
Saat Angga menciumku ini, ada perasaan yang sangat hangat sekali. Tapi apa iya, perasaan ini perasaan cinta.
“Mas Angga, kenapa mas Angga menciumku seperti ini?” tanyaku sambil memandang wajah mas Angga
“Mas tolong jujur. Sebenarnya apa yang sudah terjadi?” tanyaku lagi
“Dek, mas sudah tidak bisa tahan lagi dengan perasaan mas sendiri. Perasaan yang mas simpan selama kurang lebih 18 tahun ini.” Ucapnya lirih
“Apa mas bilang. Berarti mas suka sama aku dari aku bayi?” tanyaku tak habis pikir
“Iya dek.” Jawabnya singkat
“Mas, tapi kan mas tahu kalau kita ini saudara. Tidak mungkin buat kita menjalin hubungan.” Ucapku
“Bukan, kamu bukanlah adik kandungku. Aku adalah calon suamimu.” Ucap mas Angga yang membuat aku seperti di sambar petir
“Mas, mas jangan gila begitu. Jangan mentang-mentang mas suka sama aku, lalu mas bilang kalau aku bukanlah anak ayah dan bunda.” Ucapku masih tidak percaya
“Terserah kalau kamu tidak percaya. Tapi yang pasti, perasaanku sama kamu itu adalah yang sesungguhnya.” Ucap Angga tegas
Aku hanya bisa diam tidak habis fikir kenapa hari ini begitu banyak ungkapan yang aku sendiri tidak percaya.
“Dan untuk membuktikan bahwa aku ini calon suamimu, malam ini aku akan tidur di sini.” Ucap mas Angga yang tanpa menunggu jawabanku, langsung tidur
******************************
Keesokan paginya, aku terbangun dari tidurku dan merasa bahwa yang terjadi semalam adalah mimpi.
Namun ketika aku duduk dan menengok ke samping, aku terkejut malihat mas Angga yang sedang tertidur lelap di sampingku.
“What ? Ini tuh bukan mimpi ternyata. Dan ciuman serta pernyataan semalam itu benar-benar terjadi.” Pikirku
Lalu aku pun lekas bangun dan mandi. Ya walaupun hari ini kantor libur, tapi aku tidak ingin berlama-lama dekat dengan mas Angga
******************************
“Kania, kamu sudah bangun?” tanya bunda
“Iya, bun.” Jawabku
“Mas Anggamu mana?” tanya bunda yang memang sudah tahu kalau anaknya itu semalam tidur di kamarku
“Mas Angga masih tidur, bun.” Jawabku
“Oh..” ucap bunda
Setelah mereka ngobrol-ngobrol sedikit, akhirnya mas Angga pun datang
“Nak, gimana tidurnya semalam?” tanya bunda kepo
“Nyenyak bun. Apalagi tidurnya di temani kania.” Ucap Angga datar sambil melirik Kania
“Mas, kamu ini ngomong apa sih?” ucapku mencoba menutupi
“O ya, ada yang mau ayah bilang ke kalian berdua. Mungkin untuk satu minggu ini, kami akan pergi keluar kota untuk menghadiri undangan pernikahan relasi ayah. Kalian berdua akur ya. Jangan berantem.” Ucap ayah
“Ayah, aku boleh ikut tidak?” Tanyaku yang berharap di ajak karena merasa takut dengan mas Angga
“Tidak bisa sayang. Kamu kan tidak suka ke acara seperti ini. Lagipula kamu kan harus bantu-bantu mas mu di kantor.” Ucap ayah
“Ya ayah.. trus nanti kalau mas Angga ngapa-ngapain aku gimana?” tanyaku
“Ya tinggal nikahkan kalian berdua saja. Ya kan, yah?” ucap bunda dan ayah pun mengangguk
Mas Angga yang mendengar apa yang bunda katakan, seketika tersenyum. Ternyata ayah dan bundanya sudah memberi lampu hijau padanya.
“Ayah.. Jangan aneh deh. Aku sama mas Angga kan saudara. Mana mungkin kami menikah.” Sanggahku
“Mungkin kok.” Ucap bunda
“Bun, kapan kalian akan berangkat?” tanya mas Angga mengalihkan topik pembicaraan
“Mungkin siang ini, nak.” Jawab bunda
“Perlu Angga antar, bun?” tawar Angga
“Boleh. Tapi Kania juga harus ikut buat nganterin juga.” Pinta bunda
Aku yang dari tadi tidak habis pikir dengan keluarga ini, hanya bisa diam mematung.
“Kania.. Gimana? Kamu ikut mengantar kami kan?” tanya bunda yang seketika menyadarkanku
“Iya, bun.” Jawabku
“Tapi sebelum bunda dan ayah berangkat, ada yang mau bunda sampaikan ke kamu. Nanti kita bicara di kamar bunda ya, sayang. Setelah ini.” Pinta bunda dan aku pun mengangguk
.
.
.
.
.
Bersambung..
Kira-Kira apa yang mau disampaikan bunda ke kania ya?
Tunggu jawabannya di next episode..😉
Jangan lupa comen dan likenya..🙏