
“Clarita, dengarkan aku. Kami bukanlah saudara. Aku dan Kania, dari awal memang sudah dijodohkan dari kami kecil dan perasaanku ke Kania juga sama sekali bukan kasih sayang sebaga saudara. Kasih sayang ini dari awal adalah Cinta. Jadi tidak ada hubungannya dengan kasih sayang saudara atau bukan. Dan mengenai kamu, maaf. Aku tidak bisa membalas perasaanmu, karena aku tidak mungkin mencintai kamu.” Jelas mas Angga tegas
“Jadi begitu. Setelah apapun yang aku lakukan, tetap tidak akan bisa mengubah perasaan mas ke aku ya?!” ucap Clarita lirih dan mas Angga pun hanya mengangguk
“Ya sudah. Aku balik dulu. Aku takut kalau kania akan mencariku.” Ucap mas Angga yang kemudian meninggalkan Clarita seorang diri di ruangan itu.
Setelah meninggalkan LP, mas Angga langsung kembali ke Rumah sakit. Sesampainya di Rumah sakit, mas Angga melihatku sedang bersendagurau denga ayah dan juga bunda
“Waduh, yang bahagia ditemani oleh ayah dan bunda. Sampai lupa suami sendiri pergi.” Goda mas Angga
“Ye.. Untuk apa juga aku cari mas. Kan disini sudah ada ayah dan bunda.” Ucapku.
“Iya.. Iya..” sahut mas Angga
Ketika kami sedang asik bersendagurau, tiba-tiba Dokter datang.
“Permisi semuanya.” Ucap dokter itu
“Eh dokter. Mari silahkan masuk, Dok.” Ucap Ayah
“Gimana kabar kamu, Kania?” tanya dokter itu
“Sudah jauh lebih baik, Dok.” Sahutku
“Oh syukurlah. Begini. Kedatangan saya ke sini itu untuk memberikan dua kabar baik pada kalian.” Ucap Dokter itu
“Kabar baik apa, Dok?” tanya mas Angga penasaran
“Kabar baik yang pertama adalah mba Kania besok sudah boleh pulang.” Ucap Dokter
“Benarkah itu, Dok? Saya besok sudah boleh pulang?” tanyaku memastikan
“Iya.” Sahut dokter itu
“Lalu kabar baik yang ke dua apa, Dok?” tanya mas Angga
“Kabar baik yang kedua itu adalah kaki Kania masih bisa berjalan kembali.” Ucap dokter itu
“Benarkah?” tanya ayah
“Iya, pak. Setelah melakukan beberapa kali pemeriksaan, ternyata kelumpuhan yang diderita oleh mba Kania itu tidak bersifat permanen. Jadi masih bisa disembuhkan dengan terapi rutin dan juga banyak latihan di rumah.” Jelas Dokter tersebut
“Oh syukurlah. Akhirnya aku bisa kembali berjalan.” Ucapku bahagia
“Lalu kapan kira-kira saya bisa mulai bisa terapinya, Dok?” tanyaku yang sudah ga sabar
“Kan aku penasaran, mas.” Sahutku
“Iya, mba Kania. Nanti untuk jadwal terapi, akan ada dari pihak kami yang memberikan jadwalnya kepada mba.” Jelas Dokter itu
“Tuh kan. Apa aku bilang.” Ucap mas Angga yang sok
“Oh begitu. Tapi pemberitahuannya secepatnya kan ya, Dok?” tanyaku
“Iya, mba Kania. Nanti segera akan ada pemberitahuan masalah jadwalnya.” Jelas Dokter itu
“Maaf, Dok. Kania memang seperti itu. Tidak sabaran.” Ucap Mas Angga
“Iya tidak apa-apa kok, pak. Saya bisa mengerti posisi mba Kania yang ingin sekali cepat bisa jalan kembali.” Ucap Dokter itu
“Ya sudah. Saya kira, saya sudah sampaikan dua kabar baik ini pada kalian. Sekarang saya mau pamit dulu. Mau mengunjungi pasien yang lainnya lagi.” Ucap Dokter itu
“Iya, Dok. Makasih banyak.” Sahut ayah dan Dokter itupun pergi
“Bun, akhirnya aku bisa jalan lagi.” Ucapku ke bunda
“Iya, sayang. Selamat ya.” Ucap bunda
“Terlalu dini bun, kasih ucapan selamatnya.” Celetuk mas Angga
“Biarkan saja ya, Bun. Toh juga aku akan tetap berusaha agar aku benar-benar bisa berjalan lagi.” Ucapku sambil memeluk Bunda
“Iya.. Iya..” sahut bunda
.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like dan coment nya...🙏