
"Vanya kamu hamil?"
Reaksi Richard saat melihat ke lima test pack yang kesemuanya menunjukan 2 garis yang artinya positif. Richard langsung berlari dari kamar mandi dan menciumi wajah sugar babynya lalu menangis terseduh.
"Terimakasih sayang, terimakasih kamu udah ngasih yang terbaik untuk aku, ahahahah kita akan punya anak sayang, ahahahah Ayoo kita menikah besok secara agama, hmmm aku akan siapkan semuanya.
"Ahahaha dad turunin aku , huek huek, huek." Vanya yang nggak tahan kena goncangan langsung memuntahkan semua isi perutnya kembali ke closet duduknya.
"Oohh God maafkan aku sayang aku terlalu gembira. Ahahahha aku senang sekali," Richard masih dengan suka citanya yang tak terbendung lagi ikut membantu memijit tengkuk belakang sugar Daddynya yang sudah lemas mengeluarkan seluruh isi perutnya.
"Aku panggilkan dokter besok pagi ya sayang sekarang istirahatlah aku janji nggak akan minta jatah karena kamu masih hamil muda, oh God senangnya." Rich yang kegirangan sampai memeluk Vanya berkali-kali hingga Vanya pun lemas tak kuasa menahan pusing di kepalanya.
"Dad, peluk, aku mau tidur di pelukanmu," pinta Vanya yang langsung di turuti oleh Richard.
"Tidurlah sayang hmmm, mau minum?"
"Nggak, mau tidur aja."
"Ya sudah tidurlah."
"Ya ampun jam 01.00 dinihari." Hmmm lebih baik besok saja mengurus segala sesuatunya.
Tak sengaja Richard pun mengirim pesan kepada kedua ibunya yaitu Nyonya Thompson (Miranda) dan Mommy Margareth karena saking senangnya mendapatkan anugerah yang tak ternilai yaitu kehamilan kekasihnya yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata dan keinginan untuk segera menikahinya sementara secara agama .
*****
08.00
Keesokan harinya appartment Vanya sudah penuh dengan persiapan pesta pernikahan secara agama tanpa membangunkan si empunya Appartment karena Miranda tidak mau mengganggu sang menantu yang pastinya mengalami morning sick di pagi hari.
Miranda dengan rasa penyesalan, karena sikapnya yang terlalu memaksakan kehendaknya demi uang dan kekuasaan di masa lalu kini dengan sekuat tenaga akan ia tebus. Betapa keinginan Miranda mendapatkan cucu dari Richard akhirnya terkabul walau bukan dari istri sahnya melainkan dari gadis yang dicintainya.
"Nyonya untuk cateringnya nanti akan datang jam 10 pagi karena pendeta yang menikahkan kedua mempelai akan sampai di Appartment jam 11 siang.
"Hmm baiklah lanjutkan." ucap Jamal asisten pribadi Miranda.
"Mah Mamah yang mengatur ini semua?" Vanya yang akhirnya turun ke lantai 1 dan terkejut setengah mati saat melihat appartmentnya sudah di sulap sedemikian rupa untuk memeriahkan acara pernikahan Richard dan Vanya walaupun.
"Sayang Vanya terimakasih kamu mau memanggilku mamah nak, sinih peluk mamah." ucap Miranda yang tak terasa mengeluarkan air mata bahagianya karena terharu.
"Mah aku nggak tau kalo Richard udah memberi tahu mama akan kehamilanku, tapi aku kan juga belum memeriksakan kandunganku ke dokter mah."
"Sebentar lagi dokter akan datang sayang so kamu tenang ya, kamu pucat sekali tadi udah muntah lagi ya?"
"Iya mah kasian Richard sampai terbangun bolak balik gara-gara morning sick ini."
"Yah itu normal sayang nah itu dokternya datang, sini dokter Sheila ini kenalkan menantuku Vanya Danuarta."
"Halo Sheila." ucap dokter spesialis kandungan itu hendak berjabat tangan dengan Vanya.
"Halo Vanya dok, ayo kita ke kamar tamu aja dok." Vanya pun memandu dokter Sheila ke ruang tamu appartment itu untuk segera memeriksa Vanya.
Setelah beberapa saat memeriksa denyut nadi dan rahim Vanya dengan menggunakan stetoskop, dokter pun memastikan bahwa Vanya telah mengandung dengan usia janin 4 Minggu.
"Selamat Vanya atas kehamilan anak pertama mu usia bayi diperkirakan menginjak 4 Minggu."
"A hh terimakasih dok."
"Haii sayang," Richard pun mencium kening Vanya mesra di depan dokter Sheila saking bahagianya menjadi calon ayah. Richard sekarang sangat memperhatikan kondisi kesehatan Vanya.
"Kalau bisa untuk hubu ngan suami istri di kurangi intensitasnya khususnya di usia kandungan menginjak trisemester pertama."
"Coba di kurangi menjadi 1 Minggu sekali pak, sambil pemeriksaan rutin nanti kedepannya akan saya lihat bagaimana perkembangan janin kalo memang tidak ada keluhan yan boleh aja di buat 1 Minggu 3 kali."
"Dadd kok gitu sih kan malu tauukk."
"Ahahahha tidak apa-apa kan hub ungan suami istri itu kewajiban apalagi nanti menginjak tri semester ke 3 atau trisemester akhir malah di anjurkan untuk melakukannya sesering mungkin untuk melancarkan jalannya proses kelahiran."
"Tuuuh denger kan sayang."
"Ihh Daddy selalu mesum!"
"Ahahaha." mereka pun tertawa bersamaan.
"Baiklah kalo begitu ini saya tuliskan resep untuk pencegah mual, multivitamin penguat untuk janin dan ibu dan juga susu formula untuk ibu hamil, dan jangan lupa pemeriksaan rutin 2 Minggu sekali, baik saya permisi dulu."
"Baik terimakasih dok."
Setelah kepergian Sheila Richard pun mengajak Vanya untuk bertemu dengan Miranda dan Margareth yang baru saja tiba untuk mencoba baju pengantin Rancangan dadakan mommy Margareth.
"Wooww sayang Vanya selamat ya? tok cer juga nih si kunyuk ya kak?" seru Margareth pada Miranda.
"Iya akhirnya si kunyuk punya keturunan." ucap Miranda frontal.
"Nyonya Thompson selalu menyudutkanku."
"Dadd, panggil mamah gih, mamah yang melahirkan Daddy hingga Daddy tumbuh setampan sepintar dan sehebat ini, itu semua adalah jasa besar seorang ibu dad, coba daddy bayangkan kalo nanti anak kita memanggilku dengan sebutan lain? bagaimana perasaanku sebagai ibu kandung yang melahirkannya hmm? coba pikirkan baik-baik dad?"
Richard pun tertegun dan termenung sejenak mendengar nasihat dari gadis kecilnya yang tak disangka-sangkanya sama sekali.
Miranda pun meneteskan air mata bahagianya melihat Richard yang terdiam mendapatkan serangan nasihat dari gadis yang dicintainya itu.
"Dad coba panggil mama, ini permintaan bayi di dalam kandunganku dad dia nggak ngidam makanan Lo dia cuma minta ayah kandungnya memanggil omanya mamah, bukan nyonya lagi, Hmmm cobalah sayang, dadd."
Margareth pun tak kuasa meluruhkan air matanya mengingat selama ini Richard malah memanggilnya mommy yang seharusnya di panggilnya tante.
"Baiklah, mah..mamah." Richard pun dengan berat hati memanggil Miranda dengan sebutan mama karena permintaan calon bayi dalam kandungan Vanya.
"Vanya sayang terimakasih kamu sudah membuat Richard memanggilku mama nak, mama bersyukur punya menantu seperti kamu, semoga kandunganmu sehat terus nak, jangan capek-capek dan jangan kecewain mama."
"Mommy juga berdoa buat kelancaran pernikahan kalian berdua ya? ini gaun pengantin dan tuksedo punya client karena pernikahan client mommy yang diundur jadilah untuk kalian saja dulu. Nanti mommy kebut lembur semalam suntuk untuk membuatkan gaun pengantin lagi untuk mereka.
"YeeeAaayy terimakasih mom, mimpi apa aku akhir-akhir ini hingga dikaruniai dua ibu yang sangat menyayangiku, terimakasih." Vanya pun tak henti-hentinya berucap syukur.
...Ya tuhan jangan biarkan kebahagiaan ini cepat berlalu...
Gerutu Vanya dalam hatinya.
1 jam kemudian pernikahan secara agama pun di mulai dengan khidmat
Saat pendeta dan prasyarat pernikahan agama telah dipenuhi, Kedua Mempelai pun dinyatakan Syah menikah secara agama dan mengesahkannya secara hukum menyusul setelah Richard dinyatakan bercerai secara resmi oleh pengadilan. Kedua pasangan pengantin baru itu pun berci uman bi bir mesra sekali. Lalu..
...BRAKK...
"Apa-apaan ini Richard kita belum bercerai dan kamu berani-beraninya menikah lagi hah!"
DEG
To be continued