
Setelah mendengar penjelasanku, mas Angga pun akhirnya memeriksa laporan dari laporan sebelum-sebelumya. Ternyata di sana banyak terjadi mark up (pembengkakan dana yang tidak sesuai).
Setelah tahu letak kesalahannya dimana, mas Angga pun bingung cara menyelidiki hal ini.
“Satu-satunya cara yaitu minta bantuan Kania untuk menyelidiki ini. Secara mereka yang di kantor kan belum tahu identitas Kania yang sebenarnya dan ini juga salah satu keahlian Kania.” Pikir mas Angga
“Ya aku harus minta tolong padanya.” Gumam mas Angga lagi
Setelah menggumam seperti itu, mas angga pun mencariku di kamar. Dan lagi-lagi aku sudah tertidur pulas.
“Ckckkck.. Kania.. Kania.. Dasar kamu ini kucing kecil. Cepat sekali kamu tidur. Ya sudahlah besok saja kalau begitu.” Ucap mas Angga lirih sambil pelan-pelan menutup pintu kamar
******************************
Keesokan paginya, mas Angga bangun lebih awal dariku.
“Mas... Mas masih penasaran dengan laporan yang semalam?” tanyaku setelah rapih
“Iya. Eh kamu mau ke kampus ya?” tanya mas Angga
“Ya iyalah mas aku mau ke kampus. Memang kenapa mas?” tanyaku
“Ya sudah, nanti siang, mas jemput kamu. Masalahnya mas mau minta tolong buat kamu menyelidiki sesuatu.” Ucap mas Angga
“Menyelidiki sesuatu? Apa itu?” tanyaku penasaran
“Iya, sini coba kamu lihat ini. Menurut kamu gimana?” tanya mas Angga
“Ini... Ini bukannya ada mark up ya?! Kok bisa? Memang selama ini tidak pernah ada audit internal apa masalah laporan keuangan?” tanyaku setelah beberapa saat memperhatikan laporan itu
“Kurang tahu juga. Selama ini, perusahaan kan ayah yang pegang. Sedangkan aku pegang perusahaan baru-baru ini saja.” Ucap mas Angga
“Oh iya, benar juga.” Ucapku sambil mengangguk
“Dek, kamu bisa kan siang ini bantu mas buat menyelidiki ini?” pinta mas Angga
“Oh ya sudah. Aku usahakan. Tapi sebelumnya aku minta tolong sama mas buat kumpulin semua bukti fisik. Baik Nota, bon, atau invoice yang berkaitan dengan harga pembelian barang. Tentunya di mulai dari awal laporan yang bermasalah.” Pintaku
“Oh begitu. Baiklah kalau begitu. Jangan lupa nanti siang mas jemput kamu.” Ucap mas Angga
“Baiklah mas.” Jawabku
******************************
Setelah mas Angga mengantarku sampai kampus, aku pun langsung masuk ke dalam. Disana aku bertemu dengan Clarita
“Hai, Kania.” Sapanya
“Hai..” jawabku singkat
“Aku kira kamu tidak kuliah.” Ucap Clarita
“Kuliah lah. Masa’ aku tidak kuliah sih.” Ucap ku
“Oh. Tidak kok. Mas Angga diam saja.” Ucapku ngasal
“Oh begitu ya?!” ucap Clarita dan aku pun mengangguk
“Eh iya, Kania. Kamu tahu tidak perempuan yang sebenarnya mas Angga cintai itu siapa?” tanya Clarita
Mendengar pertanyaan itu, aku hanya diam saja.
“Kania, kamu kok diam sih. Aku lagi nanya lho.” Ucap Clarita
“Eh iya.. iya.. tadi kamu bilang apa?” tanyaku pura-pura tidak mendengar
“Ish ni anak. Tadi aku tanya ke kamu, siapa sebenernya perempuan yang akan dia nikahi?” tanyanya sekali lagi.
“Oh masalah itu lebih baik, biar mas Angganya sendiri yang kasih tahu.” Ucapku
Sebenernya dalam hatiku, bukannya tidak mau kasih tahu, hanya saja tidak tahu caranya untuk memberitahu.
“Hadeuh mas Angga.. Mas Angga. Apa sih bagusnya dirimu sampai-sampai mereka pada suka padamu.” Gumamku dalam hati
Setelah beberapa mata kuliah sudah selesai, kini waktunya pulang.
“Tapi eits.. Ini clarita kenapa nempel terus ya?!” gumamku ketika hendak keluar
“Aku harus cari cara buat menjauh dari dia.” Gumamku lagi.
“Eh ya Clarita, kamu memang tidak ada kelas lagi?” Tanyaku
“Tidak. Memang kenapa?” tanyanya
“Ya sudah kamu duluan deh. Aku masih mau makan dulu di kantin.” Ucapku
“Ya sudah aku ikut kamu ke kantin deh. Aku juga lapar.” ucapnya
"Ya sudah. Ayo.” Ucapku
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa comen dan likenya ya..🙏