WE BECOME DATE

WE BECOME DATE
eps 21



Hari makin siang, matahari pun sudah ada tepat di atas kepala. membuat udara semakin panas, dahaga pun mencuat muncul ingin segera di sirami air minum yang dingin dan segar.


Istirahat kedua mereka berenam pergi menuju kantin yang telah ramai oleh para lautan manusia yang mengantri membeli makan atau minum di tiap penghujung ruangan.


Karena mereka benar-benar merasakan lapar mereka mencoba tak pilih-pilih makanan dan hanya membeli di satu tukang makan, mereka memilih makan bakso dan minuman es teh manis kemasan botol.


Mereka para ketiga gadis cantik itu hanya duduk menunggu para laki-laki yang pergi memesan dan membawa makan minum mereka. tak selang begitu lama mereka pun kembali membawa nampan. dan memberikan satu persatu untuk ke enam orang di sana.


"Makasih" jawab ketiga gadis itu berbarengan, dengan penuh senyum yang tulus mereka berikan. dan mendapat anggukan kepala.


Mulai memberi bumbu yang pas di lidah, mereka pun mulai menyantapnya dengan tenang di selingngi obrolan.


"Bim lukisan yang di koridor itu benaran buatan kamu ?" Delisa penasaran


"Iya itu buatan aku, kamu baru tahu ?"


Delisa hanya mengangguk mengiyakan, lalu menunggu lanjutan Bima.


"Padahal pas awal pertama masuk sekolah lagi beberapa bulan lalu di umumin waktu upacara, aku di suruh kedepan di beri selamat sama para guru dan kepsek"


"Hem kayaknya waktu itu aku di UKS jadi enggak ikut upacara sampai selesai, jadi enggak tahu" Delisa tersenyum mengingat


"Pantesan kamu enggak tahu. Terus kamu dari siapa?"


"Dari Gery tadi cerita."


"Ohh. . . kamu mau coba liat galeri pribadi aku di rumah?"


"Kamu punya galeri pribadi ? aku mau liat"


Delisa antusias membuat Bima yang gemas pun mengusap rambut Delisa dengan lembut, Delisa mungkin tak mendengar kata rumah di kata terakhir Bima.


"Tapi beneran mau liat?"


Bima menanyakan kembali takut Delisa berubah pikiran jadi tak mau.


"Iya beneran pulang sekolah langsung berangkat ke galeri kamu"


Masih di meja yang sama keberadaan Moli dan Qori begitu berbeda dengan suasana kedua pasangan di sebelah mereka.


Qori terlihat semakin dingin dan acuh pada Moli, dia sama sekali tidak merespon setiap perkataannya Moli, membuat Moli mulai jengah mengebrak meja, membuat setiap orang di dekat sana pun kaget langsung melihat si pelaku yang saat ini mulai melangkah pergi meninggalkan area kantin.


"Moli . . lo mau kemana ?" Teriak Lisa


"Molii . . . "


Teriak Delisa melihat kepergian temannya itu.


"Ini gara-gara lo Qo !"


"Sabar sayang"


Gery menenangkan mencoba memegang tangannya tapi segera di tepisnya lalu pergi menyusul Moli balik ke kelas.


"Aku susul mereka dulu ya bim, terus buat elo Qo, kalo lo beneran gak suka sama Moli bilang jangan buat dia malah terus berharap sama lo "


Delisa pergi menyusul kedua temannya meninggalkan ketiga laki-laki itu, Qori saat ini hanya diam dan nampak terlihat frustasi, gerat wajahnya tergambar seperti menyesal tapi entah harus bagaimana.


Ketiga laki-laki tampan itu pun mulai melangkah pergi meninggalkan keramaian yang mulai berpusat pada meja yang mereka tempati, menuju tempat yang lebih tenang mereka pergi ke taman belakang sekolah.


"Lo kenapa sih Qo !? kenapa lo jadi nambah bodoh gini!" maki Gery


"Lo udah ngapain Moli sampai pergi gitu!?" tanya Bima


"Gue juga gak tahu, gue cuma lagi kesel doang sama dia!"


"Lo kesel karena omongan dia waktu istirahat pertama kan ?" tebak Gery


"Cih, jangan ingetin gue soal itu!"


"Emang omongan apaan ? gue pengen tahu"


Bima penasaran ingin tahu.


"Kata-kata si Moli mau cari cowok lain, padahal cuman bercandaan tapi dia malah tiba-tiba pergi terus marah kesel sendiri gini"


"Ah jadi lo kesel karena Moli mau cari yang lain? kayaknya lo udah luluh sama si Moli Qo"


"Apaan sih enggaklah"


Qori mencoba menyangkal walau hati dan tingkahnya berkata berlainan.


"Jangan suka ngebohongin diri sendiri Qo, kalo lo suka minta maaf kejar dia!" saran Gery


"Tapi enggak tahu kapan!"


Potong Qori mulai jengkel oleh nasihat-nasihat kedua temannya sekarang.


"Walau enggak tahu kapan tapi gue udah membuat sebuah keputusan, dan langkah selanjutnya harus gimana"


"Iya enggak kayak elo bodoh yang enggak tahu sama perasaan diri sendiri" sebal Gery


"Hah . . . udahlah jangan ikut campur masalah tentang gue" Qori mengusak kebelakang rambutnya.


"kita bukan ikut campur Qo, kita cuman kasih nasihat biar lo tau perasaan lo saat ini"


Gery mulai melunak menepuk pelan bahu temannya dan Bima yang mengangguk mengiyakan perkataan Gery pada Qori.


Di sisi lain Moli saat ini sedang menangis dalam ruang kelas nya sendirian karena yang lain memang sedang istirahat di luar, Tak selang berapa lama kemudian Lisa dan Delisa mendekati bangku Moli mencoba menenangkan.


"Udah Mo, jangan nangis gini ah mana Moli yang ceria seperti biasanya" kata Delisa sambil mengelus punggung Moli.


"Iya biar nanti si Qori itu gue hajar sekalian"


kesal Lisa


Moli mulai mendongkak melihat kearah kedua gadis itu dengan mata yang penuh dengan air bercucuran terurai di pipinya, menghapus air mata yang berjatuhan Moli berbicara dengan nada kesal pada teman-teman nya itu.


"Gue gak bakal sekolah lagi Li, Del"


"Lo ngomong apa sih Mo !? maksudnya mau pindah sekolah !"


"Jangan!! terus kita berdua gimana kalo enggak ada lo"


Lisa memeluk Moli matanya mulai berkaca-kaca bersamaan dengan Delisa di tengah-tengah mereka.


"Ya enggak lah gila aja gue pindah, gue cuman mau izin selama satu minggu atau sepuluh hari, gue mau tahu dia bakal nyari gue apa enggak sambil gue tata hati gue dengan bener buat dia."


Kata Moli menjelaskan rencana membuat seorang Qori yang dingin itu agar mulai merasakan ketidak hadiran dirinya di hidupnya, apa akan diam saja atau malah mencari dia sambil menyusun rapih hatinya menerima semua kemungkinan yang akan terjadi atas rencananya itu.


"Kalo gitu gue ikut rencana lo ini, biar cacingan itu tau rasa di tinggal orang yang benar-benar sayang sama dia" geram Lisa


"Gue juga ikut, gue gak mau liat Moli ku yang cantik ini nangis lagi"


Delisa memeluk Moli di susul Lisa ikutan memeluk kedua temannya itu, mereka tertawa jahat membayangkan rencananya itu akan berhasil.


Bel masuk pun berbunyi membuat para siswa mulai kembali ke ruang kelas masing-masing.


seribu langkah kaki hilir mudik menulusuri jalan-jalan yang cukup ramai karena tujuan tempat yang sama.


Bahkan ketiga laki-laki yang barusan di taman pun melangkah kembali ke kelas, melewati kelas para gadis tadi melihat lewat kaca jendela Moli yang sedang menangis dan di kelilingi oleh teman-temannya membuat Qori makin merasakan sakit di dada nya. lalu mempercepat langkahnya meninggalkan apa yang barusan dia lihat.


Moli dan kedua temannya itu pun kembali tertawa terbahak meyakini akting barusan mereka itu sungguh berhasil.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


#####


Gimana episode 21 kali ini guys ?? tolong beri kritik yang sopan dan saran yang membangun. jangan lupa kasih tip dan vote. tekan juga like dan jadikan ini cerita favorit kalian.


안녕~~💜🥰