
Bima dan Delisa mulai menaiki mobil kembali mulai melaju ikut meramaikan jalanan, sepanjang jalan di habiskan dengan penuh keceriaan, saling bercerita, tertawa bersama, mendengar musik dari radio dan bernyanyi, hal sederhana itu tak akan pernah mereka berdua lupakan dan akan selalu di ingat.
Tak terasa tempat yang mereka kunjung telah berada di depan mata. Bima mengajak jalan-jalan pertamanya bersama Delisa ini, ke taman bermain yang saat ini kebetulan sedang penuh oleh orang-orang, bertepatan hari ini hari minggu.
"Wah kita ke taman bermain?"
"Iya kamu suka ?"
"Suka banget, udah lama rnggak main kesini"
Wajah semangat Delisa sangat menggemaskan mata nya ikut membesar dan bersinar, senyum di bibir tipis nya itu terus mengembang.
Setelah mutar-mutar parkiran akhirnya mobil Bima akhirnya mendapatkan tempat untuk parkir, mereka berdua turun dan mulai mengantri cukup lama sampai dapat tiket masuk dan di beri gelang khas tempat bermain tersebut.
Karena banyak orang dan takut terpisah Bima tiba-tiba menggandeng tangan Delisa tanpa berbicara apapun, Delisa yang merasakan tangannya di gandeng pun hanya bisa diam menerima perlakuan Bima itu.
Hati mereka berdua sebenarnya berdegup kencang tak karuan, berasa ada aliran listrik saat mereka berpegangan tangan, mecoba menenangkan hati dengan melihat sekeliling yang penuh keramaian di tiap penjurun taman bermain.
"Kita mau naik apa dulu?"
"Hem kita naik yang ekstrim dulu" delisa menunjuk wahana seperti ayunan. tanpa melepas gandengan tangan mereka pun pergi mencoba naik wahana tersebut duduk di ayunan yang cukup untuk dua orang.
Setelah wahana berhenti meraka pun mulai menaiki berbagai wahana-wahana bermain yang ada mulai dari yang esktrim sampai yang biasa, arum jeram, rollercoaster, piring putar, tornado semua mereka coba.
"Bim makan cape~ laper~"
"Ayo kita cari makan"
Setelah turun dari wahana bermain Delisa merengek, Bima yang melihat itu gemas tak tertahan dan mulai mengusap rambut Delisa lau menggandeng tangan Delisa yang sudah cukup lelah berkeliling.
Mereka pun akhirnya memlih beristirahat sebentar di dalam restoran cepat saji yang masih di tengah-tengah taman bermain. mereka memesan makan dan minum, Delisa hanya menunggu di tempat duduk memperhatikan Bima yang sedang memesan pesanan mereka.
Delisa diam-diam mengambil foto Bima yang hanya memperlihatkan punggung lebarnya. karena Bima datang membawa nampan yang di atasnya ada makanan mereka Delisa buru-buru memasukan kembali benda kecil tipi itu.
"Makanan datang~"
"Yeayy makasih makanan nya"
bima terseyum datang sambil membawa pesanan mereka dan duduk berhadapan dengan delisa.
"Udah ini mau coba wahana apa lagi?
Bima menantap Delisa yang sedang menggigit makanan nya Delisa berpikir mau coba wahana mana lagi setelah ini.
"Ayo kita ke rumah hantu kayak nya seru"
"Kamu yakin berani ? gak bakal takut pas masuk sana?"
"Berani dong, kan ada kamu"
"haha dasar penakut" ledek bima
"Kita beneran mau masuk sini Del?"
Tanya Bima meyakinkan Delisa setelah tadi selesai makan ia benar-benar menyeret Bima pergi ke area rumah hantu
"Iya ayo masuk"
Dengan langkah percaya diri Delisa maju duluan memasuki rumah hantu yang gelap di dalam nya.
"Selamat datang di Rumah hantu"
Delisa berteriak setelah ada suara tersebut di depannya membuat nya takut serta kaget, ia pun pergi kebelakang tubu Bima memegang erat tangan dan baju yang ada di depannya Delisa bersembunyi,
"Katanya berani baru di kagetin sedikit udah menciut nyalinya"
"Aku kaget Bima"
"Lah terus kenapa malah aku yang di depan?"
"Tadi di rumah katanya mau ngelindungi aku dari apapun ya buktiin dong!"
"Hahaha oke berlindung di belakang abang yah sayang"
Di setiap sudut tempat Delisa selalu menjerit dan mengeratkan genggaman tangan pada Bima yang sekarang tertawa bahagia mendapat perlakuan dan juga dapat melihat sisi Delisa yang menggemas seperti itu.
Lorong bercahaya menuju keluar mulai terlihat membuat Delisa mulai mempercepat langkahnya, walau Bima sebenarnya ingin lebih lama dalam situasi barusan.
Setelah berada diluar delisa masih merasa jantungnya berdebar bukan hanya karena hantu-hantu bohongan di dalam tapi karena kejadian saat delisa yang di kaget oleh hantu bohongan yang tiba-tiba muncul yang akhirnya delisa memeluk bima di dalam tadi. itu membuat jantung delisa dan bima berdegup berasa mau copot.
"Kata nya berani!" ejek Bima
"Jangan ejek aku terus"
"Penakut penakut Delisa penakut"
"BIMA . . ."
Bima terus mengjek Delisa membuat ia ingin memukul Bima tapi malah lari menjauhi nya yang akhirnya terjadilah main kejar-kejaran di sana, banyak yang memperhatikan tingkah lucu mereka.
"Udah ini mau sore kita lanjut main"
"Ayo ke toko suvenir"
Delisa tidak menjawab malah terus menyeret tangan Bima yang pasrah sekaligus tersenyum kaget ternyata gadis di depannya ini berani memegang tangannya.
"Bim coba pake ini"
"Bandana apa ini bentuk telinga kelinci, bagusan kamu yang pake"
"Aku yang ini, bentuk telingan kucing bagus gak ?"
"Diem sebentar"
Bima mengeluarkan benda pipih di saku nya memotret wajah cantik serta manis Delisa yang memakai bandana tersebut.
(Wah gila gemesin banget sih jadi pengen karungin bawa ke rumah) pikir Bima
"Mana liat hasilnya?"
"Udah bagus-bagus jangan di liat"
"kamu juga ayo foto berdua sama aku sini"
Mereka pun mengabadikan kebersamaan itu melalui kamera di telpon genggam mereka, menyimpannya dengan baik untuk sebuah kenang - kenangan.
Bima terus memaksa Delisa memakai bandana tadi, ia pun pergi ke kasir membayar barang yang terletak di kelapanya itu.
"Udah pake lucu, aku suka"
"Hemm"
Delisa mencoba memlaingkan wajah nya tak ingin sampai Bima melihat betapa merah pipinya sekarang, Tangan yang terus di genggam pun makin erat kaitannya terus menulusuri area dengan penuh debaran hangat.
"Kita naik komedi putar sekarang del"
"Aku mau yang bentuk kuda itu"
"Iya terserah kamu, yang pasti aku harus deket kamu"
"Enggak harus jauh-jauh sana huss"
"Wah kamu suruh aku ngejauh? No gak mau"
Bima tiba-tiba memeluk Delisa dari belakang karena memang pada dasarnya sedang mengantri, tubuh mereka berdua seakan langsung membeku tak bergerak sedikit pun.
"Ehem Bima lepas"
"Ah iya Sorry Del"
Rasanya benar-benar canggung bahkan saat naik wahana mereka tertawa berhadapan tapi langsung terdiam memalingkan muka ke arah berlawanan.
(*Kenapa tadi malah segala sih dasar tangan!)
pikir Bima
(Uh aku malu enggak bisa tatap wajah Bima)
Pikir Delisa
(malah jadi canggung gini sih*)
Pikir Bima dan Delisa bersamaan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#####
Gimana episode 10 ini guys ?? tolong beri kritik yang sopan dan saran yang membangun. jangan lupa kasih tip dan vote. tekan juga like dan jadikan ini cerita favorit kalian.
안녕~~💜🥰