YOUR SECRET SUGAR BABY

YOUR SECRET SUGAR BABY
Aku Tersipu



Vanya dan Pak Bagus yang menyaksikan hal itu, ikut membantu melerai pertengkaran yang terjadi antara Istri sah dan pelakor yang notabene adalah salah satu karyawan di Thompson Corp. walaupun gadis itu di ketahui adalah karyawan lepas perusahaan itu.


"Bu, jangan disini bu, ibu bisa bicara baik-baik, karena karyawan lain akan melihat, lebih baik selesaikan masalah ini baik-baik di ruang supir di sebelah sana, mari saya antarkan," Pak bagus memberi jalan untuk Ibu-ibu itu yang di ketahui sebagai istri sah pak Kohar yang bekerja sebagai kepala security di perusahaan Richard yang memiliki affair dengan seorang pekerja lepas, gadis itu bernama Yunita.


Apa nasibku akan seperti gadis itu, jika suatu hari istri Richard melabrakku, oh god bisakah aku menghadapi semua ini sendiri?


"Hai sendirian aja? mana temen-temennya?" tanya salah seorang karyawan lelaki yang sama-sama memarkirkan mobilnya di basement perusahaan besar itu.


"Iya, nggak tahu belum datang kali," jawab Vanya singkat sambil tersenyum dan mengedihkan bahunya karena teman-teman Vanya tentunya tidak akan parkir di basement kalo berangkatnya membawa motor. Lalu datanglah, beberapa karyawan pria dan wanita yang memadati lift karyawan itu. Pandangan mereka semua mayoritas t


ertuju pada sosok cantik karyawan magang yang sangat cantik siapa lagi kalo bukan Vanya Danuarta.


Setelah lift itu hampir penuh lift pun otomatis tertutup, tapi sesaat kemudian tiba-tiba ada tangan yang menahan laju pintu itu. Seseorang yang sangat  dikagumi sebagian besar karyawan disana siapa lagi kalo bukan  sang CEO yang ikut masuk berjubel di dalam sempitnya lift karyawan. Para karyawan itu terkejut melihat sosok tampan nan tinggi menjulan bak model catwalk yang tiba-tiba masuk ke dalam dan bergabung dengan mereka.


Bukankah ada lift khusus Direksi mengapa CEO mereka ikut berjubel di dalam sempitnya lift karyawan yang tersihir akan bau harum parfum mahal dari tubuh Richard yang menghipnotis suasana lift itu seketika. Vanya yang melihat hal itu pun menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Para karyawan itu tidak lupa menyapa si tampan sang CEO  yang hari itu hanya memakai jas dengan dalaman kemeja berwarna hitam sangat casual semakin memancarkan pesonanya dan Richard pun menjawab sekenanya. Mata Richard sepertinya ingin menebus kepala bagian belakangnya saat sang sugar baby berdiri dengan karyawan pria dan terlihat tertawa mesra sambil mengobrol.


God damn it sebenarnya apa yang dibicarakan gadis itu hingga tersenyum dengan tersipu seperti itu, sedangkan kepadaku dia tidak pernah tersenyum semanis itu.


Setelah sampai di lantai 10 Ara yang berdiri paling belakang dan yang keluar paling terakhir hendak keluar dari lift itu namun tangan Richard menahannya untuk tetap berada di dalam lift. Richard menutup lift itu seketika. Beruntung karyawan yang lain sudah turun dan mereka berdua pun bisa mngobrol tanpa ada yang mengganggu.


"Sayang bagaimana kalo ada yang melihat?" ucap Vanya pada Richard.


"Apa kamu suka dengan karyawan pria tadi? sampai kamu tersenyum dan tersipu malu begitu?"


"Ehem ehem heii aku sama sekali tidak berbicara dengan siapapun aku tersenyum karena geli melihat CEO ku ikut naik di lift karyawan, apa itu semua gara-gara aku, ataukah hal lain? aku kan tidak mau terlalu percaya diri, karenanya aku tersenyum, bisa-bisanya aku membayangkan sesuatu yang terlalu muluk, belum tentu juga kamu naik di lift ini karena ada aku  ya kan?" Vanya pun membuka satu per satu kancing kemeja Richard dan menyentuh dada bidang pria itu dan memainkan bulu halus didada Richard sambil merayunya agar kemarahannya mereda.


"A a a hh gadis nakal hmmm pffhhh," Richard menyerang bi bir menggoda Vanya lalu me lu matnya kasar, di gi gitnya bi bir bagian bawah Vanya hingga memberi akses untuk li dah Richard masuk dengan leluasa ke dalam dan bertukar sa liva tak lupa Richard menekan tanda hold di lift itu agar tidak terbuka.dan tetap tidak menekan tombol lantai berapa mereka akan turun.


"A hh Vanya mulai hari ini kamu menempati ruang perencanaan dan konstruksi di lantai 9,  tapi ingat jangan dekat-dekat dengan pria lain ku mohon, aku bisa gila Vanya, setiap detik setiap waktu pikiranku nggak tenang selalu memikirkan kamu." Richard dengan berat hati akhirnya melepaskan pagutannya sambil memeluk erat tubuh ramping gadis cantik itu.


"Yeeyy benarkah Richy trimakasih, datanglah ke appartment ada hadiah special untukmu, kita tidak boleh seperti ini di kantor aku tidak mau karyawanmu curiga, aku akan menemanimu sampai naik di lantai 55," Vanya pun menenangkan kekasih yang juga sugar daddy nya itu karena kecemburuan yang dia buat sendiri.


'Jangan nakal ya, i love you hmmpp ffhh," Betapa bucin nya Richard hingga di satu gedung pun pikirannya tak bisa teralihkan dari gadis cantik sugar babynya itu.


"I love you too," lalu pintu lift pun terbuka dan keduanya berpisah di lantai 55. Alda sang sekertaris pun menyaksikan hal itu bahwa Vanya ada di balik lift karyawan mengantar kepergian Richard baru saja.


"Selamat pagi pak." salam sapa Alda dengan berdiri dari kursinya saat melihat Richard melintas.


"Hmm." jawab Richard dengan sikap dingin seperti biasa, tapi aura cinta terpancar di wajah tampannya. Tanpa Richard sadari bibirnya yang masih belepotan bekas lipstik Vanya. Alda yang menyadari hal itu pun sakit hati karena cinta nya selama ini kepada Richard yang tak pernah berbalas malah tergantikan oleh gadis kuliahan berumur 20 tahun yang dewasa sebelum waktunya.


Apa-apaan gadis itu sepagi ini sudah membuat pak Richard gila dengan menaiki lift karyawan yang sekalipun tidak pernah di lakukannya selama ini. Sudah gitu bibirnya juga belepotan penuh lipstik. Dasar kecil-kecil sudah jadi ja lang.


- - -


- - -


- - -


Ruang Perencanaan


"Vanya heiii akhirnya lo udah berada di tempat yang tepat." Sambut Norman dari belakang.


"Ah iya gue lega, so aku harus ngerjain apa nih."


"Nya karena lo cewek, kayaknya lebih cocok jadi pemanis lo duduk disini nyemangatin kita aja okey?" ucap Ferry


"Haahha baiklah aku duduk manis aja kalo gitu," Vanya pun bersantai di kursi yang diapit oleh Norman dan Fery yang sedang membuat rancangan pembangunan Mall untuk Norman dan pembangunan jalan untuk Fery.


Melihat Vanya yang sepertinya belum kebagian pekerjaan, Kepala Divisi perencanaan pak Radian pun memberinya tugas untuk mengantar berkas rancangan yang harus di tanda tangani oleh pak CEO.


"Nah kamu yang namanya Vanya ya, dari tadi pak CEO nanyain kamu terus, daripada kamu jadi pemanis cowok-cowok single disini yang haus darah mending kamu antar berkas ini ke ruang pak CEO ya Nya," ucap Radian yang suka menggoda Vanya. Usut punya Usut  ternyata Radian juga satu angkatan dengan Richard di Universitas Indonesia, makanya Radian tak luput dari sasaran tembak Richard agar menjauhkan anak buah Radian yang notabene mayoritas terdiri dari lelaki itu dari Vanya.


"Baik pak Radian."


"Aduh semangatnya yang mau ketemu pujaan hati." ucap Norman dan Fery bersama-sama yang memang sudah curiga dari awal dengan kedekatan CEO Thompson Corp dengan teman cantik mereka itu.


"Apaan sih kalian, jangan bikin gosip wleeee." Vanya pun menjulurkan li dahnya tanda kesal dengan kedua temannya itu.


Sementara itu Richard di ruangannya sudah melepas kemeja dan jasnya dan berganti kaos santai karena sejatinya Richard yang sangat cuek, lagipula perusahaan besar itu miliknya jadi walaupun tidak memakai baju sekalipun tidak ada yang berani melawannya.



"Ngapain kamu?" Alda mencoba menghentikan langkah Vanya saat hendak masuk ke ruangan kekasih tampannya


"Yeee minta tanda tanganlah emang mau ngapain?" jawab Vanya dengan melawan karena merasa dirinya benar.


"Heeii udah berani ya kamu sama saya?"


"Yee nggak ada waktu gue buat ngeladenin tante," seru Vanya sambil membuka pintu ruangan Richard tanpa mengetuk terlebih dahulu tanpa dia sadari ada seorang wanita di ruangan itu.


DEG


To be continued