
"Kami dari komite kedisiplinan perusahaan memperingatkan Vanya agar menjaga sikapnya untuk tidak menggoda CEO kami lagi. Karena tingkah lakunya sudah bertentangan dengan peraturan perusahaan. Kalau masih tidak didengar juga maka kami akan mengeluarkan surat peringatan agar yang bersangkutan tidak lagi magang di perusahaan kami ini."
"Eh begini begini sepertinya ada kesalahpahaman di sini, tadi yang melaporkan tiga cewek yang namanya kalau nggak salah Yenda Reta ama si Mirna bener nggak?" Radian mencoba untuk menengahi pernyataan yang diberikan oleh Tantri sang ketua komite kedisiplinan perusahaan.
"Ada laporan dari satu orang yang bernama Yenda setelah itu dua orang lainnya adalah saksi menurut saya itu sudah cukup untuk menjadi bukti." ucap Tantri tiba-tiba frontal.
"Sebentar aku akan menengahi sebagai pihak yang netral. Sebenarnya yang merayu Pak CEO itu siapa Vanya kah atau Pak Richard kah sebagai CEO perusahaan ini. Apa benar Vanya yang mendekat pak CEO terlebih dahulu?"
"Ayo bawa aku ke hadapan mereka bertiga. Karena aku juga saksi di sana, ayo buktikan kalau memang omongan mereka benar, oke maka aku angkat tangan, tapi kalau misalnya omongan mereka tidak benar dengan menghadirkan beliau sendiri di sini ya itu Pak Richard, Bagaimana menurut kamu?"
"Baiklah saya akan memanggil ketiga orang pelapor dan juga saksi di suatu ruangan nanti Pak Radian akan saya panggil dan juga si pelaku untuk segera diputuskan bagaimana sebaiknya."
"Okay baiklah segera saja kabari aku pertemuannya diadakan di ruang apa."
"Baik Pak saya permisi dulu."
"Vanya ikut ke ruanganku sekarang." ucap Radian kepada fanya untuk berbicara empat mata dengan tanya setelah Tantri pergi dari ruangannya.
"Baik Pak radian."
"Ada apa sih Nya aduh ada-ada aja sih lo gimana sih ceritanya." tanya Ferry.
"Ya udah ini gue beresin dulu ntar ceritanya belakangan."
"Permisi pak."
"Ya Duduklah, begini Vanya memang sih di sini itu ke senioritasan lebih diutamakan dan hal-hal seperti ini tidak pernah sama sekali didengar oleh Richard sendiri sehingga terkadang aku ingin membenahi semua itu dengan langsung aja ngomong kepadanya tapi selalu lupa dan tertunda hingga menumpuk sampai sekarang."
"Kasihan kamunya kalau seperti ini aku ingin sekali ngomong dengan Richard secara pribadi tapi kesibukan yang tidak pernah mengizinkan kita berdua bisa mengobrol bersama seperti dulu."
"Iya Pak radian aku sih santai saja sih Pak cuman mereka betul betul ya, padahal aku itu nggak pernah sama sekali menggoda Daddy."
"Ya iyalah kamu nggak pernah menggoda orang si Richardnya udah bucin setengah mampus begitu nggak perlu digoda juga udah nempel kayak perangko dia."
"Hahaha iya juga sih cuman ya maksudku itu tidak perlu dipertontonkan di depan orang lain kan juga nggak enak."
"Tapi kamu kan istrinya Vanya mungkin dia mau menunjukkan kasih sayang itu tetapi nggak ada waktu untuk bertemu sama kamu juga ya kan? Sebenarnya nggak ada masalah sih kalau memang nanti Richard mengumumkan kepada dunia bahwa kamu adalah istrinya.
Cuman mungkin kalian perlu waktu karena ketok palu baru 3 hari yang lalu diumumkan ya kan? sebenarnya sih nggak ada masalah juga meskipun Richard mau menikah dengan 10 wanita dan diumumkan ke dunia itu tergantung pribadi masing-masing sih. Kalau menurut aku sih begitu karena kasihan kamunya kalau lama-lama ntar kamu dihakimi oleh ans berat dia yang sering melakukan tindakan anarki dan menghalalkan segala cara untuk melukai rivalnya kaya tadi."
"Ya itu juga sih Pak ya aku juga mau ngelawan tapi ya gimana kalaupun di luar perusahaan Oke akan ku lawan tapi ini di dalam perusahaan takutnya ntar aku mentang-mentang begini mentang-mentang begitu mentang-mentang beginilah begitulah aduh pusing!"
"Baiklah kita tunggu aja dia mau memperpanjang masalah ini sampai seberapa, kita tunggu aja komite kedisiplinan akan minta bertemu kita di ruangan apa?"
"Baiklah Pak terima kasih banyak atas bantuannya."
Hari pun semakin sore waktu menunjukkan pukul 05.00 sore. komite disiplin tidak kunjung kembali memberitahu Radian tentang permasalahan yang tadi mau dilanjutkan atau dihentikan.
"Baiklah karena tidak ada hal yang harus dikerjakan kalian anak magang boleh pulang."
"Ya Pak terima kasih." ucap Norman Ferry dan Vanya bersamaan.
Pak bagus pun sudah menunggu Vanya di lobby perusahaan itu. Vanya yang sudah keluar dari pintu lift pun menyapa Pak bagus yang sedang duduk menunggunya.
"Pak kita ke mall dulu ya aku ada perlu sesuatu."
"Baik nyonya."
"Pak kalau di kantor mending sebutannya dirubah jadi Nona deh nggak enak soalnya tadi aja udah rame Pak, disangkanya saya yang godain suami saya."
"Ya kan itu pak bagus yang udah tahu karyawan di sini kan nggak ada yang tahu Pak?"
"Udah deh pokoknya daripada bapak belur dihajar massa mending kita tidak usah merubah apapun Pak karena saya sendiri nanti yang bonyok."
"Pffttt hahaha jangan bercanda ah non siapa yang berani?"
"Yaelah pak itu kan pak bagus ama yang lain yang tahu, yang nggak tahu kan ya gemes liat saya, rasanya pengen nimpuk saya dari belakang atau nendang-nendangin saya gara-gara biasalah Daddy kan gitu suka pegang-pegang terus tiba-tiba belai belai nggak ngerti apa ya akibatnya saya ini yang susah."
"Ya itu kan tanda sayang non."
"Ya tanda sayang sih tanda Sayang pak, kalau di rumah mah nggak apa-apa Pak, ini mah di kantor mana fansnya pada gila.. ih bisa gitu ya cewek-ceweknya pada pengen menerkam daddy gitu Pak, mengerikan pokoknya."
"Hahaha yang sabar non resiko punya suami super tampan dan super kaya."
"Iya deh Pak Iya resiko Aduh bikin pusing aja deh, yuk pak berangkat."
Incoming Call
Daddy
"Sayang di mana Udah pulang belum?"
"Iya ini perjalanan pulang dek tapi aku mau mampir ke mall dulu nggak tahu ini kayaknya aku pengen makan masakan Vietnam hari ini tak tahu pengen aja."
"Kamu ngidam ya?"
"Ya gitu deh kayaknya."
"Atau Mau aku bungkuskan aja tunggu aja di rumah?"
"Nggak mau aku pengen makan di sana pengen rasa asem-asemnya yang ada mie sama togenya terus ada baksonya kuahnya itu segar banget itu bikin lidah menggiurkan."
"Ya sudah kamu mau ke mall yang mana Aku susul ya?"
"Mall xxx dad Mall biasanya."
"Oke berangkatlah nanti kita ketemu di sana bye."
"Bye."
Call ended
Mobil Vanya yang dikendarai oleh Pak bagus pun akhirnya meluncur ke mall yang dimaksud.
"Non kalau boleh bapak usul nih."
"Ya Pak Ada apa?"
"Mending non jujur ama tuan kalau non tuh di-bully sama cewek-cewek sekantor."
"Ya gimana ya pak ngomongnya aku juga bingung cara ngomongnya gimana Pak Dedi
kan aku juga nggak enak mentang-mentang istrinya dikit-dikit ngadu dikit-dikit ngeluh? ntar dibilang istri manja istri cengeng nggak deh Pak biarlah, Daddy biar tahu tahu sendiri kalau istrinya disiksa."
"Hahaha ah enon bisa aja."
To be continued..