WE BECOME DATE

WE BECOME DATE
eps 19



Di saat Delisa masuk telah banyak teman-teman yang berada di dalam ruangan kelas yang begitu gaduh penuh dengan kebisingan sana-sini banyak kejahilan dan obrolan penuh tawa.


dengan wajah yang penuh senyum, pipi yang merah padam dan satu buah buah cokelat di tangan. membuat Moli dan Lisa menatap penasaran apa yang telah terjadi pada temannya itu.


"Del lo kenapa sakit ? muka lo merah banget jangan-jangan demam" Moli khawatir


Tapi Delisa hanya membalasnya dengan gelengan kepala tanda dia baik-baik saja.


"terus kenapa lo senyum-senyum?" tanya Lisa


sekali lagi delisa hanya membalasmya dengan gestur tubuh. mengangkat bahu tanda tak ingin memberi tahu.


"Aww come on Delisa cerita sama kita! jangan bikin kita penasaran gini" Kesal Moli


Delisa hanya diam tersenyum layaknya orang gila menurut orang lain yang melihatnya. Tiba-tiba Lisa mengambil cokelat yang berada di tangan delisa. dan membuat delisa sadar dan mencoba merebut kembali tapi tangan itu di halang oleh Moli ,meminta gadis itu menjawab semua pertanyaan dari mereka terlebih dahulu.


"jawab dulu semua pertanyaan kita del" paksa Moli


"oke gue jawab, tapi siniin dulu cokelatnya"


"nih cokelatnya, kenapa baru sampai kelas lo pipi merah terus senyum-senyum?"


kata Lisa sambil memberikan cokelat yang di rampasnya.


"terus tadi enggak bareng pula sama cowok lo itu si bima" susul Moli


"jadi di mobil bima sama gue . . . "


bel masuk sekolah berbunyi tak lama kemudian guru pun masuk kedalam ruang kelas mengakibatkan cerita delisa terpotong.


dan para kedua temannya itu pun merundung kesal harus mendengar cerita yang terjeda.


di sisi lain saat bel berbunyi bima baru bisa masuk kelas. kedua temannya yang tampan melihat bima yang masuk dengan buru-buru.


"Oy kok baru dateng lo!?"


tanya Gery cukup keras saat bika mau menuju bangku nya


"pas lewat koridor di cegat dulu sama anak-anak klub melukis gue"


"pantesan lama. emang ada apaan sampai di cegat gitu?"


"gue di duruh ikut lomba melukis ngewakilin sekolah, lomba nya minggu depan"


"terus lo mau ikut?"


"iya ikutanlah lumayan hadiah utamanya."


"Temanya apa?"


"Enggak tahu, gue belum dikasih detailnya, tapi yang pasti hadiah utamanya uang"


bima tersenyum melihat kedua temannya yang kini sedang menganga ikut kaget sekaligus senang


"Jangan lupa traktiran, kalo menangg"


kata Qori senang mendengar dapatnya peluang traktiran makan enak dan begitu juga Gery ikut manggut manggut setuju.


"Soal makan-makan sih gampang bro"


"yess, ajakin juga cewek gue, cewek elo sama cewek nya si Qori biar rame"


semangat Gery untuk mengajak pacardan kedua gadis cantik temannya tak sabar hari itu akan datang.


"siapa cewek gue ??" dengus Qori


"Yaa si Moli lahh, bukannya dia ngebet banget mau sama lo" ejek Gery


"NO. . . kagak mau guaa"


"nanti jadian sama dia awas lu"


Qori menolak perkataan Gery sambil melakukan gestur ngeri membayangkan tingkah laku Moli padanya.


Bima dan Gery pun bertos ria berhasil mengejek Qori.


akhirnya guru pun masuk kedalam ruang kelas Bima dan kawan-kawan. belajar mengajar yang efektif siap di laksanakan.


kelas yang asalnya berisik dan ricuh pun mulai tenang memperhatikan guru.


tak terasa jam menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi menjelang siang, tanda jam istirahat pertama telah tiba. Bima pamit pada kedua temannya akan pergi ke ruang klub, menanyakan detail perlombaan.


delisa yang berada di dalam kelas melihat kaca jendela ada bima melewati kelasnya begitu saja seperti orang yang buru-buru.


mungkin lagi ada urusan penting, sampai jalan buru-buru gitu. gumam Delisa


"Terimakasih untuk hari ini pak" suara serentak oleh para siswa do kelas delisa saat guru hendak keluar. sampai mengagetkan delisa yang tadi melamuni bima pergi.


"Delisaaa kita lanjutin cerita kamu yang tadi pagi terpotong"


pinta Moli saat menghadap bangku belakang tempat duduk delisa. Lisa pun ikut mendekatkan bangku nya agar lebih nyaman.


"Cerita yang mana ?"


"ihh jangan pura-pura lupa deh del." kata Lisa


"lo enggak bakal pikun saat masih muda kan"


dengus Moli mulai kesal


"haha oke aku cerita. mau mulai dari mana?"


delisa tertawa kecil melihat temannya mulai kesal padanya.


"dari awal sampai akhir dong" jawab lisa dan moli berbarengan


"iya kita tau, sekarangkan bima udah kayak sopir lo anter jemput sekolah" potong Lisa


"lanjut cerita jangan nih!?"


Delisa mendelikan mata pada kedua temannya.


"lanjut dong, Lisa jangan potong cerita orang"


antusias moli lalu memukul tangan Lisa karena gemas.


"oke lanjut yah. pas gue selesai tanya bima kenapa pake mobil tiba-tiba bima ngebantu gue pasang sabuk pengaman. mukanya tuh deket banget sama gue. sampai gue kaget kita berdua tuh malah diem saling tatapan mata gini gini nih"


Delisa memperagakan nya pada Moli yang berada di depan nya ,seberapa dekat wajah bima dan delisa tadi saat kejadian. membuat kedua temannya itu pun ikut membelalakkan matanya terkejut. pasalnya jarak wajahnya sangat dekat hanya ada beberapa senti diantaranya.


"wah beneran lo kayak gitu tadi?" kata Lisa


"kalian berdua sampai ciuman enggak?"


tanya Moli penasaran lalu mendapat sentilan di jidatnya.


"iya enggaklah, tapi pas kita udah tatapan gitu bima langsung kayak liat bibir gue gitu, jantung gue deg degan gak karuan, jadi gue tutup mata tapi enggak terjadi apa-apa. bima langsung lanjut pake sabuk pengaman"


"Yahh kenapa enggak ciuman Delll" Moli menyayangkan yang di tambah anggukan kepala Lisa.


"Gila aja, gue sama bima belum pacaran, buat apa ngelakuin gituan coba"


"Siapa aja kalian berdua khilaf jadi ciuman bisakan?" kata Lisa


"kalian berdua ini yahh!!"


"hehe terus lo berdua ngapain udah itu? pasti suasana nya canggung banget dalam mobil"


tanya Lisa


"benerrr jadi canggung banget gitu. terus enggak ada yang mau mulai ngomong"


Delisa membenarkan dugaan Lisa


"Tapi pas udah di parkiran bima tiba-tiba ngomong nyuruh gue buka dasboard depan gue. dan lo tau gue dapet apa?"


"jangan bilang itu cokelat dari bima?"


tebakan Moli tepat sasaran karena langsung mendapat anggukan dan senyum dari Delisa.


"pantesan pas kita rebut itu cokelat lo kesel kayak enggak rela gitu. ternyata dapat dari bimaaa" Lisa memutar matanya jengah


"lah terus kenapa pas kekelas lo gak bareng bima? biasanya sampai depan kelas lo dianter !"


"hehe. . . udah dapet cokelat dari bima dia malah ngegombalin gue. katanya makanan manis buat orang yang manis juga. dia udah dua kali manggil gue sayang juga. terus kata gue bilang dong *apaan sayang jadian aja belum*"


"terus terus respon dia gimana?"


Moli dan Lisa mulai tersenyum antusias mendengarkan kelanjutannya


"dia bilang *nantikan jadian* iya gue bilang aja enggak sabar langsung pergi ninggalin dia di dalem mobil yang teriak tunggu sebentar lagi"


pipi delisa mulai memerah kembali mengingat ia yang tiba-tiba mengatakan tak sabar ingin cepat jadian. dan di balas untuk tunggu sebentar lagi.


"kenapa harus sebentar lagi!" dengus Moli


"Iya padahal langsung jadian aja, uda sama-sama suka nunggu apalagi itu bocah" kesal Lisa.


"entah, yang pasti gue bakal nunggu dia"


delisa tersenyum penuh arti dan harap pada kedua sahabatnya itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


#####


Gimana episode 19 ini guys ?? tolong beri kritik yang sopan dan saran yang membangun. jangan lupa kasih tip dan vote. tekan juga like dan jadikan ini cerita favorit kalian.


haruskah aku kasih gambar visual tiap para tokoh ?? kalo iya komentar di bawah.


안녕~~💜🥰