You're always my mine...

You're always my mine...
Part 43



Sudah 2 hari aku di rawat di rumah sakit. Aku masih belum bisa menerima kondisi kakiku yang seperti ini. Walaupun mas Angga selalu berusaha meyakinkanku bahwa tidak akan ada yang berubah diantara kami, tapi aku masih saja merasa bahwa aku ini sudah tidak pantas menjadi anggota keluarga Galih


Ketika aku sedang merasa putus asa seperti itu, datanglah seseorang.


“Gimana keadaanmu?” tanya orang yang tak lain adalah Clarita


“Eh kamu, Ta. Kamu untuk apa ke sini dan kamu juga tahu darimana kalau aku ada di sini?” tanyaku dengan nada tidak nyaman


“Kok kamu begitu banget sih, Kania?! Aku kan cuma ingin menjenguk kamu saja. Masa’ tidak boleh?! Masalah aku tahu darimana kamu ada di sini, itu aku tahunya dari anak-anak di kampus.” Jelas Clarita


“Terus...?!” ucapku tidak percaya


“Terus apa maksud kamu, Kania?” ucap Clarita


“Sudahlah... kamu tidak usah basa basi busuk deh. Kamu bilang saja yang sebenarnya apa tujuan kamu datang ke sini.” Ucapku yang tahu percis dengan karakter Clarita


“Ya sudah, berhubung kamu maksa aku buat bilang, aku bakal bilang. Tujuan aku ke sini itu buat kasih saran ke kamu supaya lepasin mas Angga. Sebab kamu tuh sudah tidak pantas buat mas Angga.” Ucap Clarita


“Atas dasar apa lamu bilang kalau aku tidak pantas?” tanyaku


“Hei.. kamu coba sadar diri donk. Kamu itu sudah cacat. Mana mungkin kamu pantas bersanding dengan mas Angga yang sempurna itu.” Ucap Clarita


“Kalau aku tidak pantas buat mas Angga, terus kamu yang pantas, gitu?!” ucapku sinis


“Ya itu sih terserah kamu saja. Mau tahu diri atau tidak. Kalau aku jadi kamu sih, aku sudah malu banget buat berhadapan dengan mas Angga.” Ucap Clarita


“Kamu tuh ya. Benar-benar iblis. Hati kamu tuh tidak ada iba-ibanya sama sekali. Oke kalau gitu, aku turuti maunya kamu itu. Kamu puas?” ucapku.


“Lagipula aku juga pingin tahu, sampai dimana ketulusan mas Angga kepadaku.” Gumamku dalam hati


“Hahaha... Ternyata akhirnya kamu pasrah juga, Kania.” Ucap Clarita


“Terserah kamu saja mau bilang apa. Sekarang kalau kamu sudah tidak ada urusan lagi sama aku, kamu mending keluar saja sana. Pergi dari sini. Aku tidak mau lihat muka kamu lagi.” Ucapku emosi


“Ok. Aku keluar. Tapi kamu harus ingat ma ucapanmu. Kamu bakalan lepaskan mas Angga.” Ucap Clarita


“Iya. Aku ingat kok. Kamu tidak usah khawatir.” Ucapku


Beberapa saat kemudian, mas Angga pun datang


“Kamu kenapa sayang?” tanya mas Angga yang melihatku terdiam


“Mas, aku tidak apa-apa. Mas tidak usah khawatir.” Sahutku menutupi keadaan yang sebenarnya


“Oh ya mas, ayah ma bunda kemana ya? Kok dari awal aku dirawat, aku tidak pernah lihat mereka?” tanyaku


“Oh, mereka juga dalam taraf pemulihan sayang. Kamu tidak usah terlalu banyak berpikir ya.” Ucap mas Angga


“Oh begitu rupanya. Tapi mereka tidak kenapa-kenapa kan?” tanyaku memastikan


“Iya mereka tidak kenapa-kenapa.” Sahut mas Angga


***********************************


Keesokan harinya, aku putuskan untuk bilang ke mas Angga kalau aku ingin minta bercerai.


Tadinya aku seperti ini karena ingin mengetahui seberapa besar ketulusan mas Angga terhadapku, tapi sekarang aku lebih merasa kalau keluarga mas Angga sudah berbeda padaku.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Jangan lupa like dan comennya...🙏