
Sesampainya di rumah, kami berdua hanya senyam senyum tidak jelas. Hal ini membuat ayah dan juga bunda menjadi tanda tanya
“Kalian ini, bunda perhatikan dari tadi, dari mulai sampai di rumah, kalian senyam senyum saja. Emang ada apa?” tanya bunda
“Hehehe...” ucap Kania
“Lha kok hehehe.. Jawaban macam apa itu?” ucap bunda
“Ini lho, bun. Kita tadi habis dari rumah sakit. Terus kata dokter..” mas Angga sengaja memotong omongannya
“Memang kata Dokter apa?” tanya ayah yang ikut penasaran
“Kata Dokter...” lagi-lagi dipotong
“Iya kata Dokter apa?” tanya Ayah makin penasaran
“Kata Dokter itu.. Hmm.. Anu.. Hmm... Kania hamil, yah, bund.” Jelas mas Angga
“Hamil?!” ucap bunda serasa percaya tidak percaya.
“Iya, bun. Kania sekarang sedang hamil.” Ucap mas Angga
“Oh syukurlah... Kita bentar lagi punya cucu, yah.” Ucap bunda
“Iya, bun. Kita bentar lagi punya cucu.” Sahut ayah
“Nah, biasanya kalau orang lagi hamil muda begini pasti ingin sesuatu. Kamu sekarang ingin apa, Kania?” tanya bunda
“Hmm... Sekarang sih aku belum ingin apa-apa.” Sahutku
“Oh begitu. Nanti kalau kamu sudah ingin sesuatu, bilang ya. Nanti kami akan usahakan untuk mencarikannya.” Ucap ayah
“Iya, ayah.” Sahutku
Setelah selesai ngobrol, tiba-tiba malamnya...
“Mas.. Mas... Aku ingin rujak mas. Yang isinya buah pepaya yang baru di kupas, buah melon yang juga bari di kupas, sama sambelnya yang pedas. Terus harus tukang buahnya sendiri yang buat di depanku.” Ucapku
“Apa kania? Besok saja ya kalau begitu.” Sahut mas Angga
“Tidak mau mas. Aku maunya tuh sekarang juga. Aku tidak mau besok.” Rengekku
“Hadih, cari dimana tukang buah jam segini? Kamu mah ada-ada saja.” Ucap mas Angga
“Pokoknya aku tidak mau tahu. Aku maunya sekarang ya sekarang. Tidak ada besok-besokan.” Ucapku memaksa
“Ya sudah begini saja. Gimana kalau aku carikan buahnya terus biar bunda yang buat sambalnya. Gimana?” tawar mas Angga
“Tidak mau. Aku maunya yang buat itu tukang buahnya.” Ucapku kekeh
“Hadeuh... Ya sudah.. Ya sudah.. Aku carikan dulu. Tapi kalau tidak menemukan, gimana?” ucap mas Angga
“Hadeuh... Iya.. Iya..” ucap mas Angga yang dengan berat hati melangkah
Saat sedang siap-siap pergi, ternyata ayah bangun.
“Kamu mau kemana, Angga, malam-malam begini?” tanya ayah
“Tuh yah, si kania minta rujak buah tapi yang dibuat langsung sama tukang buahnya sendiri di depan dia.” Sahut mas Angga
“Oh.. kalau begitu kamu cari buahnya, biar sambelnya, bunda yang buatkan.” ucap ayah
“Tadi aku juga udah bilang begitu yah sama Kania, tapi Kanianya tetap kekeh tidak mau. Dia maunya tukang buahnya sendiri yang buat di depan dia.” Jelas mas Angga
“Kalau begitu caranya sih repot. Mana ada malam-malam begini tukang buah?” ucap Ayah
“Ya begitulah, yah. Aku bingung.” Ucap mas Angga putus asa
“Hmm... Begini ayah ada ide. Kamu minta tolong orang lain buat pura-pura jadi tukang buah. Gimana?” ucap Ayah
“Oh ya, bisa juga tuh pake cara itu.” Sahut mas Angga
“Ya sudah sana, kamu cepet cari.” Ucap ayah
“Ya sudah deh, yah. Aku berangkat dulu.” Pamit mas Angga
Disaat yang bersamaan, bunda bangun dan tidak sengaja dengar semuanya
“Ayah... Ayah menyuruh Angga bohong ke Kania?!” tanya bunda
“Habis mau gimana lagi, bun.” Sahut Ayah
“Yah, kalau Kania tahu dia bohongi, bunda tidak bisa bayangkan dia bakalan gimana.” Ucap bunda
“Ya oleh karena itu, bun. Kania jangan sampai tahu ya. Plis.” Ucap ayah memohon
“Tahu ah.” Sahut bunda
.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like dan comentnya ya..🙏