You're always my mine...

You're always my mine...
Part 31



Lalu kami pun keluar dari kamar dan mendapati ayah dan bunda sedang duduk santai di ruang TV.


“Ayah, Bunda, tadi katanya ada yang ayah bunda mau sampaikan. Memang apa ya?” tanya mas Angga dan Ayah Bunda pun saling lihat


“Begini nak, kami berencana ingin menyelenggarakan pesta pernikahan buat kalian. Bagaimana menurut kalian?” ucap Ayah


Mendengar ucapan ayah, kami pun diam


“Ada apa nak? Kenapa kalian berdua diam saja? Jangan bilang kalau kalian berdua ingin merahasiakannya seperti biasa.” Ucap ayah yang mengerti benar dengan kebiasaan kedua anaknya ini.


“Bukan begitu, ayah. Tapi ya sudah kalau itu merupakan keputusan terbaik menurut ayah. Kami akan ikut.” Ucapku


“Dek, kamu yakin dengan apa yang barusan kamu bilang?” tanya mas Angga bingung


“Iya, mas. Aku tidak pernah merasa seyakin ini.” Ucapku mantap dan membuat ayah bunda tersenyum


“Baiklah kalau begitu, acara pestanya akan kita laksanakan hari sabtu ini. Untuk para tamu, semua kami serahkan pada kalian berdua karena kami yang akan mengurus pestanya. Bagaimana?” tanya ayah


“Baik, ayah.” Ucapku


“Ya sudah sana. Kalian berdua rundingkan siapa saja yang akan kalian undang. Setelah itu cepatlah cetak undangannya.” Ucap ayah.


“Iya, ayah.” Ucapku


Setelah mengucapkan itu, aku lalu mengajak dan menarik tangan mas Angga yang dari tadi hanya terdiam. Bingung kenapa aku bisa mengeluarkan ucapan dan jawaban seperti itu.


“Ayo, mas. Kita harus buat daftar tamu undangan. Waktu kita tidak banyak buat nyetak undangan.” Ucapku namun tak juga dihiraukan oleh mas Angga.


“Mas..!!” teriakku membuat mas Angga terkejut


Setelah beberapa waktu, mas Angga pun sadar dari lamunannya


“Ada apa, dek?” tanya mas Angga


“Hadeuh mas. Mas ini ya. Kita tuh harus membuat daftar nama tamu undangan.” Ucapku ketika sampai di halaman samping


“Dek, kamu yakin mau melakukan ini semua?” tanya mas Angga meyakinkan


“Yakin, mas.” Jawabku


“Ya sudah kalau kamu yakin. Mas cuma bisa mendukung kamu saja.” Ucap Mas Angga


Setelah lama sekali berdiskusi, kami pun selesai membuat daftar nama tamu undangan


“Ayah.. Bunda... Kami pergi dulu ya mau ke percetakan.” Ucap mas Angga sambil teriak


“Iya, nak. Hati-hati..” sahut bunda


******************************


“Hai Clarita, itu lihat..!!! Bukannya mereka itu Kania dan kakaknya ya?!” Ucap Santo ketika melihat kami


“Aku sendiri tidak tahu. Gimana kalau kita ke sana saja?” Ucap Clarita


“Ayo.” Ajak Santo


Setelah itu mereka pun benar-benar mendatangi kami


“Hai Kania..” sapa Clarita


“Oh kalian. Kenapa kalian bisa ada di sini?” tanyaku


“Oh kami kebetulan sedang lewat sini dan melihat kalian, jadinya kami samperin kalian deh.” Jelas Clarita


“Kalian sendiri sedang apa di sini?” tanya Clarita


“Oh itu.. Kami..” ucapanku terpotong


“Kami tadi disuruh ayah dan bunda buat nyetak kartu undangan.” Jawab Mas Angga


“Kartu undangan? Memang mau ada acara apa?” tanya Clarita kepo


“Ayah mau mengadakan acara pesta kecil-kecilan. Kalian juga boleh datang kok.” Ucap mas Angga


“Benarkah kami boleh datang?” tanya Clarita memastikan


“Benar kok. Kalian berdua boleh datang.” Jawab mas Angga


“Benarkan, Kania?” sambung mas Angga lagi dan aku mengangguk tidak bisa membayangkan besok akan jadi seperti apa


“Memang acaranya kapan?” tanya Santo


“Acaranya sabtu ini. Jangan lupa datang ya. Kalau bisa datangnya sama pasangan kalian.” Ucap mas Angga lagi


“Ah mas ini bisa saja.” Ucap clarita


.


.


.


.


.


Bersambung...


Jangan lupa comen dan likenya ya..🙏