
Keesokan harinya, sesuai dengan yang dikatakan oleh Dokter, aku sudah boleh pulang.
Dan seperti biasa, sebelum keluar dari rumah sakit, ada beberapa prosedur yang harus di urus terlebih dahulu.
Setelah menunggu beberapa saat, prosedur kepulangan pun sudah selesai. Ternyata di berkas-berkas kepulangan, terdapat selembar kertas yang berisi jadwal terapi
“Oh ternyata terapinya dilaksankan tiga kali dalam seminggu?!” ucapku ketika membaca jadwal itu
“Gimana? Sudah tidak penasaran lagi, kan?” tanya mas Angga
“Iya, mas.” Sahutku
“Ya sudah, ayo kita pulang. Ayah dan bunda sudah menunggu di bawah.” Ucap mas Angga yang menggendongku ke kursi roda
Setelah beberapa saat, akhirnya aku sampai di depan mobil. Aku pun langsung di bantu lagi untuk duduk di dalam mobil oleh ayah. Sementara mas Angga melipatkan kursi roda untukku.
Di perjalanan, aku sangat tidak sabar sekali menantikan kapan sampai di rumah.
Setelah beberapa saat melakukan perjalanan, akhirnya kami sampai juga di rumah
“Sungguh bahagianya bisa pulang lagi ke rumah ini.” Ucapku lega
“Kamu ingin di masak kan apa Kania?” tanya bunda
“Apa saja bun. Semua masakan bunda, aku suka.” Ucapku
“Ah kamu ini bisa saja.” Ucap bunda
“Dih si bunda. Aku itu serius. Semua masakan bunda, aku pasti suka.” Ucapku jujur
“Ya sudah, sambil menunggu masakannya jadi, kamu istirahat dulu di kamar sana.” Ucap bunda
“Tidak mau ah, bun. Masa’ dari di rumah sakit sampai sekarang ada di rumah, aku di suruh tidur terus.” Ucapku
“Ya sudah, terserah kamu saja mau kemana. Nanti kalau masakannya sudah jadi, bunda panggil deh.” Ucap bunda
“Baik bun.” Sahutku dan kemudian meminta tolong pada mas Angga untuk membawaku ke taman deket rumah
Sesampainya di taman, aku merasakan udara yang begitu sejuk sekali. Karena semenjak di Rumah sakit, aku hampir tidak bisa menghirup udara luar.
“Eh mas, jadi sebenarnya siapa yang udah buat rem mobil kita blonk?” tanyaku tiba-tiba
“Kok tahu-tahu kamu tanya masalah itu?” tanya mas Angga heran
“Ya aku tuh penasaran saja. Emang tidak boleh ya?!” ucapku
“Ya tidak apa-apa sih.” Sahut mas Angga
“Jadi siapa mas?” tanyaku lagi
“Iya, mas.” Sahutku
“Sebenarnya yang sudah membuat rem mobil kita blonk itu, Clarita.” Ucap mas Angga
“Apa mas?” ucapku tidak percaya
“Iya. Dia yang buat kita semua celaka. Dan sekarang dia sudah di penjara.” Ucap mas Angga
“Tapi kenapa sampai segitunya sih mas?” ucapku yang tidak habis pikir
“Ya ini semua gara-gara cintanya ke aku dan juga rasa tidak sukanya dia ke kamu.” Jelas mas Angga
“Oh begitu. Jadi dia tidak bisa menerima kenyataan ya, mas?!” ucapku dan mas Angga pun mengangguk
“Oh..” sahutku
Setelah mengobrol bebarapa saat, kami pun memutuskan untuk pulang. Dan sesampainya di rumah, ternyata masakan bunda sudah matang. Dan kami pun makan bersama
***********************************
Keesokan harinya, tiba di mana jadwal terapi mulai dilaksanakan. Awal-awal rasanya kaki ini sangat sulit sekali digerakan.
Jangankan untuk berdiri dan berjalan, untuk di tekukkan dan diluruskan saja, sangat sulit.
“Aku harus semangat. Aku harus kuat. Dan aku harus bisa.” Gumamku dalam hati menyemangati diriku sendiri
“Gimana sayang, kamu lelah?” tanya mas Angga yang menemaniku terapi dan aku pun mengangguk
“Ya sudah. Sabar saja ya. Namanya juga baru terapi yang pertama. Pasti masih sulit.” Ucap mas Angga memberikan hati yang besar padaku
“Terimakasih, mas.” Ucapku dan mas Angga pun mengangguk sambil tersenyum
.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like dan comentnya..🙏