
Mata gadis cantik itu benar-benar terasa di jamu dengan lukisan indah di sana, dalam studio art berserakan cat, kuas dan sisa kanvas yang masih putih belum terjamah oleh tangan manusia.
"Wah Bima keren banget, aku pengen lama-lama ada di sini"
"Sering-sering main, setiap hari main ke sini juga gapapa kok"
"Beneran boleh?"
"Iya kenapa gak boleh? Gery sama Qori juga sering kain ke rumah"
"Hem kalo gitu aku bakal sering main ke sini"
"Anggap rumah aku rumah kamu sendiri Del"
"Benarkah? Kalo gitu terima kasih"
"Iya sama-sama"
"Tapi kenapa sekarang om sama tante enggak ada di rumah?"
"Katanya sih bunda lagi keluar sama Bibil terus ayah masih di perusahaan"
"Bibil? siapa?"
"Dia perempuan tercantik kedua setelah bunda"
"Wah secantik apa sih dia, jadi penasaran!"
"Dia tuh cantikk banget, kamu juga kalah"
"Secantik itu?" Delisa cemberut
"Iya adik aku memang cantik banget"
"Nanti dulu, adik? jadi Bibil itu adik kamu?"
"Iya emang kamu pikir Bibil siapa?"
"Ya kirain perempuan lain seumuran kita"
Bima geli melihat tingkah Delisa yang asalnya cemberut langsung berubah jadi biasa kembali, membuat takuat dengan kelucuan Delisa langsung mencubit pipi gadis cantik itu gemas.
"Aw sakit, udah lepas"
"Haha sorry"
"Tapi Bima aku liat-liat kok lukisan wajah di sini cuman sedikit yah?"
Delisa mengedarkan pandangannya
"Iya soalnya itu cuman lukisan ayah doang"
"Kenapa kamu enggak buat?"
"Ayah pernah ngomong wajah seseorang yang pertama itu harus orang yang bakal kita cintai seumur hidupnya, ayah juga pertama kali pengen melukis wajah seseorang itu ya bunda aku"
"Wah ayah kamu romantis banget"
"Karena itu pula aku enggak pernah gambar wajah seseorang, aku pengen kaya ayah"
"Hm beruntung banget nanti perempuan yang bakal kamu lukis nanti"
"Yah dia bakal beruntung banget"
Bima mengucapkan kalimat itu dengan menatap lekat pada Delisa yang sudah mewarnai hidupnya dengan penuh banyak warna lagi, memberi dia kesejukan di dalam hidupnya.
Ia berniat melukis wajah Delisa untuk lomba nanti, ia juga yakin Delisa akan menjadi wanita yang akan menemani nya seumur hidup.
Entah datang dari mana pikiran jauh itu, membayangkan betapa jauhnya ia bermimpi akan kehidupannya bersama Delisa, ia mulai melamun senang membayangkan hal itu bila benar-benar terjadi, sampai Delisa mulai menyenggol beberapa kuas di meja.
"Ah Bima sorry aku enggak sengaja"
"Iya enggak papa, gak usah di benerin Del biar simbo aja yang beresin"
"Tapi aku . . "
"Udah Delisa nanti tangan kamu kotor kena cat"
"Iya iya enggak, tapi maaf yah"
"Iya aku maafin Del"
Saat mereka berdua masih di dalam galeri atau art studio, kedua orang tua Bima pun datang bersamaan, di sambut oleh kepala pelayan yang sudah berada di depan pintu utama.
"Selamat datang tuan besar dan nyonya"
"Iya pak Bima udah ada di rumahkan ?"
"Iya nyonya, tuan sudah di rumah"
"Terus sekarang di mana?"
"Lagi ada di ruang galeri nyonya"
"Kalo gitu panggil simbo suruh dia bawa Bibil tidur di kamarnya, terus pak Toto siapin makan malam, biar saya yang panggil Bima"
"Tapi nyonya sekarang tuan muda lagi punya seorang tamu"
"Tamu ? siapa pak?"
"Tamunya cewek apa cowok ?" Tanya ayah
"Perempuan tuan, namanya non Delisa"
"Ah itu nama yang sering Bima ceritain sama kita bun"
"Iya ayah ayo kita liat"
"Iya ayo bun"
Mereka berdua pun mulai melangkah dengan langkah yang cepat meninggalkan Bibil di pangkuan simbo yang telah datang menghampiri.
Setelah dekat dengan pintu ruangan kedua orang tua itu memelankan langkahnya agar tak ada suara, mencoba mengintip apa yang terjadi di dalam sana.
Keempat pasang mata itu mulai melihat wajah senang putra tampannya bersama dengan gadis cantik yang duduk di sisinya saat ini.
"Hem abang"
"Ayah bunda kok pulangnya bareng?"
"Iya enggak sengaja kita sampai rumah bareng, terus ini siapa?" tanya ayah
"Ah iya kenalin ini perempuan yang sering abang kasih tahu sama ayah dan bunda"
"Ah kenalin om tante nama saya Delisa teman nya Bima"
"Cuman teman?" Goda ayah
"Ayah jangan gitu ah, sini Delisa sama bunda kita keluar"
"Ah i-iya tante, permisi om" Delisa canggung
"Jangan panggil om sama tante, panggil aja ayah sama bunda biar samaan kayak Bima"
"I-iya om ah bukan, ayah"
"Udah sayang jangan di ganggu terus, ayo sama bunda"
Bunda mulai mengalungkan tangan nya di pundak Delisa yang saat ini masih kaget oleh kedatangan kedua orang tua Bima, Ia pasrah mencoba mengikuti kemana wanita yang sudah tak lagi muda tapi masih cantik di sebelahnya.
Kedua laki-laki tampan kesayangan bunda pun ia tinggalkan di dalam ruangan itu, mereka saling bertatapan saling heran.
"Bang itu gafis cantik yang sering abang ceritain sama kita?"
"Iya yah, cantikkan?"
"Kamu memang jago cari cewek cantik bang"
"Oh iya anak ayah"
"Haha ayo kita keluar, nanti cewek abang malah di apa-apain"
"Bunda enggak bakal marah-marah sama Delisa kan?"
"Enggak bakal, paling di terkam haw"
ejek ayah
kembali kepada kedua perempuan yang sekrang telah duduk di ruang keluarga, memulai sebuah pembicaraan di temani teh hangat dan cemilan buah segar.
"Minum teh nya mumpung masih hangat"
"I-iya tan eh bunda"
"Santai aja, tante enggak bakal apa-apain kamu kok, tante cuman seneng aja akhirnya abang bawa kamu ke rumah"
"Ah iya bunda"
"Abang tuh suka cerita loh sama kita tentang kamu!"
"cerita apa bunda"
Delisa mulai merasa nyaman berbincang
"Iya katanya ada cewek cantik yang sering abang anter jemput rumahnya, cewek nya cantik, baik, gemesin gitu"
"Haha Bima juga orang nya baik bunda"
"Wah wah wah, kalian lagi ngomongin apa nih? kayaknya ayah ketinggalan bunda"
"Bunda lagi ngejelek-jelekin abang yah?"
"Haha bunda lagi ngomongin abang yang masih suka manja sama bunda"
"Itu mah wajar dong bunda, kan abang anak bunda"
"Oh iya Delisa, kamu main sampai malam gini, udah kasih kabar orang rumah atau mau bunda yang minta izinin?" tanya bunda
"Udah bunda, tadi sore aku udah telpon papa dan di izinin"
"Kalo gitu kamu ikut makan malam bareng kita di sini yah?"
"Ah enggak usah bunda nanti malah ngerepotin"
"Enggak ngerepotin, pelayan di dapur udah masak banyak ayo"
"Ikut kata bunda aja Del, nanti malah di terkam haw" bisik Bima
"Haha iya boleh kalo gitu, maaf datang kesini malah ngerepotin bunda sama ayah"
"Enggak apa-apa sayang, anggap rumah kayak di rumah kamu sendiri" kata bunda
"Makasih sekali lagi bunda" Delisa tersenyum
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#####
Gimana episode 23 kali ini guys ?? tolong beri kritik yang sopan dan saran yang membangun. jangan lupa kasih tip dan vote. tekan juga like dan jadikan ini cerita favorit kalian.
안녕~~💜🥰