WE BECOME DATE

WE BECOME DATE
eps 25



Matahari mulai terlihat, cahayanya yang hangat masuk ke sela-sela jendela menerobos, menyentuh wajah tampan Bima yang baru keluar kamar mandi telah lengkap memakai baju seragam sekolah.


"Selamat pagi Tuan dan Nyonya, Nona Bibil yang cantik juga"


"Pagi pak Toto, tolong masukan koper kita ke bagasi yah, suruh mang Ujang siap-siap antar kita ke bandara"


"Iya tuan"


"Sarapan nya udah jadikan pak?"


"Sudah siap semua nyonya"


"Yaudah, kalo udah selesai nanti datang ke dapur temui kita lagi"


Pak Toto hanya mengangguk lalu pergi membawa semua koper milik tuannya ke halaman depan sudah ada mobil.


"Pagi ayah bunda Bibil sayang"


Teriak Bima sambil menuruni tangga mendekat ruang makan.


"Pagi sayang" jawab mereka serentak


"Itu koper punya ayah sama bunda?"


"Iya kan ayah udah bilang kita bakal keluar kota"


"Abang sendiri di rumah baik-baik yah" nasihat bunda


"Iya bunda, kan abang udah gede"


"Udah gede tapi bangun masih suka di bangunin orang"


"Haha hari ini enggak kan?"


"Iya hari ini doang" sela ayah


"Kalian pergi cuman 3 hari kan? enggak lama-lama di luar kotanya?"


"Iya tiga hari paling cepet, tapi kalau lama pun paling seminggu di sana"


"Yah jangan lama gitu dong"


"Sebisa mungkin kita bakal cepet kerjanya, biar cepet pula pulang kerumah nya"


"Iya harus cepet pulang"


"Selama kita di luar jangan bawa tamu ke rumah, tapi kalo tamu nya banyakan boleh"


"Emang abang mau bawa siapa?"


"Yah siapa tahu Gery sama Qori atau yang kemarin?" ejek ayah


"Abang gak bakal bawa cewek ke rumah kalo ayah sama bunda gak ada"


"Abang juga gak boleh pulang malam, wajib makan malam di rumah, nanti bunda tanya sama pak Toto"


"Iya bunda, tapi malam ini makan di luar boleh kan?"


"Malam ini doang yah" peringatan bunda


"Iya bunda terima kasih, ayah sama bunda berangkat jam berapa?"


"Ah udah jam segini ayah ayo cepet berangkat, kamu juga abang cepet berangkat!" bunda mulai repot


"Ah iya bunda enggak ada yang ketinggalan ?" ayah juga ikut heboh


"Ayo berangkat semua" teriak Bima sambil tertawa melangkah keluar.


Dua mobil mewah telah berada di halaman depan sudah tersedia untuk para majikan mang Ujang yang sekarang sedang menunggu di pinggir mobil.


"Mang Ujang ayo berangkat ke bandara"


"Iya tuan, siap"


"Abang jangan nakal, inget semua pesan bunda, sekolah yang bener!"


"Ayah sama bunda juga Bibil pergi sebentar, kita sayang abang" lanjut ayah


"Iya hati-hati sampai tujuan, kalo nyampe kasih tahu, abang sayang kalian"


Seraya masuk ke dalam mobil untuk dirinya pergi.


"Pak Toto titip rumah yah, kita pergi !"


"Iya Nyonya, hati-hati" kepala pelayan itu menunduk saat mobil tuan dan nyonya pergi.


"Abang juga pergi pak Toto, buat makan malam abang makan di luar"


Kata Bima sebelum melepas landas dari kediaman menuju rumah Delisa terlebih dahulu sebelum ke sekolah.


Tak perlu waktu lama hanya beberapa menit Bima membawa mobilnya untuk sampai ke kediaman Delisa, dan di sambut oleh satpam di sana yang telah mengenal siapa yang datang tiap pagi menjemput nona muda majikannya.


"Selamat pagi den Bima" sapa satpam


"Selamat pagi pak"


"Pake mobil sekarang jemputnya den?"


"Iya pak di suruh papah"


"Wih udah panggil tuan papah aja sekarang den, udah di dapat lampu hijau nih!?" goda satpam itu.


"Haha iya nih pak, kemarin malam tiba-tiba di suruh panggil papah, tandanya lampu hijau buat sayakan" balas Bima


Mereka mengobrol cukup lama, sampai lupa ada yang menunggu di dalam rumah sana. Delisa menunggu Bima yang tak kunjung datang ke dalam rumah.


"Bima nya mana Del? Kok belum ke sini?"


"Iya gak tahu ni mah"


"Jangan-jangan malah ngobrol di depan sama satpam" Tebak mamah tepat.


"Kayak nya iya deh mah, kalo gitu Delisa coba liat keluar"


"Tuh kan bener ada di depan, dasar Bima kebiasaan ya anak itu" kata mamah di belakang Delisa.


"Hah memang dasar, kalo gitu aku pamit ya mah, aku sayang mamah,. muah, byee"


Setelah mecium pipi mamah nya, Delisa segera menghampiri Bima di pos satpam, walau masih berada di dalam mobil yang menyala.


"Bapak satpam kenapa malah ajak Bima ngobrol, jadi ke asikan kan dia !"


Ucapan Delisa membubarkan obrolan kedua pria beda usia itu.


"Iya non maafkan saya"


Satpam itu pun menunduk sebentar meminta maaf.


"Iya pak gak papa, lain kali jangan lama ngobrolnya" peringatan Delisa


"Iya non maafkan saya"


"Iya bapak kembali kerja lagi kita mau berangkat sekarang"


Delisa pun memasuki mobil duduk di kursi penumpan di depan, Bima yang merasa bersalah pun menggaruk kepala nya yang tak gatal sambil tersenyum.


"Maaf malah ke asikan ngobrol"


"Iya boleh ngobrol tapi jangan lama-lama, kan mau pergi sekolah Bim"


Dengan nada agak kesal Delisa memberitahu Bima.


"Iya maaf Del, nanti di beliin es krim deh"


"Emang aku anak kecil sampai di beliin es krim segala"


"Iya bukan gitu, kamu mau apa kalo gitu aku beliin !?"


"Beneran mau beliin?" Delisa mulai tersenyum


"Asal jangan yang mahal atau aneh"


"Yah masa gak boleh yang mahal, kan abang anak kaya raya" Delisa menyilangkan tangan di dada nya.


"Wah kamu mulai matre yah" ejek Bima


"Perempuan itu enggak ada yang, yang ada cowok nya yang enggak mau modal"


"Iya abang ngalah! aku bakal menguras seluruh uang jajan hari ini buat Delisa tersayang" Bima mencolek dagu Delisa


"Nah gitu dong, sekarang kita berangkat dulu ke sekolah. Soal ini kita bahas lagi nanti"


"Iya ayo berangkat, pake itu sabuk pengaman nya"


Peringatan Bima sambil terus mengusak rambut pendek Delisa yang lembut.


Mereka mulai menjauhi daerah komplek menuju gedung sekolah di mana mereka mencari ilmu untuk masa depan yang lebih cerah.


"Hem aku harus minta apa yah sama kamu?"


Gumam Delisa yang masih bisa di dengar Bima yang berada di sampinya.


"Terserah asal jangan mahal dan aneh-aneh"


Jawab Bima yang masih fokus mengendarai.


"Aku pengen kamu traktir aku makan pas pulang sekolah, sekalian sebelum itu kita nonton di bioskop dulu" Delisa tersenyum menghadap Bima


"Iya baiklah, hari ini aku bakal turutin kemauan kamu itu"


"Yes, tapi aku mau ajak yang lain juga, kamu yang traktir" Delisa mulai tertawa


"What ? sama yang lain juga aku traktir?" Bima kira hanya mereka berdua


"Iya semuanya"


"Tapi kan Moli sama Qori lagi ada masalah, nanti malah nambah kecanggungan" ingat Bima


"Ah iya aku lupa, yaudah kali ini kita berdua aja . . . Tapi lain kali sama yang lain"


Perkataan Delisa terhenti sebentar lalu melanjutkannya kembali, melihat Bima yang pasrah mengangguk mengiyakan.


Yang penting sekarang berdua dulu, soal nanti harus sama yang lain itu belakangan. Untung juga tadi udah bilang sama yang di rumah, jadi bisa pulang telat.


Pikir Bima.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


#####


Gimana episode 25 kali ini guys ?? tolong beri kritik yang sopan dan saran yang membangun. jangan lupa kasih tip dan vote. tekan juga like dan jadikan ini cerita favorit kalian.


안녕~~💜🥰