
Setelah sampai di kantor, suasana hatiku jadi semakin buruk. Entahlah.. Tapi ini sungguh tidaklah enak.
‘tut.. tut.. tut..’ telepon di atas mejaku berbunyi
“Hallo..” ucapku
“Kania, kamu bisa masuk ke ruanganku sebentar.” Pinta mas Angga
Setelah mendengar hal itu, aku pun langsung ke ruangan mas Angga.
“Ada apa, mas?” tanyaku
“Kamu tadi kenapa waktu sarapan?” tanya mas Angga
“Memangnya aku kenapa?” aku balik nanya
“Kamu kenapa malah balik nanya ke aku sih ?!” sahut mas Angga
“Terus kalau aku tidak balik tanya, memangnya mas mau jawaban apa dari aku?” ucapku ketus
“Kania.. Kamu itu kenapa sih?” tanya mas Angga nenurunkan suaranya
Saat mas Angga bicara seperti itu. Tiba-tiba pintu di ketuk
“Masuk..” ucap Mas Angga
Yang di luarpun akhirnya masuk ketika mendengar ucapan mas Angga
“Hai Angga, lagi sibuk? Oh ada kania. Kania kerja di sini juga ya rupanya.” Ucap yani
“Hm..” jawabku singkat dengan senyum yang dipaksakan
“Pak Angga, bapak mau jawabannya kan? Nih, jawabannya datang sendiri. Tolong bapak pikirkan baik-baik. Saya mau keluar. Permisi..!!” ucapku ketus
Mas Angga yang mendengarkan jawabanku barusan, tiba-tiba tersenyum.
“Angga, tadi maksud Kania apa ya?” tanya Yani bingung
“Oh.. Dia itu lagi ada sedikit masalah pribadi.” Jawab mas Angga
“Masalah apa?” tanya Yani kepo
“Sudahlah jangan dibahas. Kamu.. Kamu ngapain datang ke sini?” tanya mas Angga heran
“Masa’ aku mau ketemu teman dekat aja harus minta ijin dulu?!” ucap yani genit sambil mendekati mas Angga
“Maaf Yani, hubungan kita adalah masa lalu. Aku tidak ingin ngungkit-ngungkit masalah yang sudah lalu.” Ucap mas Angga tegas.
“Angga, tapi aku masih cinta sama kamu. Kamu tahu tidak sih?” Ucap Yani manja
“Maaf yan, kita sudah tidak bisa seperti dulu lagi. Jadi aku mohon, berhentilah berharap padaku.” Ucap Angga
“Kalau memang sudah tidak ada yang mau dikatakan lagi, aku mohon sama kamu untuk segera keluar dari ruangan ini. Karena aku sedang sibuk.” Ucap mas Angga tegas.
“Angga, kamu kejam. Kamu lihat saja nanti. Kamu suatu saat nanti akan menjadi milikku lagi.” Gumam Yani
******************************
“Eh kania, kamu di sini jadi sekretaris ya?” tanya Yani kepo begitu dia keluar dari ruangan mas Angga
“Memang kenapa kalau aku jadi sekretaris disini ?” tanyaku heran
“Aku mah memang enak donk. Tidak usah jadi sekretaris pun aku bisa dekat dengan mas Angga.” Ucapku sinis
“Iya tapi dekatnya kamu itu tidak mungkin bisa lebih deket dari saudara. Iya kan?!” ucapnya tidak kalah sinis
“Biarkan saja. Biarpun tidak mungkin, tapi kan aku masih tetap bisa deket. Daripada kamu yang susah dekat sama mas Angga.” Ucapku lebih-lebih tidak mau kalah
“Huh..” gumamnya sambil melangkah pergi meninggalkan kantor
Mas Angga yang dari tadi diam-diam memperhatikan kami dari dalam ruanganpun cuma bisa tersenyum.
“Kania.. Kania.. Apakah kamu tidak sadar kalau kamu itu sedang cemburu?!” gumam mas Angga
******************************
Akhirnya satu hari berlalu. Betapa beratnya hari ini. Aku ingin sekali rasanya cepat sampai di rumah dan tidur
“Kania, kamu mau kemana?” tanya mas Angga saat keluar dari ruangan kantornya.
“Aku mau pulang, mas.” Ucapku
“Ikut aku. Jangan pulang dulu.” Pinta mas Angga
“Harus ya mas? Aku sudah mengantuk ingin cepet pulang.” Ucapku
“Harus ! Sebentar saja kok. Tidak lama.” Mohon mas Angga
"Ya sudah deh. Tapi jangan lama-lama ya.” Ucapku memastikan
“Iya sayang.” Ucapnya lembut
******************************
“Mas, ini dimana?” tanyaku
“Masuklah. Nanti kamu juga akan tahu sendiri setelah kamu masuk.” Ucap mas Angga
Setelah mendengar ucapan mas Angga, aku pun masuk. Dan sesampainya aku di dalam, aku melihat sebuah video yang sedang di putar.
Video itu menampilkan semua tentang apa yang aku lakukan selama ini.
“Mas, ini apa?” tanyaku terkejut
“Itulah hal semua yang aku lihat dari dirimu. Dari kamu kecil, hingga dewasa. Semua tingkah lakumu yang selalu membuatku ingin cepat pulang ketika aku pergi.” Jelas Mas Angga
“Kania, maukah kamu memberiku kesempatan untuk aku bisa menikahimu?” ucap Mas Angga
.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa comen dan likenya ya..🙏