
Beberapa hari kemudian, ayah dan juga bunda akhirnya datang menengokku
“Ayah, bunda... Aku kangen banget sama kalian. Aku kira kalian tidak sayang lagi sama aku.” Ucapku sambil terisak-isak dan memeluk bunda
“Tidak sayang. Mana mungkin Ayah sama bunda tidak sayang sama kamu lagi. Sudah jangan menangis. Kami kan sekarang ada disini. Menengok kamu.” Sahut Ayah
“Beneran yah? Ayah tidak bohongkan?” tanyaku memastikan
“Benar. Mana mungkin ayah bohong sama anak kesayangan ayah ini.” Sahut ayah
“Makasih ayah, makasih bunda.” Ucapku sambil meluk ayah
“Sudah.. Sudah.. Kalau sudah kumpul, pasti deh lupa sama aku.” Protes mas Angga
“Iya.. Iya.. Sini gabung sama kita.” Ucap bunda
Tak selang berapa lama, ada dari pihak kepolisian yang datang mencari kami
“Permisi, apa bapak yang bernama Bapak Galih?” tanya salah satu polisi itu
“Iya benar. Ada apa ya?” tanya Ayah
“Begini, beberapa waktu yang lalu kami menemukan bukti kalau ternyata ada seseorang yang membuat rem mobil kalian blong.” Jelas polisi itu
“Benarkah?!” tanyaku
“Iya. Itulah hasil dari penyelidikan kami. Apakah diantara kalian memiliki musuh? Atau orang yang tidak suka dengan kalian?” tanya polisi itu
“Tunggu sebentar, biar kami pikirkan dulu.” Ucap Ayah
“Ayah, apa mungkin orang itu Clarita atau Santo?” ucapku
“Oh iya benar juga. Bisa jadi itu mereka. Tapi kita kan tidak bisa asal tuduh tanpa bukti.” Ucap Ayah
“Jadi dugaan kalian sementara itu adalah mereka berdua?” tanya polisi itu
“Iya pak. Tapi itu hanya dugaan kami saja. Bisa jadi itu salah.” Ucap Ayah
“Ya sudah, Bapak sekeluarga tenang saja, kami yang akan selidiki dan mencari buktinya.” Ucap polisi itu
“Iya pak. Makasih.” Ucap Ayah
“Kalau begitu, kami pergi dulu. Nanti kalau ada apa-apa, kami akan menginformasikannya ke Bapak.” Jelas polisi itu
“Baik, pak. Terimakasih banyak.” Sahut ayah
“Ya sama-sama.” Sahut polisi itu lalu pergi
Setelah polisi itu meninggalkan kami, kami pun hanya terdiam karena bingung. Semula kami mengira kalau semua kejadian ini tuh murni kecelakaan. Eh tidak tahunya ada yang sudah berniat mencelakakan kami.
“Sudah... Sudah... Jangan dipikirkan lagi. Lebih baik sekarang kita bersyukur saja. Karena kita sudah selamat.” Ucap ibu
“Iya, bun. Tapi walau kita selamat, Aku sekarang cacat, bun.” Ucapku lesu
“Iya, bun.” Sahutku lirih
“Sayang, hayolah... Jangan sedih begitu. Kemarin katanya kamu ingin sekali ditengok oleh Ayah dan Bunda. Sekarang mereka ada di sini, kenapa kamu masih tetap saja sedih?” tanya mas Angga
“Iya sayang, jangan sedih lagi ya. Kalau kamu sedih begini, lebih baik ayah dan bunda pulang saja kalau begitu.” Ancam ayah
“Jangan.. Jangan pulang. Di sini saja. Aku masih kangen sama kalian.” Ucapku
“Kami bakalan tetap di sini tapi kamu jangan sedih lagi.” Ucap bunda
“Iya, bun. Aku akan berusaha buat tidak sedih lagi.” Sahutku
“Nah gitu donk.” Ucap ayah dan kami pun tertawa
Setelah seharian aku ditemani ayah dan juga bunda, akhirnya mereka putuskan untuk pulang
“Kami pulang dulu ya, sayang.” Pamit bunda
“Ya bun, kenapa tidak menginap di sini saja? Aku ingin dikeloni ma bunda.” Rengekku
“Ehm.. Ehm..” sahut mas Angga
“Tuh.. Kan ada mas mu yang bakalan ngelonin kamu.” Goda bunda
“Ah bunda. Itu mah kan beda.” Ucapku
“Sudah.. Sudah.. Kami pulang dulu ya. Besok kami ke sini lagi kok.” Ucap ayah
“Bener ya yah.” Ucapku
“Iya sayang.” Sahut ayah
“Ya sudah, hati-hati dijalannya ya yah.” Ucapku
“Iya.” Sahut ayah dan kemudian pergi bersama bunda
.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like dan comentnya...🙏