You're always my mine...

You're always my mine...
Part 41



“Sudah jelas-jelas salah, tapi tidak mau mengaku. Begitu sekali ya jadi orang?!” ucap salah satu mahasiswa


“Iya. Tahu tuh. Mau berbuat tapi tidak mau bertanggungjawab.” Ucap mahasiswa lainnya


Mendengar celotehan-celotehan teman-temannya, Clarita dan Santo pun menjadi terpojok


“Iya.. Iya.. Aku akui aku salah. Tapi Kania, aku tuh sayang banget sama kamu. Kenapa kamu lebih memilih kakak kamu di banding aku?” tanya Santo


“Eit.. Eit.. Coba tolong ya di ralat. Aku tuh bukan kakaknya. Aku ini tunangannya dan sekarang sudah jadi suaminya.” Ucap mas Angga


“Iya.. Tapi suami yang sudah mau menceraikan istrinya. Iya kan mas Angga?” ucap Clarita


“Cerai? Apa benar itu, Angga?” tanya Bunda


Lalu mas Angga pun diam dan kemudian tersenyum sinis


“Sungguh menggelikan ucapan itu.” Ucap mas Angga dengan sinis


“Maksud mas apa? Bukannya waktu itu mas bilang mau menceraikan Kania?” tanya Clarita bingung


“Siapa yang bilang? Perasaan aku tidak pernah bilang begitu.” Sahut Mas Angga


“Ya walaupun mas tidak bilang pasti mau menceraikan Kania, tapi mas kan bilang kalau mas menyesal sudah nikah sama dia. Terus kalau menyesal kenapa tidak cerai saja sekalian?!” ucap Clarita


“Hahaha.... Hai Clarita, dengar ya, menyesal? Kamu bilang aku menyesal sudah nikah sama Kania? Hah.. Yang ada tuh aku menyesal sekali sudah bilang ke kamu kaya’ gitu cuma buat supaya kamu percaya dengan apa yang sudah kami rencanakan untuk kamu dan Santo.” Ucap mas Angga


“Jadi, selama ini yang mas ucapkan ke aku itu hanya sandiwara saja?!” ucap Clarita terkejut


“Iya. Ini adalah bentuk pembalasan sakit hati yang kami lakukan terhadapmu.” Ucap mas Angga lagi


“Oh.. Jadi begitu. Kania, kamu ini benar-benar perempuan murahan yang tidak tahu diri.” Hardik Clarita dan kemudian tiba-tiba...


‘plak..’ pipi Clarita di tampar oleh bunda


“Tadi kamu bilang apa, hah? Siapa yang kamu bilang perempuan murahan yang tidak tahu diri?” ucap Bunda mulai emosi


“Eh dengar ya, kamu. Kamu itu lebih murahan dan tidak tahu diri dibandingkan dengan orang yang yang kamu bilang tadi. Asal kamu tahu ya, walaupun di dunia ini tidak ada Kania, bunda dan Ayahnya Angga tidak akan pernah mau punya menantu seperti kamu yang licik seperti ini. Kamu tahu itu. Dengar tidak?!” ucap bunda yang sudah emosi


“Apapun alasan yang kamu ucapkan, bunda tidak mau dengar. Bunda tidak suka sama kamu.” Ucap bunda


“Nah sekarang aku minta pada pihak kampus untuk segera memberikan hukuman pada mereka.” Ucap ibu dingin.


Tak selang berapa lama, pihak kampus pun membawa Clarita dan juga Santo untuk menerima sanksi.


Sementara aku dan mas Angga pun akhirnya bisa bernafas lega.


“Angga, tahu g?! Tadi bunda pikir, kamu itu beneran mau menceraikan Kania?” ucap Bunda


“Ya tidaklah, bun. Itu semua hanya sandiwara yang kami buat saja.” Jelas mas Angga


“Kalian ini ya. Bikin Bunda jadi cemas saja.” Ucap bunda


“Iya, bun. Maafkan kami ya, bun.” Ucap mas Angga


“Iya bunda maafkan. Tapi lain kali kalau punya rencana apapun, kalian bilang-bilang dulu ya ke bunda.” Ucap bunda


“Iya, bun.” Sahut mas Angga sambil masih memeluk pinggangku.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Jangan lupa like dan comentnya ya..🙏