
Perjalan malam itu mereka lewati dengan saling diam tanpa bicara, hanya Gerungan mesin mobil yang mereka dengar, Bima dan Delisa sama-sama larut dengan pikiran mereka berdua saat ini.
Padahal malam itu sudah mengeluarkan udara dingin di sekitar mereka, malah mereka tambah dengan sikap mereka yang sama-sama dingin sekarang
Kenapa gue harus marah sama Delisa, yang dia omongin semua bener, kita enggak punya hubungan yang pasti sampai harus ngatur sama siap kita harus deket. Hah tapi gue kesel sama gue sendiri, kenapa enggak bisa cepet-cepet buat hubungan kita berkomitmen. Pikir Bima
Harusnya gue gak ngomong gitu sama Bima, kenapa gue buat hubungan kita jadi rumit gini sih! Gue sebenernya gak rela kalo dia deket sama cewek lain, gue cemburu Bima tapi kita sekarang bukan di hubungan yang bisa nentuin siapa yang boleh dan enggak buat deket sama kita, kenapa lo gak ngerti dan malah diemin gue kayak gini!!. gerutu Delisa di dalam pikirannya
Sampai depan gerbang rumah berlantai dua milik keluarga Delisa, ia menghentikan laju kendaraan nya, angin yang berhembus masuk ke jendela mobil yang terbuka, menambah dingin suasana mereka yang masih duduk terdiam.
Hembusan nafas berat dan panjang mereka pun terdengar lebih keras, menutupi semua pikiran dan hati mereka yang rumit.
"Bima aku .." Delisa mencoba berbicara
"Nanti Del, nanti~ kita bisa ngomongin ini besok pagi" potong Bima
"Tapi Bima kita bisa bicarakan ini sekarang ... "
"Enggak Delisa, besok aja kita bicara lagi di sekolahan" potong Bima
"Hah .. oke jadi besok kamu bakal jemput aku apa enggak?" Tanya Delisa
"Besok kamu di anter supir aja, aku ada rapat pagi-pagi sama anak klub" alasan Bima yang sebenarnya padahal ia ingin mencoba menghindar sebentar
"Hmm .. kamu gak bakal masuk dulu?" gadis itu menawarkan dengan wajah lesu
"Enggak, kasih salam sama maaf buat papah dan mamah" tolak Bima halus
"Bima ... " Delisa mencoba mengalihkan topik pembicaraan kembali
"Udah malam Del, nanti papah sama mamah nambah marah sama kamu .. sama kita"
"Kamu enggak marah kan?" tanya Delisa memelas.
Bima tidak memberikan jawaban, melihat Delisa dengan senyum yang lembut, membuat gadis itu pun mengalah kembali, melangkah kakinya keluar dari mobil dengan tatapan yang sedihnya menghadap Bima kembali.
"Selamat malam, hati-hati di jalan" Delisa tersenyum masih tersirat wajah sedih
"Selamat malam" balas Bima
"Sampai ketemu besok"
Delisa kembali hanya mendapatkan sebuah anggukan kecil dari pria itu.
Ia mulai melangkah masuk dalam kediamannya, dengan lemas ia berjalan menulusuri halaman depan.
"Selamat malam non, den Bima gak nganter sampai ke dalam" sapa satpam rumah
"Malam pak, enggak udah malam katanya" jawab Delisa
"Biasanya suka di anter sampai dalam non!?" Tanya satpam lagi
"Haha iya pak"
Mulai meninggalkan keberadaan satpam tadi menuju rumahnya, membuka pintu utama, ternyata kedua orang tuanya sudah ada di sana menunggu anaknya pulang, ia langsung berlari ke dalam pelukan mamah nya, menangis selagi menumpahkan segalanya pada orang tuanya itu.
"Maafin Delisaa .. Delisa salah" rengek Delisa
"Udah sayang enggak pa-pa, jangan nangis gini dong"
"Maafin Delisa mah" Delisa makin keras merengek pada mamah
"Jangan nangis lagi, lihat papah kamu ikut nangis"
"Papah kenapa ikut nangis!?" gadis itu menatap papah nya dengan mata yang masih tergenang air
Delisa mulai memeluk papah nya yang ikut menangis dengannya, menambah deras air mata yang ia kuras keluar, pelukan hangat oleh orang tua adalah hal yang terbaik yang kita dapatkan selagi kita memerlukan sebuah dekapan seseorang yang dangat berharga di hidup kita.
"Udah baik kan sekarang?" Tanya mamah
"Hemm" Delisa mengangguk
"Jadi kenapa anak gadis satu-satunya mamah nangis kayak gini!? Gak mungkin kan anak mamah nangis gara-gara telpon tadi, ini pasti gara-gara kamu yang lagi salah paham sama Bima, iya kan?" Tebak mamah tepat sasaran.
Delisa hanya diam tak ingin memberitahu persoalan tentang dirinya dan laki-laki yang ia sukai saat ini. Mamah pun hanya mengusap punggung Delisa lembut serta hangatnya mengalir ke tubuh anaknya itu.
"Kalo lagi marahan atau salah paham coba perbaiki, cari jalan keluarnya bareng-bareng, jangan cengeng kayak gini. Selesaikan semua masalah kalian, jangan terlalu lama marahan nanti malah nambah masalah yang lainnya" nasihat mamah
"Tapi pas Delisa mau bicara Bima terus bilang besok aja bicaranya" tembal Delisa
"Kamu tunggu besok kalo gitu, mungkin Bima butuh waktu buat nenangin pikiran sama hatinya, jangan suka paksain semua kamu juga harus dengar semua pembicaraan Bima sama kamu"
"Iya mah, aku cuman pengen semua salah paham ini selesai"
"Makanya harus sabar, tunggu Bima siap atau tenang dulu, sekarang cepetan tidur sambil kompres matanya biar gak bengkak besok"
"Iya mahh, selamat malam, Delisa sayang mamah" Delisa memeluk erat
"Mamah juga sayang Delisa"
membalas pelukan
"Sama papah gak sayang?"
Papah berbicara di lawang pintu
"Sayang papah juga" Delisa tersenyum
"Udah cepet tidur"
Suruh mamah sambil menghampiri suaminya yang berada di lawang pintu, menutup pintu meninggalkan anaknya.
"Pah anak kita beneran udah besar yah!?"
Mulai tersenyum mengingat anak nya yang dulu ia gendong kemanapun ternyata telah bertumbuh besar menjadi gadis yang cantik dan sehat, suaminya mulai memeluk erat istrinya itu menguatkan.
"Iya mah anak kita udah besar sekarang, papah jadi beneran gak rela ia cepet besar kayak gini"
Balas papah ikut merasa sedih sekaligus bangga pada anaknya yang telah tumbuh besar menjadi gadis cantik yang sehat.
.
.
.
.
.
.
.
.
#####
Gimana episode 33 kali ini guys ?? tolong beri kritik yang sopan dan saran yang membangun. jangan lupa kasih tip dan vote. tekan juga like dan jadikan ini cerita favorit kalian.
안녕~~💜🥰
**AUTHOR MAU KASIH TAHU GEJALA TIAP HARINYA TERKENA VIRUS YANG SEKARANG LAGI VIRAL, VIRUS CORONA COVID-19.
#STAYSAFE&HEALTHY #STAYATHOME