
Hari sebentar lagi menjadi gelap, lampu-lampu taman pun sudah menyala terang di tiap penjuru jalan menemani malam yang dingin.
Bima yang baru saja sampai rumah pun di beri banyak pertanyaan terlebih dahulu oleh kedua orang tuanya di ruang keluarga. mereka duduk bersebelahan mengahadap bima yang duduk berlawanan sendiri.
Dengan tatapan mata mencurigakan tak bisa di gambarkan dari sorot mata kedua nya saat menatap anak yang tak biasa pulang terlambat, walau pun telat dia akan menghubungi mereka terlebih dahulu.
"Jadi abang pulang sekolah langsung pergi kemana ?"
"Kenapa enggak hubungi ayah atau bunda pulang telat gini!"
"Abangg pulang sekolah mampir dulu ke kedai es krim, ayah bunda"
"Sama siapa aja ? kenapa lama-lama!"
"Abang sama Delisa bun, saking asik nya jadi enggak kerasa, tahu-tahu udah sore gini, maafin abang"
"Hahh Abang ini kalo mau apa-apa itu bilang dulu, jadi enggak buat orang-orang di rumah itu khawatir."
"Iya ayah maaf"
"Kamu tuh harusnya bilang mau kemana, sama siapa, kan bunda jadi enggak uring-uringan, apalagi ini di telpon malah enggak aktif terus"
"Masa sih bun enggak aktif?"
Bima cepat-cepat melihat benda pipih itu di saku celananya dan ternyata betulan hp nya itu mati habis baterai.
"Ahh iya mati. maafin abang ayah bunda. enggak bakal buat kalian khawatir kayak gini lagi"
"awas yah kalo gini lagi, enggak bakal kasih pintu masuk rumah ini lagi, biar tidur di luar aja sekalian."
"Yah bunda masa tega biarin abang anak tampan ini tidur diluar"
"Karena siapa bikin orang tua khawatir"
"Maafin abang bundaa"
"Udah ah bunda mau kedapur liat makan malamudah di siapin apa belum, kamu cepat mandi terus kebawah kita makan"
"iya bunda"
Saat bima hendak berdiri tiba-tiba ayah mendekat mencoba berbicara pelan di dekat telinga anak nya.
"Besok-besok kalo mau langsung pacaran gitu bilang dulu sama ayah, kalo sama bunda malah di suruh kerumah pacarnya."
"Siap kapten"
Bima menghormat kepada ayah nya sambil tersenyum.
Bima mulai menaiki tangga menuju kamarnya, langsung menuju kamar mandi membersihkan diri takut bunda nya itu ngomel lagi nambah mumet kepala, setelah selesai Bima keluar memakai handuk pendek melingkar di pinggang hanya menutupi bagian bawah nya. bergerak ke lemari mencari baju yang pas untuk dipakainya tidur nanti.
Saat hendak akan keluar kamar untuk pergi berkumpul dengan keluarga makan malam, suara dengtingan pesan masuk mengurunkan niat Bima dan malah berbalik mengecek pesan tersebut dengan semangat dia mulai membuka pesan tersebut tapi bukan wajah senang yang ia terapkan malah muka sebal mendarat di wajahnya.
Ingin hati dapat pesan dari Delisa malah pesan spam tak berguna, Bima pun kembali keluar saat pintu di buka terdengar suara pesan kembali, tapi Bima mengabaikannya karena merasa itu pesan spam dan juga pak Toto yang datang membawa perintah dari bunda.
"Tuan muda kata nyonya segera pergi ke ruang makan"
"Iya pak ini abang keluar"
"Lama banget sih turunnya"
"Tadi abang liat dulu pesan takut ada yang penting, tapi malah dapet spam doang"
Mungkin pesan pertama yang Bima dapat adalah pesan tak penting alias spam. tapi pesan kedua benar-benar dari orang yang penting walau isi teksnya mungkin tidak terlalu penting untuk orang lain.
Di seberang sana seseorang yang memgirim pesan tadi sedang menunggu di balas sekarang membuatnya gelisah terus melihat layar handphone nya itu.
"Kamu lagi ngapain?"
Isi teks dari Delisa yang sampai sekarang belum dapat balasan.padahal untuk mengirim tiga kata itu Delisa berpikir lama apa yang harus di katakan di pesan bagaimana kalo kepanjangan atau kependekan, apa tulisannya lebay atau typo, Delisa terus mengulang dan mengecek kembali sebelum teks tersebut di kirim.
Karena lama menunggu Delisa mencoba untuk mengalihkan perhatiannya pada hal lainnya, dia mulai membulak-balikan tiap halaman buku yang dia pilih acak dari rak buku-buku nya, dia mencoba fokus membaca tapi tetap benda tipis itu sering di lirik nya siapa tau ada balasan.
Setelah menunggu sekitar satu jam lebih Delisa baru mendapat balasan dari laki-laki tampan yang sudah lumayan lama dekat dengannya, mengisi hari-hari nya di sekolah dan juga di luar sekolah.
Akhirnya bibir merahnya mulai tertarik melengkung menampilkan senyuman manisnya, dia senang berdering nya handphone, saat melihat layar kecil itu terdapat tulisan nama Bima.
Bukan pesan atau telpon tapi video call yang dia dapatkan. Delisa buru-buru melihat ke kaca merapihkan rambutnya melihat wajahnya takut berantakan, lalu kembali duduk di tengah ranjangnya.
"Hai del, maaf tadi gak baca pesan dari kamu soalnya takut spam"
"Kmu anggap pesan dari aku cuman spam?"
delisa memanyunkan bibirnya. membuat jantung bima tiba-tiba berdetak lebih kencang menggemaskan pikirnya.
"Ohh hmm terus kenapa malah video call ?"
"Aku kagen pengen liat muka kamu"
Deg deg deg pipi di wajah Delisa tak bisa menyembunyikan rasa senangnya itu.
"apaan sih bim~ dari tadi siang kan kita ketemu Bima!"
"Beneran Del aku udah kangen banget pengen liat kamu"
"Hahh iya iya, sekarang kamu lagi ngapain?"
Delisa mencoba untuk memgalihkan pembicaraan karena sudah tak kuat dengar godaan dari laki-laki itu tapi yang dia dapat malah menambah salah tingkah enggak karuan.
"Aku? aku lagi mikirin kamu"
"Yang bener dong bima~ jangan bercanda terus"
"Aku beneran lagi mikirin kamu, aku mikir kamu marah karena aku lama bales pesan kamu enggak yah, terus aku mikir kamu bakal angkat vc aku apa emggak, semua tentang kamu aku pikirin dengan baik serius"
Dengan wajah seriusnya Bima berbicara soal tentangnya yang terus menerus memikirkan seorang gadis cantik yang berada di layar nya itu. Delisa hanya bisa mengerjapkan mata nya berulang kali bertanya dalam hati apakah yang dia dengar itu beneran apa cuman bercandaan darinya.
"Dell Delisa kenapa diem aja" Bima terus memanggil delisa yang tiba-tiba diam itu
"Iya apa bim?" Delisa mulai sadar kembali
"Kamu kenapa malah diem aja enggak ngomong lagi"
"Ahh cuman ngelamu"
"Ngamunin aku ya?"
"Iya eh enggak"
"Haha ngaku aja Delisa"
"Enggak udah, aku ngantuk nih hoammm."
"Yaudah selamat malam, besok biasa aku jemput, have a nice dream, nanti kita ketemu lagi di mimpi"
"Ya selamat malam, jangan telat jemput, kalo ketemu kamu di mimpi nanti enggak indah dong mimpi aku bim"
"Ya mimpi indah dong sayangg, aku jadi ikut ngantuk juga jadinya, see you"
Bima langsung mematikan video call tersebut tanpa mendengar jawaban dari Delisa yang saat ini tak percaya Bima sempat menyebut dirinya dengang kata sayang, entah ia sadar atau tidak menyebut kata itu barusan tapi ini benar-benar membuat Delisa bisa-bisa tak tidur malam itu.
Sebenarnya nya Bima sadar telah memanggil delisa itu dengan kata sayang, tapi Bima menyembunyikan keinginan nya untuk cepat-cepat resmi memanggilnya sayang.
Kalo kalian ingat mereka berdua belum pacaran, masih tahap pendekatan, tapi mungkin akhir-akhir ini Bima mulai ingin mengajak Delisa berpacaran menunggu waktu dan situasi yang tepat.
Akhirnya gue bisa tidur nyenyak dan mimpi indah, gumam Bima
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#####
Gimana episode 17 ini guys ?? tolong beri kritik yang sopan dan saran yang membangun. jangan lupa kasih tip dan vote. tekan juga like dan jadikan ini cerita favorit kalian.
안녕~~💜🥰