
Langkah yang terhenti, terasa pelupuk hati nya perih langsung tersirat jelas di pemilik wajah berhati dingin itu, tak ingin berlama-lama mematung di sana Qori melangkah cepat menuju ruang kelas nya di susul oleh kedua temannya.
"Jadi sekarang lo mau gimana Qo?" Tanya Bima
"Wah gila anak orang lo buat nangis gitu, Kasian Moli di sakitin terus sama lo !"
Tambah Gery
"Lo semua diem" bentak Qori
Sampai guru masuk melakukan setiap kegiatan nya memberikan sebuah pengajaran pada semua murid di kelas mereka mencoba fokus sejenak semua hal yang terjadi.
Detik demi detik pun berlalu larut dalam keheningan sampai waktu belajar mengajar di sekolah pun berakhir, semua siswa mulai melangkah pergi meninggalkan kelas.
"Ayo balik, gue ke kelas sebelah dulu mau ketemu ke sayangan gue"
"Tunggu Ge, bareng sama gue ! Lo ikut Qo?"
"Lo duluan aja"
"Oke kita duluan yah"
Bima dan Gery akhirnya melangkah keluar kelas meninggalkan Qori sendiri, hanya baru beberapa langkah ketiga gadis itu keliar dari ruang kelasnya melihat lalu melihat kedatangan kedua pemuda tampan itu.
"Temen kamu mana satu lagi?" tanya Lisa
"Qori dia masih di kelas, kita duluan aja"
"Cih dasar!"
"Jangan marah-marah gitu dong sayang, ini tuh ibarat proses menuju bahagianya Moli dan Qori"
"Moli nya harus tersakiti dulu gitu?"
"Ya mungkin, yang sabar ya Moli dia emang susah kalo soal hati"
Qori terlihat keluar dari kelas, padangannya langsung tertuju pada Moli yang sama-sama saling bertemu pandang, gadis itu langsung memalingkan mukanya dan melangkah pergi, tanpa sadar hati Qori merasa perih kembali.
Kita lupakan sejenak soal masalah barusan, mari kita pindah soal hubungan Bima dan Delisa saat ini yang sudah siap untuk pergi menuju tempat galeri pribadi Bima.
"Hey, kamu beneran mau liat galeri aku sekarang?"
"Iya ayo berangkat sekarang"
Di sela pertengkaran antara temannya tak mengubah situasi hubungan antara mereka, kedua pasangan itu tetap seperti biasanya.
Mereka berempat mulai pergi menuju parkiran, meninggalkan Qori di belakang dan juga seorang Moli yang barusan telah di jemput supir pribadi nya.
"Kita duluan Bim" Gery teriak
"Kita duluan ya Del, byee" pamit Lisa
"Iya hati-hati Li, Ge"
Balas Delisa yang di sisinya ada Bima melambaikan tangan tanpa bersuara.
"Cokelat barusan udah di makan?"
"Belum hehe"
"Kenapa? nanti leleh"
"Aku mau makan di rumah, kalo di sekolah nanti malah di pinta orang"
"Kamu tu pelit yah"
"Tapi inikan pemberian kamu, jadi cuman buat aku sendiri"
"Aw nambah jadi nambah sayang"
Bima mengusap rambut Delisa karena gemas dengan cara ia menjawab barusan, terlihat lucu serta manja membuat pemuda ini terasa terserang bertubi-tubi di hatinya.
Bima mulai melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang, tak ingin buru-buru karena setiap momen bersama gadis di didinya sangatlah berharga, dan waktu mereka berduaan pun hanya saat di mereka berangkat atau pun pulang ke rumah.
"Loh Bim inikan arah ke komplek?"
"Iya galeri aku emang di sini"
"Kok aku gak tahu sih di komplek ini ada galeri lukisan?"
"Karena ini galeri pribadi jadi orang-orang sini enggak bakal tahu"
"Hem emang galeri nya di mana? Wah kenapa kita masuk rumah mewah ini Bim? emang boleh masuk?"
"Inikan galeri pribadi milik aku dan keluarga, berarti galerinya ada di rumah dong, dan ini rumah aku"
"What? jadi sekarang aku, ini euh WHAT ?? really jadi ini rumah kamu?"
"Kamu enggak denger aku bilang apa waktu di kantin ? Galeri pribadi aku tuh ya di rumah."
"Aku enggak denger gara-gara gebrakan meja Moli, pantesan kamu nanya terus jadi enggaknya, kali tahu gini . . ."
"Apa ? enggak bakal ikut. Udah terlanjur ayo turun udah sampai"
"Selamat datang tuan muda, bawa teman ke rumah ?"
Sapa Toto kepala pelayan depan pintu rumah yang megah itu, melihat tuan muda nya pertama kali membawa teman seorang perempuan ke rumah.
"Iya pak, kenalin ini Delisa"
"Halo non Delisa"
"Oh iya halo pak"
"Bunda ada di rumahkan ?"
"Nyonya dan nona sedang pergi keluar sebentar, lalu tuan besar masih di perusahaan belum pulang"
"Kalo gitu siapin minuman sama cemilan ke ruang galeri yah pak"
"Siap tuan muda, saya pergi ke dapur dulu"
"Del tunggu sebentar aku ke kamar dulu"
"Oh iya bim, jangan lama-lama"
"Iya anggap rumah sendiri, kalo butuh apa-apa tinggal bilang sama pak Toto"
Delisa mengangguk lalu duduk setelah Bima mulai melangkah ke arah tangga menuju kamarnya, gadis itu tak mengira ternyata Bima sangatlah kaya, tak terlihat dari sikap nya yang rendah hati.
Walau gadis itu juga terlahir dari anak yang berkecukupan, tapi ia merasa keluarganya masih berada di bawah keluarga Bima. Hal itu tak membuat ia minder atau apapun, ia percaya Bima bukan orang yang melihat dari segi ekonomi seseorang untuk berada di dekatnya, toh banyak juga teman-teman nya Bima yang sama seperti Delisa, contohnya Gery dan Qori sahabat dekatnya.
Kedatangan pak Toto membuyarkan lamunan Delisa, mencoba kembali pada kenyataan sekarang memberikan senyum manis pada pada pak Toto
"Terima kasih pak"
"Iya non, ada yang bisa saya bantu lagi"
"Tidak pak sudah terimakasih"
"Kalo begitu saya permisi non"
"Ia pak silahkan"
Tak selang beberapa lama Bima mulai menuruni tangga telah berganti pakaian menggunakan pakaian main sehari-hari, Mendekati Delisa takut ia merasa bosan menunggu dirinya sendiri di ruang tamu.
"Maaf nunggu lama"
"Oh enggak"
Bima pun langsung menghempaskan bokongnya duduk tepat di samping Delisa yang saat ini masih terpukau oleh ketampanan Bima, walau pernah melihat Bima memakai baju bebas selain sekolah tetap saja ia masih sering terpukau.
"Kamu udah bilang orang tua kamu bakal pulang telat ?"
"Ah iya aku hampir lupa, aku telpon dulu"
Saat akan menelpon orangtuanya Bima tiba-tiba menyandarkan kepalanya di bahu Delisa sambil melihat ke arah layar handphone yang di genggam Delisa.
Dia biarkan Kelakuan Bima sampai ia selesai menelpon memberitahu kabarnya pada orang rumah tak ingin membuat mereka khawatir lalu uring-uringan mencari gadis itu.
"Iya mah dah"
"Selesai ?"
"Iya udah, awas kepala kamu berat"
"Ayo ke tempat galeri pribadi aku"
Mereka melangkah menuju ruangan yang di jadikan tempat ia menuangkan idenya dalam sebuah coretan di atas kanvas.
"Di galeri cuman ada lukisan buatan kamu doang?"
"Ada juga buatan ayah disana"
"Enggak ada koleksi dari pelukis terkenal di galeri kamu?"
"Enggak kita gak suka koleksi, kita cuman hobi ngelukis atau liat karya milik orang lain di pameran"
"Hem, biasanya orang-orang yang suka lukisan suka koleksi juga"
"Kita lebih suka ngebuat dari pada ngoleksi"
"Pernah mikir buat buka pameran enggak bim?"
"Aku pernah ikut pameran bareng klub melukis sekolah, hasil pamerannya di sumbangkan ke sekolah buat nambah beasiswa temen-temen"
"Kapan?"
"Udah lama, awal semester kemarin kalo gak salah"
"Yah padahal aku pengen liat pamerannya"
"Nanti dua minggu lagi ada lomba, biasanya sehari setelah penilaian hasil karya peserta suka di jadiin pameran, kamu bisa liat-liat lukisan disana"
"Lomba yang kamu ikutin? aku harus ikut liat pamerannya"
"Pamerannya gratis kok kita bisa kesana bareng anak-anak, pamerannya pasti di buka pas weekend"
"Yes aku gak sabar"
"Nah kita sampai, aku buka pintu nya"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#####
Gimana episode 22 kali ini guys ?? tolong beri kritik yang sopan dan saran yang membangun. jangan lupa kasih tip dan vote. tekan juga like dan jadikan ini cerita favorit kalian.
안녕~~💜🥰