WE BECOME DATE

WE BECOME DATE
eps 24



Di meja makan nampak keluarga itu begitu harmonis tambah ramai juga oleh kedatangan seorang gadis incaran anak tampan nya ikut bergabung bersama dengan mereka.


Delisa sudah mulai tak canggung lagi karena kedua orang tua Bima yang cukup lucu di hadapan nya membuat ia nyaman untuk ikut mengobrol menimpal semua candaan ayah atau Bima.


Sampai waktu yang telah mereka lewati pun tak terasa meja makan yang tadi ramai pun mulai kosong, semua jamuan telah habis di lahap, sampai datang waktunya Delisa untuk pamit pulang.


"Ayah bunda Delisa pamit, makasih buat makan malamnya, maaf ngerepotin"


"Yah padahal nginep aja di sini" tembal bunda


"Haha aku bakal sering main ke sini kok bunda, kalo di bolehin!?"


"Ya boleh dong, kamu juga belum ketemu Bibil adiknya Bima, jadi harus main lagi ke sini"


"Siap bunda"


"Abang anterin Delisa ke rumah nya, antar sampai abang ketemu sama orang tuanya" suruh ayah pada Bima.


"Iya ayah, aku ke garasi dulu bawa motor"


"Bilang sama orang tua kamu, tadi udah di tahan dulu sama ayah dan bunda jadi lama"


"Iya nanti aku bilang udah di tahan dulu, terus di kasih makan banyak jadi gemuk kayak gini"


"Haha salam dari ayah sama bunda, bilang kapan-kapan sekeluarga kita makan bareng"


"Ah iya ayah, makasih atas undangan makannya, nanti aku sampaikan ke papa dan mamah di rumah"


"Ayo Del naik"


"Iya sebentar"


klakson motor Bima menyudahi acara perbincangan mereka, Delisa pamit setelah menciut punggung tangan ayah serta memeluk lekat bunda Bima.


"Dah bunda, ayah makasih, aku pulang dulu"


"Iya hati-hati, abang bawa motornya pelan-pelan jangan ngebut"


"Iya bunda abang bakal hati-hati"


"Delisa pamit ayah bunda dahh"


Mereka pun pergi menggunakan motor yang biasa mereka tumpangi, membelah gelap nya jalan komplek yang hanya di terangi lampu taman di sepanjangn jalur.


Tak perlu memakan waktu lama akhirnya mereka pun sampai ke rumah gadis itu dengan selamat, di sambut oleh satpam depan rumah.


"Selamat malam non Delisa, den Bima."


"Selamat malam pak"


"Tuan sudah lama menunggu di depan non"


"Oh iya pak, makasih udah kasih tahu"


"Kita permisi pak" Bima lewat.


Masih mengendarai motor bersama Delisa duduk di belakang, papa Delisa yang sedang menunggu di luar pun menajamkan mata nya mengarah pada Bima.


"Papa kenapa malah nunggu di luar?"


"Selamat malam om"


"Papa nunggu kamu, oh iya malam Bima"


"Maaf om Delisa main di rumah aku sampai malam gini, ayah sama bunda ngajak Delisa makan malam dulu di rumah soalnya"


"Iya enggak papa, maaf malah ngerepotin orang tua kamu"


"Enggak om, malah orang tua aku seneng"


"Iya kalo gitu makasih udah anter Delisa sampai rumah, kamu cepet pulang udah malam"


"Iya om saya pulang, selamat malam"


"Ah nanti, tunggu dulu Bima"


Saat Bima menyalakan kembali kendaraannya tiba-tiba papah Delisa mencoba bicara kembali.


"Kenapa om?"


"Mulai besok kalo mau ke sekolah jemput pakai mobil, sekarang mulai musim hujan papa gak mau Delisa sampai sakit"


"Apaan sih pah, Bima mau jemput aku pake apapun juga gak masalah" rajuk Delisa


"Papa cuman gak mau kamu sakit kena hujan"


"Siap om, besok aku jemput Delisa pakai mobil" Bima tersenyum


"Dan Bima mulai sekarang jangan panggil saya om lagi, panggil kayak Delisa aja"


"Wah iya pah, makasih"


"Cepet amat panggil papah, tadi aku manggil ayah sama bunda lama karena pertama ketemu udah suruh panggil gitu."


"Haha kan udah di suruh sama papah langsung"


"Kamu baru ketemu udah di suruh panggil ayah sama bunda sama orang tua Bima?"


"I-iya pah, pas ketemu mereka langsung suruh panggil gitu"


"Udah sana pulang, salam sama orang tua kamu, maaf kalo Delisa ngerepotin"


"Iya pah sekarang aku pergi, selamat malam"


Delisa tak tahu apa yang sebenarnya apa yang papa nya itu ingin bicarakan, entah ingin memarahinya karena pulang malam dari rumah seorang laki-laki, atau soal lainnya.


"Duduk di sana Putri"


"Iya pah" Delisa gugup


"Tadi kamu di rumah Bima ngapain aja?"


"Aku cuman di ajak ke ruang galeri pribadi mereka, terus makan malam doang"


"Enggak berduaan doang sama Bima kan?"


(kalo gue ngomong berduaan doang sebelum dateng orang tua kayaknya ayah bakal marah, maafin aku bohong kali ini)


"Enggak, kan ada orang tua Bima pah"


"Orang tua Bima enggak apa-apain kamu kan? enggak marah atau . . . ?"


"Enggak, mereka baik sama aku, mereka banyak cerita juga jadi enggak canggung gitu, terus mereka kasih aku makan malam banyak banget sampai perut aku kenyang"


"Hah syukurlah, kapan-kapan ajak Bima makan malam juga di rumah kita" kata mama


"Bima udah sering ke rumah tapi belum pernah sampai makan malam di sini"


"Iya nanti Delisa ajak, ayah sama bunda Bima juga ngajak papa sama mama buat makan bareng kapan-kapan"


"Oh yah, kalo gitu kita enggak bileh tolak ajakan orang dong, sekalian silaturahmi siapa tahu jadi besan kita pah!" mamah semangat


"Tapi anak papa masih kecil, papa gak rela"


"Kalo jodohkan siapa yang tahu papah"


"Tapi papa belum rela anak kita mulai jatuh cinta dan punya pacar "


Papa memeluk Delisa dengan erat tak rela, membuat Delisa tertawa terbahak-bahak bersama mamah nya melihat betapa heboh nya papa.


"Awas ah papa lebay, jadi tawaran makan bersama nya gimana setuju ?"


"Enggak . . ." omongan ayah langsung di potong bunda


"Ajak Bima aja dulu, nanti minggu depannya lagi sama orang tua Bima" jawab mamah


"Yeah, kalo gitu besok Delisa kasih tahu Bima"


"Udah malam cepet mandi kamu belum mandi dari pulang sekolah" tiba-tiba mamah marah


"Iya mah, aku ke kamar sekarang, selamat malam papah mamah"


Belum sampai keluar ruangan Delisa kembali memutar badan mengarah orang tuanya


"Ayah harus cepet relain Delisa punya pacar, karena bentar lagi kayak nya Bima mau ngajak Delisa pacaran"


ejek sekaligus peringatan dari Delisa.


"Apa!!" Ayah kaget


"Delisa udah jangan bercanda lagi, cepet pergi" mamah melerai


"Mamah, papa enggak rela huaaa"


"Ayah ini udah ah kita ke kamar udah malam"


"Papa minta jatah kalo gitu" rajuk papa


"Hahh" mamah menghela nafas tak bisa menolak permintaan.


Setelah mengerjai kedua orang tuanya Delisa akhirnya pergi meninggalkan mereka menuju kamar nya di lantai dua, langsung mebasahi diri di kamar mandi dan keluar menggunakan handuk kimono nya, mengambil baju tidur berwarna hitam lalu memakainya.


Bima dan Delisa sama-sama merasa sangat senang malam ini, berasa telah mendapatkan lampu hijau dari kedua orang tua mereka, jadi mempermudah mereka untuk memberitahu tentang hubungan mereka nantinya, keterbukaan diri pada keluarga adalah utama untuk menjalin keluarga harmonis.


Malam yang larut pun datang, menyisakan bintang terang di langit gelap, memenuhi pandangan malam ini, serta rembulan yang menjadi saksi indahnya malam ini.


Aku ingin hari esok datang lebih cepat


gumam Delisa dan Bima sebelum tidur.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


#####


Gimana episode 24 kali ini guys ?? tolong beri kritik yang sopan dan saran yang membangun. jangan lupa kasih tip dan vote. tekan juga like dan jadikan ini cerita favorit kalian.


안녕~~💜🥰