
Beberapa hari setelah kejadian itu, hubunganku dengan mas Angga baik-baik saja.
Saat ini, kami merencanakan akan berlibur ke luar kota. Di dalam perjalanan, kami tidak menyangka akan terjadi kecelakaan yang akan menimpa diri kami.
Mobil yang kami tumpangi mengalami rem blong. Dan kami pun akhirnya menabrak sebuah pembatas jalan demi menghindari menabrak kendaraan lain.
Ayah, bunda, dan mas Angga, semuanya tidak apa-apa. Hanya aku yang waktu itu cidera cukup parah. Karena pada saat kejadian, tiba-tiba ada mobil dari arah belakang yang juga tiba-tiba menabrak diposisi pintu tempat aku duduk.
Aku pun langsung dibawa ke rumah sakit. Sementara mobil yang menabrak itu langsung kabur
Sesampainya di Rumah Sakit, aku langsung dilarikan ke ruang UGD agar cepat dapat pertolongan.
Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata harus ada tindakan lebih lanjut. Dan yang paling mengejutkan adalah, ternyata kakiku mengalami kelumpuhan.
“Bagaimana ini, bun? Kalau Kania sampai tahu keadaannya yang sebenarnya bagaimana?” tanya mas Angga saat keluar dari ruang dokter
“Kita harus banyak berdoa dan juga bersabar. Jikalau Kania belum bisa menerima keadaannya.” Sahut bunda
“Justru sekarang yang bunda khawatirkan itu kamu. Gimana perasaan kamu setelah tahu kalau Kania lumpuh seperti ini?” tanya bunda
“Apapun yang terjadi pada Kania dan bagaimana wujudnya Kania sekarang atau nanti, itu tidak akan mengurangi rasa sayangku ke dia.” Ucapku mantab
“Oh syukurlah.” Ucap bunda singkat
Setelah berdiskusi seperti itu, mas Angga pun menemaniku di ruang perawatan. Dan beberapa saat kemudian, aku pun sadar
“Mas, aku ini dimana?” tanyaku
“Kamu di rumah sakit, sayang. Tadi kita mengalami kecelakaan.” Jelas mas Angga
“Terus Ayah dan bunda tidak apa-apa, mas?” tanyaku
“Mereka berdua tidak apa-apa sayang. Hanya lecet sedikit saja.” Sahut mas Angga
“Lalu mas gimana? Apa mas tidak apa-apa?” tanyaku lagi
“Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.” Sahut mas Angga
“Oh syukurlah kalau begitu.” Ucapku singkat sambil mencoba menggerakan kaki hendak membetulkan posisi badan, tapi...
“Mas, kakiku kok tidak bisa digerakkan ya. Ada apa ini mas? Ada apa dengan kakiku?” Tanyaku yang mulai panik
“Kania.. Tenang sayang. Tenang. Jangan panik.” Ucap mas Angga
“Gimana aku bisa tenang mas, sementara aku tidak bisa menggerakan kakiku.” Ucapku sambil menangis
“Sayang, tenang.. Aku mohon, tenanglah.” Ucap mas Angga berusaha menenangkanku sambil memeluk tubuhku
“Sayang, akibat kecelakaan itu, kakimu mengalami kelumpuhan.” Jelas mas Angga
“Tapi kakiku tidak lumpuh selamanya kan mas?” tanyaku berharap.
“Untuk masalah itu, lebih baik kita tunggu perkembangannya dulu.” Ucap mas Angga
“Mas, kenapa ini semua harus terjadi padaku?! Daripada aku menderita begini, lebih baik kalau saat kecelakaan, aku langsung mati saja.” Ucapku putus asa
“Hus, tidak boleh bilang begitu. Ini semua adalah cobaan. Dan kita harus yakin kalau kita bisa menghadapinya bersama.” Sahut mas Angga
“Tapi mas, aku sudah cacat. Akan lebih memalukan untukmu memiliki istri yang cacat sepertiku.” Ucapku
“Siapa bilang memiliki istri sepertimu itu memalukan?! Hanya kamulah, satu-satunya yang akan menjadi istriku.” Ucap mas Angga
“Tapi aku sudah cacat mas. Aku tidak pantas lagi untukmu.” Ucapku
“Dasar bodoh. Aku tuh tidak peduli gimana keadaan kamu. Kamu itu selamanya punyaku. Kamu tahu itu kania?!” icap mas Angga
“Mas,..” ucapku terpotong
“Sudah tidak usah banyak berpikir lagi. Lebih baik kita berdoa semoga semua ini bisa cepat berlalu.” Ucap mas Angga
***********************************
✏️skip..
Maaf sebelum dan sesudahnya...
Sambil menunggu episode selanjutnya, gimana klo para pembaca semua mau mampir ke novel terbaru author yang judulnya “dibalik sandiwara ada cinta.”
Author tunggu ya. Makasih...😙
.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like dan comennya ya...🙏