
Kantuk pun tak kunjung datang ketubuh laki-laki tampan yang sedang berbaring di ranjangnya ini, dia penuh dengan pemikiran di otak nya, Bima dan Delisa sudah menjadi lebih dekat tak ada rasa canggung lagi di antara mereka, sudah sebulan lebih dari oeratama mereka kenalan.
*A*pa gue harus ajak Delisa pacaran sekarang?
gue enggak mau Delisa jadinya malah sama cowok lain. tapi gimana cara nyatain perasaan gue sama dia ! gue pengen yang berkesan buat Delisa. arghh
Bima terus mengusak rambutnya frustasi, mengulingkan badannya ke kanan lalu kiri, kadang duduk lalu merebahkan dirinya kembali, gue cari inspirasi di goggle ajalah.
Bima pun mengambil benda tipis itu di meja samping kasurnya, mencari bagaimana cara nembak cewek yang romantis dan berkesan di internet, setelah hasilnya keluar banyak artikel yang cukup menarik perhatian Bima.
Bima mulai membuka artikel-artikel tersebut, membacanya perlahan sambil membayangkan dirinya yang melakukan hal romantis untuk menyatakan cinta pada Delisa.
"Wah ternyata banyak juga, yang ini bagus juga nih kalo gue lakuin, gue butuh bantuan sama saran dari temen-temen kayaknya." gumam Bima sambil menopang dagu.
Bima kembali membaringkan tubuhnya setelah menyimpan benda tipis itu ke meja samping ranjangnya kembali, memaksakan diri untuk cepat-cepat terlelap tidur, agar esok hari dia bisa cepat-cepat melakukan rencananya.
Matahari mulai terbit, cahaya hangatnya menembus celah-celah jendela, menyinari wajah tampan Bima yang tertidur, bunyi alarm nyaring mulai menusuk telinga membuat kedua mata terbuka.
Sambil mengumpulkan tenaga Bima mulai terduduk dan melihat jam dan mematikan alarm. Pergi menuju kamar mandi dengan menggosok kasar mukanya, mencoba terus menyadarkan diri sampai air yang mengalir mengembalikan semua kesadaran nya.
Keluar dengan wajah cerah dan tubuh yang segar Bima melangkah mengambil baju sekolah nya, menyiapkan buku pelajaran ke dalam tas ranselnya, tak lupa melihat cermin merapikan rambut dan dasi terlihat keren dengan tubuhnya yang begitu atletis.
Menuruni tangga menuju meja makan untuk sarapan, terlihat sudah ada dua manusia yang sangat berharga dan di hormati oleh bima yaitu kedua orang tuanya yang telah menunggu dengan senyum mereka berikan pada anaknya itu yang sekarang telah ikut duduk sarapan bersama.
"Ayah bunda kayaknya abang pulang bakal sore lagi, bolehkan abang udah bilang dulu sekarang hm hm. ." Bima meminta dengan wajah berharap pada orang tuanya.
"Boleh, asal sebelum jam makan malam harus udah ada di rumah." balas bunda
"Abang enggak janji bun"
"Pokoknya harus abang, soalnya nanti pagi-pagi banget ayah sama bunda mau pergi, ada kerjaan keluar kota"
"Besok keluar kota? berapa lama bun? terus Bibil di ajak ? nanti abang sendiri di rumah"
"iya besok, cuman 3 hari doang abang enggak bakal lama, Bibil harus ikut karena masih kecil." kata ayah
"Soal makan kamu bisa suruh chef di rumah, jangan makanan cepat saji !" peringatan dari bunda
"Iya kalo boleh pulang sorekan? abang bakalan pulang sebelum jam makan malam"
Sambil berdiri dan pamit pada kedua orangtuanya Bima pergi ke garasi, sekarang malas bawa motor Bima memilih membawa mobilnya untuk berangkat sekolah.
Melintasi pagar rumah Bima mulai melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang menuju rumah gadis cantik yang telah membuatnya susah tidur memikirkan cara bagaimana dia harus menyatakan cinta padanya.
Setelah sampai di depan pagar rumah berlantai dua itu pun langsung mencoba menelpon Delisa agar cepat keluar dari rumah, sambil terus melihat pintu gerbang Bima mencoba menelpon.
"Halo"
"Hai del, aku udah ada di depan"
"Oh iya nanti aku masih sarapan"
"Oke santai aja jangan buru-buru"
Setelah menunggu lima menitan akhirnya delisa keluar menghampiri Bima yang berada dalam mobil menunggu, sambil tersenyum Bima menyuruh Delisa untuk langsung duduk di kursi penumpang yang berada di samping.
"Gak biasanya kamu jemput pakai mobil bim?"
"Aku lagi males bawa motor del"
Sambil bicara Bima membantu memasangkan sabuk pengaman Delisa, sampai wajah mereka pun menjadi begitu dekat hanya terhalang beberapa sentimeter saja. mereka saling bertatapan melihat seluruh wajah satu sama lain. sampai kedua mata mereka saling bertabrakan, bima langsung tertuju pada bibir merah gadis cantik dihadapannya, Delisa yang sadar bibirnya sedang dilihat pun langsung menutup matanya rapat-rapat. menyadarkan apa yang telah terjadi barusan Bima langsung menyelesaikan memasang sabuk pengaman.
"Ehem . . Kenapa kamu tutup mata Del?" kata bima sambil menyalakan mobil.
"Hmm apa ? enggak, ayo berangkat sekolah sekarang"
Delisa gugup sambil menengokan kepala nya pada Bima, lalu memalingkan wajah nya kearah kaca pintu mobil. menyembunyikan wajah merah padam nya karena tak ingin Bima sampai melihatnya.
"Kita berangkat sekarang"
Bima mengusap lembut rambut Delisa seperti sudah kebiasaan Delisa hanya bisa diam, padahal saat itu jantung nya mereka berdua masih benar-benar berdetak kencang bahkan mungkin bunyinya akan terdengar keluar.
Di sepanjang jalan mereka hanya terdiam, suasananya entah kenapa jadi cukup canggung diantara mereka, Bima yang terus fokus menjalankan mobil dan Delisa yang hanya memandangi handphone di tangannya,tak ada yang ingin memecahkan keheningan.
Masuk sampai ke kawasan sekolah, Bima mencoba mencari tempat parkir yang cukup untuk mobilnya, sampai menemukan yang pas.
"Ahh aku lupa, coba tolong ambilin di dabor depan kamu del." sontak Bima saat membuka sabuk pengaman.
Delisa menengok Bima yang masih sibuk membenahi diri, gadis itu pun membukanya, hanya melihat ada satu cokelat disana, lalu mengambilnya dan menyodorkan pada Bima.
"Cokelat? punya kamu bim?"
"Enggak, itu aku beli buat kamu."
"Buat aku?"
"Iya makanan manis buat seseorang yang manis juga kayak kamu" gombal Bima
"Haha makasih Bima~"
"Sama-sama cantik"
Bima mengusap rambut Delisa dengan lembut, wajah delisa yang tersenyum girang di beri cokelat oleh nya membuat Bima semakin gemas saat melihatnya, Bima mulai mencubit pipi chubby delisa sampai membuatnya mengerang kesakitan.
"Aww bim lepasin sakit" Delisa memanyunkan bibirnya kesal
"Akuu gemes sama kamuu, pengen gigit jadinya haha"
"Udah ah . . ayo kita keluar sebentar lagi bel masuk bakal bunyi"
"Iya sayangg"
"Dih apaan sayang-sayang. jadian juga belum"
"Nantikan mau jadian."
"Kapan? aku orangnya gak sabaran abang, heheh"
Goda Delisa sambil pergi keluar dari mobil meninggalkan Bima masih bengong mendengar perkataannya.
"Kamu tunggu sebentar lagi" teriak Bima
Bima terus tersenyum mendengar perkataan Delisa, merasa tertantang Bima benar-benar membulatkan tekad untuk cepat-cepat mengatakan cintanya, lalu melangkah pergi keluar mencoba menyusul.
Delisa keluar dengan pipi memerah di wajahnya lalu berlari kecil melewati setiap koridor kelas yang cukup banyak di hiasi oleh kegaduhan orang-orang yang berkumpul disana, sampai memasuki ruang kelas sudah ada kedua temannya yang menunggu kedatangan Delisa.
Saat Bima teriak sebenarnya Delisa masih bisa mendengar dan itu membuat hatinya dibuat berbunga-bunga, berasa ada yang menggelitik disana. tak sabar kapan dan bagaimana Bima akan menyatakan perasaan padanya. Delisa terus tersenyum sampai kedua temannya yang dari tadi bertanya pun di abaikan olehnya.
Sampai bel berbunyi pun Bima tak bisa mengejar langkah Delisa yang begitu cepat,
jadi ia langsung pergi masuk ke ruang kelasnya, apalagi di tengah jalan tadi bima di cegah terlebih dahulu oleh anggota klub lukis. walau memiliki badan atletis Bima tidak ikut klub seperti basket, sepakbola dan lainnya. menurutnya itu sangat melelahkan, biar olahraga itu dilakukan saat pelajaran P.E saja. badan atletis itu bima dapat dari nge-gym setidaknya satu minggu 2 kali.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#####
Gimana episode 18 ini guys ?? tolong beri kritik yang sopan dan saran yang membangun. jangan lupa kasih tip dan vote. tekan juga like dan jadikan ini cerita favorit kalian.
안녕~~💜🥰