
Angin sejuk di pagi hari menghempas di seluruh penjuru tak lepas dengan sinar mentari yang hangat masuk menghembus kedalam kamar tidur Bima yang masih tertidur lelap di kasurnya.
"Abang cepet bangun ! katanya mau nge-date sama cewek cantik nya abang"
Bima terperanjat bangun setelah bunda berteriak membangunkannya di balik pintu kamar, walau banyak pembantu di rumah tapi tetap saja bunda selalu membangunkan dirinya.
"Iya bun ini abang bangun"
"Cepet mandi, kita sarapan"
"Iyaaa "
Dengan terburu-buru Bima beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi, setelah mendengar jawaban Bima, bunda menyuruh pembantu untuk masuk membereskan kamar anak laki-laki satu-satu nya itu.
Bima dalam kamar mandi melakukan treatment nya dengan agak cepat, lalu keluar hanya menggunakan handuk di pinggang memperlihatkan badannya yang kotak-kotak Bima mandi lalu mengeringkan diri dengan handuk, untung sudah tidak siapa pun di kamar Bima.
Melangkah ke ruang pakaian ia mencari baju yang cocok untuk pergi saat ini bersama Delisa, kaos putih berlengan pendek, di tambah jaket denim sebagai luarannya dan celana jeans hitam yang sobek di kedua lututnya menyempurnakan ke tampanan Bima, topi putih polos pun tak luput di pakai sebagai pelengkap fashion.
Karena terburu-buru untuk bangun dan bersiap Bima sampai lupa mengecek handphone nya, di cek ternyata ada satu pesan dari gadis cantik yang memikat hati Bima, senyum lebar pun menghiasi wajahnya pagi itu dan perasaan yang terus berdebar.
*selamat malam juga, see you tomorrow, have a nice dream bim~*
Walau tak ada emoji seperti pesan Bima sebelumnya, tapi itu sudah membuat Bima terus jatuh cinta padanya. Bima langsung beranjak dari kursi di dalam kamar nya dan pergi keluar sambil menelepon seseorang
**Halo?"
*I-iya halo*
* Aku sebentar lagi datang ke rumah*
*I-iya santai aja Bim~*
*Orang tua kamu adakan?*
*Ada emang mau apa?*
*Aku mau minta izin bawa kamu jalan*
*Enggak perlu, aku udah minta izin sendiri*
*Enggak, aku bakalan tetep minta izin, see you Del
Bima langsung mematikan sambungan tanpa mendengar jawaban dari lawan bicaranya, Ia segera melangkah menuruni tangga menuju kedua orangtuanya yang berada di ruang keluarga bersama adik kecil nya.
"Ayah bunda, do'akan abang semoga pulang-pulang bisa bawa mantu kalian kesini"
"Haha apan sih abang, udah ngomong mantu segala sekarang" Ejek ayah
"Abang jangan ke sorean pulang nya!"
"Siap bunda ku sayang"
"Enggak mau sarapan dulu?"
"Nanti di luar aja, biar bareng sama Delisa"
"Yang sehat sarapannya"
"Iya abang berangkat"
Setelah sampai berbincang di ruang keluarga rumah nya Bima pamit sambil mecium punggung tangang kedua orang tuanya dan tak lupa cium pipi bunda serta Bibil nya adalah kebiasaan bima sebelum berangkat kemana-mana.
Kali ini Bima membawa mobil yang ia dapat sebagai kado saat ulang tahunnya yang ke 17 pemberian dari kedua orang tuanya, walau masih sering pakai motor alasannya biar gak kena macet dan lama di jalan.
"Mang ujang sekarang abang mau pake mobil yang ayah kasih"
"Iya tuan muda mang ujang keluarin mobilnya"
"Makasih mang"
Bima memasuki mobilnya dengan terlihat sangat keren, mulai menjahui kediaman nya mobil Bima melaju melewati beberapa blok di komplek nya, lalu berhenti di rumah berlantai 2 bercat biru langit dan berpagar besi hitam.
"Pak selamat pagi, boleh masuk ke dalam?"
"Oh iya den, tadi non putri udah pesan langsung masuk aja"
"Oke makasih pak"
Bima masuk melewati satpam yang tadi berada di depan pagar, mihat halaman depan yang cukup nyaman di pandang, Bima pun turun menuju pintu utama rumah itu sudah ada Delisa di sana siap menyambut depan pintu rumahnya.
"Selamat pagi, Kenapa harus izin dulu?"
"Kata orang tua aku suruh izin dulu, biar aku kenal juga sama orang tua kamu"
"Hah ? Ayo masuk orang tua aku udah nungguin kamu"
Saat masuk ternyata kedua orang tua Delisa sudah duduk berada di ruang tamu yang langsung bisa terlihat dari pintu masuk barusan.
"Permisi, Selamat pagi om tante ?"
"Iya selamat pagi"
"Saya Bima Purnama om panggil aja Bima"
"Hem duduk lah"
Papa Delisa meminta Bima duduk sambil mengingat di mana ia pernah mendengar atau melihat wajah anak itu, ia mencari tahu di pikirannya tersebut belum menemukan.
"Ada urusan apa kamu kesini?"
"Saya mau minta izin bawa Delisa jalan om tante"
"Saya izinkan karena kamu berani minta izin dulu pada saya dan mama Delisa, Tapi . . . kamu jangan apa - apakan anak saya bahkan kalo ada lecet sedikit pun saya tak akan memberi ampun sama kamu"
"Ah iya om Bika bakalan jagain Delisa dengan tangan Bima sendiri bahkan nyawa Bima sekalian"
Perkataan polos Bima membuat kedua orang tua Delisa tersenyum dan percaya pada laki-laki ini tak akan berbuat hal seperti itu, bahkan Delisa yang berada disana sudah merasa malu mencoba menutupi wajah merah yang manis itu oleh kedua telapak tangannya.
"Oke om"
"Yaudah kalian cepat berangkat atau enggak usah jadi jalan?" Tanya mama Delisa
"Jadi tante, ayo Del"
Bima kaget karena pertanyaan mama Delisa ia takut kedua orangtuanya Delisa berubah pikiran, jadi ia memegang lengan cantik Delisa dan berdiri mencoba untuk pergi.
"Hey tangan kamu" ancam papa
"Oh iya om maaf"
"Kita pamit, pah mah bye bye"
"Iya dah sayang jangan pulang malam"
Teriak mama.
Hari ini Delisa memakai baju kaos crop pendek hitam polos yang melekat pada tubuh dan memakai jeans standar, dengan tambah topi dan tas selempang kecil sebagai pelengkap, wanita cantik itu.
"Silakan masuk tuan putri"
"Makasih"
Setelah mempersilahkan Delisa masuk mobil Bima mengelilingi mobil dan duduk di belakang kemudi siap membelah jalan raya.
"Ini mobil kamu Bim?"
"Iya, ini mobil hadiah dari orangtua aku pas ultah ke 17, bulan kemarin dan kamu orang pertama yang aku ajak pake mobil ini berdua"
"Hem benarkah?"
"Iya beneran, tapi Del kamu udah sarapan belum ?"
"Aku belum sempet Bim" jawab delisa.
(Gimana mau sempet kalo dari pagi aku sibuk nyari baju yang pas buat jalan pertama kita) pikir Delisa
"Kita cari makan buat sarapan dulu yah"
"Iya boleh"
Bima mengusap lembut kepala Delisa yang tertutup topi itu, membuat hati gadis itu berdegup kencang atas perlakuan Bima.
Di setiap jalan Bima dan Delisa tengok kanan dan kiri siapa tahu ada penjual makanan buat mereka sarapan, tak butuh lama mereka menemukan tukang bubur ayam di pinggir jalan lalu berhenti dan turun dari mobil setelah Bima memarkirkan mobilnya dengan aman.
"Gak papakan makan bubur ayam di pinggiran gini?"
"gak papa bim, aku juga sering kok makan di pinggiran gitu"
Akhirnya mereka memesan bubur ayam untuk sarapan, sambil asik mengobrol dan bercanda Bima dan Delisa menikmati sarapan berdua pertama mereka
Melihat mulut Delisa yang agak belepotan karena minyak dari kerupuk, Bima membersihkannya memakai tangan karena tak ada tisu, terlihat sangat romantis bagi orang lain juga Delisa.
"kamu tuh kalo makan kenapa suka belepotan, kayak anak kecil lucu"
Bima tertawa kecil membuat Delisa masih terpaku dengan kejadian barusan pun segera tersadar lalu mengambil tisu dalam tas nya dan melap kembali mulutnya
"kalo aku belepotan bilang jangan kayak tadi"
.
"iya maaf gak bakal gitu lagi, kalo kamu belepotan lagi aku kasih tahu, maaf yah"
Jawab Bima menunjukan senyuman hangat serta gemas kepada Delisa sambil mengusap kepala Delisa, itu sudah seperti kebiasaan baru untuknya, begitu pula untuk Delisa yang sudah beberapa kali di usap rambut.
Suasana yang hangat ini membuat hati mereka berdegup kencang tak terkendali bahkan hampir copot dibuat baru awal malah mungkin belum mulai nge-date udah hati Delisa udah kayak gini gimana selanjutnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#####
Gimana episode 9 ini guys ?? tolong beri kritik yang sopan dan saran yang membangun. jangan lupa kasih tip dan vote. tekan juga like dan jadikan ini cerita favorit kalian.
안녕~~💜🥰