya juga baik-baik saja di mata publik.


"Berkasnya aku tanda tangani ya? apa staf pria di ruang arsitektur banyak yang mengganggumu kalo mereka mengganggumu jangan segan-segan untuk melaporkannya padaku karena tanpa kamu lapor pun aku bisa menebak siapa orangnya."


"Ya iyalah pak CEO yang terhormat kan selalu menanyakan kabarku melalu pak Radian, sampai-sampai pak Radian mengatakan hal memalukan itu pada semua staf disana, aku kan jadi nggak enak, gimana kalo perlakuan mereka tiba-tiba berubah kepadaku setelah tau kita ada hubungan, kan aku juga nggak mau reputasimu jadi buruk gara-gara aku."


"Benarkah kamu mengkhawatirkan tentang reputasiku ataukah kamu malu berhubungan denganku?"


"Mana mungkin aku berani berpikir yang macam-macam? aku ini kan cuma sugar babymu, aku bisa mengagumimu dalam diam, kalo tidak mau mendapatkan hujatan dari orang lain."


"A a hh takuuut, ya udah aku balik lagi ya ke lantai 9 takut pak Radian nungguin berkasnya, tar ada rumor yang macem-macem lagi eh si Vanya minta tanda tangan ke ruangan CEO jurusan arab kali ya lama banget nggak balik bahmmmp ffhhh." Cerocos Vanya membuat Richard tidak sabar dan gemas ingin me lu mat saja bi bir mungil merah Vanya sekarang juga. Sungguh Richard sudah tidak perduli lagi dengan omongan dan gunjingan orang sekitar tentang mengapa sikap Richard berubah semenjak ada karyawan magang yang sangat cantik.


Sepertinya CEO Thompson grup sudah jatuh hati pada gadis cantik anak kuliahan yang baru berusia 20 tahun itu. Mulai dari di pecatnya karyawan senior gara-gara memaki Vanya di dedapannya. Lalu kejadian yang tidak pernah sama sekali mereka jumpai semenjak bekerja di gedung pencakar langit ini, bahwa CEO mereka masuk di lift karyawan yang tentu saja ada Vanya di dalamnya walau tidak tertangkap mereka pergi berdua tetapi kehadiran gadis cantik itu membuat keadaan dan suasana kantor menjadi berwarna, disusul perubahan sikap CEO mereka yang sekarang menjadi sering tersenyum.


"Richy a a hh stop! biar aku antar berkasnya dulu nggghh ha a a h  a a hh," nafas Vanya menjadi terengah-engah saat li dah Richard menerobos masuk ke dalam rongga mu lut nya dan bertukar sa liva dengannya. Mata keduanya berubah sayu dan terpejam seolah sama-sama tak bisa menahan has rat dan naf su yang sudah meluap akibat ciu man panas Richard.


New Message Just Now


Me


Fajar antarkan berkas untuk Radian di mejaku


Fajar


Bentar bos saya sedang makan siang


Me


Cepaaaatt Fajar!!!!


Fajar


Ba baik Boss siapp meluncur!


Private Room 


"Richy aw aw, kamu seperti binatang buas padahal baru kemarin kita melakukannya, sekarang kamu sudah memulainya lagi awww jangan di gi git sakit," Ucap Vanya saat Richard tiba-tiba menggendongnya ala bridal style ke kamar pribadinya dan melanjutkan perang mu lut dan lidah yang sekarang sudah turun ke le her mu lus dan jenjang Vanya serta kancing kemeja putih Vanya yang sudah terbuka. B r a hitam milik Vanya pun di turunkan sedikit bagian yang menutupi pu tingnya saja lalu Richard meng hi sapnya dengan penuh gai rah.


"Ini hukuman untukmu karena terlalu memikirkan gunjingan orang lain sayang, hmmm rasakan ini, katakan kamu tidak menyukainya maka aku akan berhenti sekarang juga, katakan kamu nggak suka maka aku akan menghentikannya."


Richard pun menghentikan ken yot annya di pu ting gadis cantik itu karena sepertinya Vanya merasakan kesakitan yang luar biasa.


"Nggak jangan berhenti, teruskan, aku suka," celoteh Vanya yang sangat membingungkan Richard sambil menggi git nakal jari telunjuk nya sendiri dan mengedipkan sebelah mata cantiknya.


DEG


To be continued..