
Setelah keluar beberapa saat untuk mencari sarapan, mas Angga pun kembali.
“Sayang, tadi aku beli makanan kesukaanmu lho.” Ucap mas Angga
“Iya mas. Makasih.” Sahutku
“Sini, aku suapi kamu ya!” ucapnya lagi
“Tidak usah mas. Tanganku masih bisa menyuap makanan sendiri kok. Yang cacat kan kakiku, bukan tanganku.” Ucapku datar
“Kamu kenapa sayang?” tanya mas Angga
“Aku tidak apa-apa. Memang aku kenapa?” tanyaku balik
“Omonganmu itu kok rasanya tidak enak banget di dengarnya ya?” ucap mas Angga
“Kenapa memang, mas? Kan benar apa yang aku bilang, kalau tanganku ini tidak cacat. Tapi kakiku yang cacat. Jadi aku bisa makan sendiri.” Sahutku
“Kania.. Kamu beneran tidak apa-apa?” tanya mas Angga
“Aku tidak apa-apa, mas. Mana sini makanannya. Biar aku makan. Aku sudah lapar.” Ucapku
“Sidah tidak usah. Biar aku saja yang suapi kamu.” Ucap mas Angga
“Tidak perlu, aku bisa sendiri.” Sahutku
“Dek, sumpah, kamu itu ada apa sih?” tanya mas Angga
“Ok aku jujur. Aku pingin minta cerai saja dari mas.” Ucapku
“Apa kamu bilang? Cerai?” ucap mas Angga terkejut
“Iya mas. Aku ingin kita cerai saja. Supaya mas bisa cari perempuan lain lagi yang lebih sempurna dibanding aku.” Ucapku
“Tidak Kania. Aku tidak mau. Aku maunya kamu yang jadi istriku selama-lamanya.” Ucap mas Angga kekeh
“Tapi mas, aku itu tidak pantas buat mas. Mas lihat sendirikan, sekedar untuk ke toilet saja aku harus dibantu. Kalau aku tetap egois memaksakan statusku ini, yang ada aku bakalan menyusahkan mas dan juga buat malu keluarga besar Galih.” Jelasku
“Tidak, Kania. Aku bilang sekali tidak, ya tidak. Kamu itu mengerti tidak sih ucapanku?!” ucap mas Angga agak kesal denganku
“Tapi mas...” ucapanku dipotong oleh mas Angga
“Tidak ada tapi-tapian. Aku tidak mau dengar apa-apa lagi tentang masalah ini.” Sahut mas Angga lalu aku pun akhirnya terdiam dan memulai memakan sarapanku
Setelah selesai makan, aku masih merasakan ada yang mengganjal dihatiku
“Mas, boleh aku bertanya sesuatu?” ucapku
“Aku mau tanya masalah ayah ma bunda. Apa benar hanya alasan masa pemulihan yang menyebabkan mereka tidak bisa datang ke sini?” tanyaku
“Maksud kamu apa, Kania?” tanya mas Angga
“Keadaanku kan seperti ini, aku jadi takut kalau ayah ma bunda tidak datang itu lantaran mereka sudah tidak bisa menerima aku lagi.” Ucapku
“Hadeuh kania... kania. Aku tahu kamu lagi sensitif sekali. Tapi mereka tidak seperti apa yang kamu bilang. Mereka memang sedang dalam taraf pemulihan. Mungkin, jika mereka sudah merasa lebih baik, mereka akan datang menjengukmu.” Jelas mas Angga
“Beneran itu mas?” tanyaku meyakinkan
“Benar sayang. Aku tidak bohong.” Ucap mas Angga
“Ya sudah. Aku percaya sama mas saja kalau gitu.” Ucapku pasrah
“Tapi aku titip salam ya untuk mereka. Tolong bilang kalau aku rindu sama mereka.” Ucapku
“Iya sayang. Aku bakalan bilang ke mereka kalau kamu itu sangat rindu pada mereka.” Sahut mas Angga
Setelah itu, aku pun terdiam lagi beberapa saat.
“Mas, sebenarnya beberapa waktu yang lalu, Clarita datang ke sini.” Ucapku pada akhirnya
“Kok kamu baru cerita sekarang?” ucap mas Angga
“Aku pikir, masalah itu tidak terlalu penting buat aku bahas ke mas.” Ucapku
“Oh begitu. Ya sudah. Tapi aku mohon sama kamu. Apapun yang dia katakan, jangan kamu ambil hati. Cuekin saja ya.” Ucap mas Angga
“Iya mas.” Sahutku singkat
.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like dan comentnya ya..🙏