
Mereka telah sampai di daerah sekolah, menuju area parkir yang tersedia untuk seluruh murid serta guru dan staff sekolah.
"Bima kamu mau langsung ke kelaskan?"
Tanya Delisa pada Bima setelah turun dari mobil meninggalkan nya terpakir di sana
"Hari ini aku mau ke ruang klub dulu, ada yang mau di bahas katanya"
"Mau bahas apa ?" Delisa penasaran
"Paling soal lomba itu!?" Tebak Bima
"Oh kalo gitu aku duluan ke kelas yah, bye"
Mereka pamit setelah sampai persimpangan antara gedung kelas dan gedung seluruh kegiatan klub sekolah.
Menembus semua kerumunan orang di koridor akhirnya Bima sampai ruang klub, telah banyak teman-teman klub nya berkumpul.
"Hey Bim, cepet duduk kita mulai rapat nya" suruh ketua klub.
"Iya maaf lama datang ke sininya"
"Yo gapapa, oke kita mulai jadi buat lomba nanti kita . . . . . "
Kita tinggalkan rapat pagi klub melukis bersama Bima, kita pindah dengan kedua gadis yang sekarang berada di ruang kelas, mereka siap melakukan semua rencana yang telah Moli buat.
Hari ini tak masuk sekolah untuk beberapa hari kedepan, rencana agar Qori mencari dirinya dan mengungkapkan perasaan padanya, emang dasar Qori harus melalui sebuah drama dulu baru tahu perasaannya.
"Lisa mana sih kok belum dateng!?"
Gerutu Delisa sendiri di ruang kelas
Di luar kelas Lisa mengajak dulu Gery ke kelasnya meninggalkan Qori sendiri menuju kelas mereka.
"Sayang ke kelas aku dulu yahh, please"
"Kenapa? biasanya gak mau anter sampai dalem kan?"
"Yaudah kalo gak mau, pergi sana!" rengek Lisa
"Gak bae ayo aku anter masuk, Qo lo mau ikut dalem?"
Tanya Gery yang sudah pasrah ikut kemauan Lisa, tapi Qori hanya berlalu melangkah menuju kelas dirinya.
"Dasar dari kemarin dia galau mulu" kesal Gery
"Dia galau?" seraya melangkah Lisa dan Gery ke dalam kelasnya.
"Kenapa kalian baru dateng ke kelas, aku sendiri nunggu lama" rengek Delisa
"Sabar dong, kamu datang ke sekolah nya kepagian" kata Lisa
"Kalian yang datangnya siang" kesal Delisa
"Udah jangan ribut masih pagi" Gery menjadi penengah.
"Ah iya ceritain kenapa malah si Qori galau?"
Lisa mengalihkan topik secara alami
"Qori galau? harusnya Moli yang galau sekarang!" terus Delisa
"Iya malam dia curhat sama aku, lagi galau gak tahu harus gimana soal perasaan dia sama Moli"
"Baru di lepas sekarang aja udah galau, gimana kalo Moli pindah sekolah dan gak ketemu lagi sama dia" Dengus Lisa sebal
"Moli mau pindah sekolah? pantes dari tadi aku gak liat Moli sama kamu Del" Gery kaget
"Enggak pindah beb, jadi gini Moli itu punya rencana buat pura-pura pindah sekolah jadi dia enggak bakal sekolah selama beberapa hari ini" Lisa menjelaskan
"Oh syukurlah, kirain beneran pindah, kalo iya Qori bisa menggila kayak nya karena nyesel"
"Nah itu rencananya biar Qori tuh nyesel udah kehilangan, Moli pengen tahu Qori beneran gak punya perasaan sedikittt pun sama dia atau memang dia belum tahu sama perasaannya" lanjut Delisa
"Ah aku ngerti, aku bakal ikut permainan kalian , aku bakal bilang Qori hari ini Moli gak masuk sekolah karena mau pindah"
"Yeah panas-panasin dia biar tahu rasa" usul Lisa yang mulai terpancing
"Jangan bilang mau pindah sekolah, bilang aja gak tahu mungkin karena gak mau liat Qori atau something" saran Delisa
"Iya juga sih, kalo gitu aku kelas yah bae" Gery pamit pada Lisa sambil mecubit pipinya gemas.
"Iya buat rencana ini berhasil" teriak Lisa semangat
Belum beberapa langkah menjauh Gery menghadap lagi ke belakang arah kedua gadis tersebut.
"Ada apa beb?" Heran Lisa
"Aku harus kasih tahu Bima?" tanya Gery
"Ya iyalah biar ada yang ikut komporin" jawab Lisa
Gery menganggukan kepala mengerti, lalu mulai melangkah lagi kelaur menuju ruang kelasnya di sebelah.
"Pacar kamu tu kenapa sih Li?"
"Emang kenapa?" Lisa mengernyitkan dahi heran
"Gue juga gak tahu Del sama cowok gue hah"
Dentingan bel masuk sekolah pun terdengar semua murid berjalan serta belari kecil menuju ruang kelas masing-masing, siap mendapat kan semua pembelajaran baru hari ini.
"Ah bel masuk sekolah, kalo gitu kita akhiri rapatnya sekarang kalian boleh bubarkan diri"
Instruksi ketua klub lukis.
"Oh Bima tunggu!" panggil ketua klub
"Ah iya ada apa?" balas Bima
"Soal lomba lo udah dapet sketsa mau gambar apa?"
"Udah ada, tenang aja ketu" Bima menepuk pundak ketua klub
"Syukur deh, gue kira belum ada, sorry juga gue ngasih tahu lo dadakan"
"Enggak apa, karena lo juga gue dapet inspirasi buat nyatain perasaan gue buat seseorang" Bima tersenyum
"Jadi bener kata gosip orang-orang lo lagi deket sama cewek, gue kira lo enggak tertarik Bim~" ledeknya
"Haha gila, gue juga masih normal kali"
"Good luck bro" kata ketua klub
"Thanks, ayo balik kelas"
Ajak Bima menyudahi obrolan mereka, takut sudah datang guru ke dalam kelas Bima pun berlari menuju kelas dirinya, setelah pamit pada ketua klubnya.
"Hah untung belum ada guru"
Gumam Bima setelah melihat keadaan kelas nya yang masih tak ada guru masuk, masih ricuh dengan obrolan sana sini.
"Lo kenapa ngos-ngosan Bim?" Tanya Gery
"Gue takut udah ada guru masuk, jadi gue lari kesini dari ruang klub" kata Bima sambil mengatur nafas
"Ah iya Qo katanya Moli hari ini gak masuk"
Gery memulai aksinya membuat Qori mengalihkan pandangannya pada Gery.
"Gak masuk kenapa?" malah Bima yang nanya
"Kayaknya gara-gara kemarin, jadi enggak mau masuk sekolah"
"Ah iya mungkin ia nenangin diri dulu"
"Mungkin juga nata hatinya kembali buat gak jatuh lagi" sindir Gery
"Ge jangan bacot lah" Bima mencoba netral
Gery dan Bima melirik Qori yang dari tadi diam saja, mukanya semakin tak karuan, lalu kembali menghadap depan mengalihkan perhatiannya.
Apa gue udah terlalu dingin sama dia, sampai gak masuk sekolah dan angkat telepon gue dari kemarin malem? pikir Qori
Kemarin malam setelah Qori sampai rumah ia memikirkan sikapnya selama ini yang dingin dan acuh pada Moli walau gadis itu telah cukup keras mengambil perhatian nya.
Qori melakukan itu karena suka dengan sikap manja dan lucu Moli yang sering merengek minta sedikit perhatian padanya, ia mengingat tingkah Moli sampai bibirnya terangkat menyiratkan sebuah senyum.
S!al Perkataan Gery waktu siang masih terngiang di kepala gue.
gue beneran udah termakan sama omongan gue sendiri.
Malam itu Qori sadar akan perasaannya dan mencoba menelpon Moli tapi nomornya tak bisa ia hubungi, niat hati pagi ini ia ingin bicara dengan gadis itu, tapi ia merasa telah terlambat pagi ini.
Enggak gue gak bakal nyerah, kalo dia bisa luluhin hati gue, kenapa gue gak bisa buat dia tetep suka sama gue lagi. pikir Qori lagi
Sampai seorang guru pun akhirnya masuk ke ruang kelas siap memberi sebuah pengajaran pada siswanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#####
Gimana episode 26 kali ini guys ?? tolong beri kritik yang sopan dan saran yang membangun. jangan lupa kasih tip dan vote. tekan juga like dan jadikan ini cerita favorit kalian.
안녕~~💜🥰