
Ke esokan harinya, sesuai dengan yang dikatakan olehku sebelumnya, bahwa aku yang akan membalas mereka.
“Mas, tolong, mulai hari ini berpura-puralah tidak suka padaku dan dekati dia. Buat dia merasa berhasil dengan rencananya. Begitu juga denganku. Aku akan berpura-pura frustasi dengan sikapmu ke aku dan mendekati Santo. Setelah mereka jatuh kedalam perangkap kita, kita akan bongkar semua sikap busuk mereka di belakang kita.” Ucapku sebelum berangkat kuliah
“Apa dek? Aku disuruh mendekati Clarita?” tanya mas Angga terkejut
“Iya. Pokoknya sampai dia mati sama cintanya sendiri.” Ucapku emosi
“Hadeuh.. Hadeuh.. Ya sudahlah. Aku coba sebisa mungkin ya. Tapi ingat kamu dan Santo jangan jadi serius ya.” Pesan mas Angga
“Tidak akan mas. Aku, walau tidak ada mas sekali pun, aku tidak akan pernah suka sama orang licik seperti itu.” Sahutku emosi
“Ya sudah.. Ya sudah.. Ayo kita berangkat.” Ucap mas Angga
Setelah hampir sampai di Area kampus, aku minta diturunkan agak jauh agar tidak ketahuan oleh Clarita dan juga santo.
Sesampainya di kampus, aku pun langsung disambut oleh Clarita dan juga Santo
“Hai Kania, kenapa kamu melamun saja?” tanya Kania
“Eh kamu, Ta. Aku tidak kenapa-kenapa kok.” Ucapku
“Kamu masih mikirin gosip itu?” tanya Santo
“Tidak juga kok.” Sahutku singkat
“Lha kalau kamu tidak pikirin itu, kenapa juga mukamu itu kusut kaya benang.” Ucap Clarita
“Ini semua gara-gara...” Ucapanku terpotong karena tiba-tiba saja HP Clarita berbunyi
“Eh maaf.. Aku angkat telepon dulu. Kalian teruskan saja ngobrolnya.” Ucap clarita sambil menjauh dari aku dan Santo
Sementara Clarita sedang menjawab telepon, aku dan santo meneruskan obrolan.
“Eh tadi kamu bilang apa? Emang gara-gara apa kamu jadi kusut begini?” tanya Santo
“Oh itu, gara-gara mas Angga yang sudah tuduh aku selingkuh.” Sahutku pura-pura tidak semangat
“Selingkuh? Maksud kamu apa?” tanya Santo
“Iya begini ceritanya, beberapa hari yang lalu ada yang mengirim fotoku sedang bersama cowo lain. Padahal aku tidak tahu siapa cowo itu.” Jelasku
“Memang kamu tidak menjelaskan ke dia?” tanya Santo
“Masa’ mas Angga begitu sih, Kania?” tanya Santo yang tidak percaya
“Ya begitulah, San. Aku tidak tahu lagi harus ngomong apa sama dia.” Ucapku pura-pura putus asa
Tak lama kemudian, Clarita datang
“Eh sori.. sori.. Aku kaya’nya tidak bisa masuk kuliah deh sekarang. Masalahnya gebetanku ngajakin ketemuan.” Ucap Clarita yang kelihatan sumringah
“Ya sudah sana.” Ucap Santo sementara aku pura-pura tidak fokus
Setelah Clarita pergi, si santo pun mulai beraksi dengan mendeketi aku
“Ya sudah.. Ya sudah.. Tidak usah sedih lagi. Kan ada aku yang siap mendengarkan cerita dari kamu. Dan yang lebih penting, yang percaya sama kamu.” Ucap santo
“Beneran kamu percaya sama aku?” tanyaku
“Yo’i coy, aku percaya banget sama kamu.” Ucap santo mantap
Di tempat lain, ternyata Clarita sedang janji ketemuan sama mas Angga
“Hai, mas Angga. Sudah lama nunggunya?” tanya Clarita yang baru saja sampai
“Tidak kok. Aku juga barusan sampai.” Sahut mas Angga
“Oh syukurlah kalau begitu.” Ucap Clarita
“Trus ada apa mas ingin ketemu sama aku?” tanya Clarita
.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like dan comen nya ya...🙏