You're always my mine...

You're always my mine...
Part 25



“Clarita, kamu pesan dulu deh. Aku nanti menyusul. Aku mau ke toilet dulu. Sudah kebelet nih.” Ucapku


“Mau aku pesankan sekalian?” tanyanya


“Tidak usah. Aku belum tahu mau makan apa. Biar aku pesan sendiri saja.” Ucapku


“Oh ya sudah deh.” Sahut Clarita


Setelah kami berdiskusi, kami pun berpencar. Namun aku tidak ke toilet, melainkan aku mengendap-ngendap keluar dari kantin setelah memastikan Clarita pergi mengantri makanan.


Setelah berhasil keluar dari kantin, aku langsung menelepon mas Angga.


“Mas, mas dimana?” tanyaku sambil menuju gerbang kampus.


“Aku ada di depan gerbang percis.” Jawabnya


“Ya sudah. Sekarang nyalakan mobilnya. Aku sebentar lagi sampai di sana.” Ucapku


“Ok.” Jawabnya singkat


Setelah beberapa menit kemudian, aku langsung masuk ke dalam mobil.


“Fiuh.. Akhirnya lolos juga.” Gumamku ketika mobil sudah keluar dari halaman kampus


“Lolos kenapa?” tanya mas Angga


“Itu Clarita. Dari tadi nempel terus ke aku. Rasanya dia pingin banget deh ketemu ma mas lagi.” Ucapku


“Terus kenapa kalau ingin ketemu ma mas lagi? Kamu cemburu?” ledek mas Angga


“Tidak tuh. Justru kebalikannya. Aku takut kena hukuman lagi.” Jawabku


“Maksudnya kamu, kamu tidak suka kalau aku kasih hukuman seperti itu?” tanya mas Angga


“Huh..” ucapku dan mas Angga pun hanya tersenyum melihat tingkahku


“Kamu mau telepon siapa?” tanya mas Angga yang melihatku sedang memegang hp


“Mau telepon Clarita.” Jawabku


“Hallo..” ucapku


“Hallo, Kania. Kamu dimana? Masa’ ke toilet lama banget.” Ucapnya


“Sori Clarita, aku balik duluan. Tadi bunda tiba-tiba telepon. Katanya minta di antar belanja. Tadinya aku mau kasih tahu kamu, tapi aku cari kamu, akunya tidak bisa menemukanmu.” Alasanku


“Oh ya sudah deh. Tidak apa-apa. Salam buat bunda ya.” Ucap Clarita


“Iya. Sori sekali lagi ya.” Ucapku


“Iya.” Jawabnya


Mas Angga yang dari tadi mendengarkan aku cuma bisa senyum dan geleng-geleng.


“Apa lho mas?! Ini semua gara-gara mas sih.” Ucapku menyalahkan mas Angga


“Kok bisa gara-gara mas sih, dek?” tanya mas Angga bingung


“Ya iyalah. Suruh siapa tebar pesona.” Rajukku


“Oh. Jadi mulai sekarang mas tidak boleh tebar pesona lagi nih?” tanya mas Angga


“Ya tidak begitu juga kali, mas.” Ucapku


******************************


“Mas, sudah ada kan data-data yang aku minta?” tanyaku serius sambil masuk ke dalam kantor


“Sudah. Kamu yakin mau ngecek semuanya?” tanya mas Angga memastikan


“Tergantung ..” ucapku


Setelah masuk ke dalam aku melihat banyak tumpukan berkas.


“Ok.. Sepertinya ini akan menjadi hari yang panjang untuk kita.” Ucapku


“Apa maksudmu dengan kita?” tanya mas Angga bingung


“Ya kita berdualah. Kita yang akan mengerjakan semua itu.” Ucapku sambil menunjukan tumpukan berkas


“Apa?” kata mas Angga terkejut


“Iya mas. Mas takut?!” godaku


“Tidak. Siapa yang takut?!” ucapnya sombong


“Okelah kalau begitu kita kerjakan sekarang.” Ucapku


“It’s show time..” teriakku sambil narik tangan mas Angga


******************************


“Dek, sudah waktunya jam pulang kantor.” Ucap mas Angga mengingatkan aku yang sedang serius


“No way.. Lanjut..!!” ucapku


“Apa?” ucap mas Angga yang lagi-lagi terkejut


“Mas, ngecek banyak angka begini, bikin aku lapar. Bisa pesenkan makanan tidak?” ucapku


“Iya aku pesenkan makanannya.” Ucap mas Angga


Setelah menunggu beberapa saat, makanannya pun datang. Dan tanpa menunggu lama, aku pun mengahabiskannya lalu kemudian kembali bekerja.


******************************


Waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Aku yang sudah menyelesaikan semuanya, kini mencoba tidur.


Dan keesokan paginya mas Angga yang terbangun duluan, melihat hasil kerjaku.


“Kamu parah dek kalau sudah serius dan mas tahu pasti akan jadi begini. Tapi mas sebenarnya tidak mau minta tolong sama kamu, hanya saja mas tau ini adalah salah satu keahlianmu. Oleh sebab itu, mas minta tolong sama kamu.” Gumam mas Angga yang melihat aku yang sedang tertidur pulas.


Lalu mas Angga pun menggendongku ke sofa yang ada di kantor mas Angga dan mengecup keningku


“Terimakasih sayang.” Ucapnya lirih


.


.


.


.


.


Bersambung..


Jangan lupa comen dan like ya..🙏