WE BECOME DATE

WE BECOME DATE
eps 32



Mereka mulai mengambil garpu dan pisau makan, memotong daging menjadi bagian yang lebih kecil yang pas masuk ke dalam mulut.


Bima memberikan makanan yang telah ia potong-potong terlebih dahulu itu pada gadis di depan nya.


"Siniin punya kamu" kata Bima sambil memberikan piringnya


"Nih makasih Bim" Delisa tersenyum


"Iya sama-sama"


"Bima kamu udah bilang sama orang rumah pulang telat hari ini?"


"Aku udah izin dari kemarin"


"Yang bener Bima, nanti malah di marahin ayah sama bunda!" kesal Delisa


"Beneran, kemarin sore aku bilang mau pulang telat, katanya enggak pa-pa buat hari ini doang, besok-besok harus izin dulu lagi"


"Ohh ya udah kalo gak pa-pa"


"Kalo kamu udah bilang dulu?" Bima balik bertanya


"Belum hehe ..." Delisa cengengesan sambil geleng-geleng kepala


"Nanti papah sama mamah marah terus khawatir Delisa~ cepetan telpon dulu"


Bima merendahkan suara agak kesal dengan gadis itu, masa belum beritahu orang rumah gimana kalo di rumahnya sekarang orang-orang nya lagi gempar cari anaknya.


"I-iya maaf aku lupa" jelasnya


"Sekarang berhenti dulu makannya, terus telpon sekarang, di sini!"


Delisa melihat pria tampan yang sedang marah itu dengan wajah nya yang melas, agar ia tak perlu menghubungi keluarganya, biar nanti aja pas pulang cerita ke orangtuanya.


"Se-ka-rang Delisa Putri" Bima mulai benar-benar kesal


"Iya ini aku telpon mamah sekarang"


Delisa menunjukkan benda pipih tipis itu pada Bima, memperlihatkan layar yang menyala, menelpon orang bernama Mamah di kontaknya.


**Halo mah*


*Halo sayang kamu di mana? kenapa dari tadi mamah telpon hp kamu enggak aktif terus*!*


**Maaf mah, hp aku di matiin, sekarang aku lagi sama Bima main ke mall, maaf enggak bilang dulu sama mamah dan papah"


*Kenapa gak bilang pulang sekolah mau main dulu !? mamah sama papah kan jadi enggak perlu khawatir gini! kamu tuh anak satu-satunya terus juga perempuan, kita gak mau terjadi apa-apa sama kamu nak!"


*Iya mah maafin Delisa, aku salah gak bilang dulu, maaf bikin khawatir, maaf mah T.T*"


Delisa jadi menitikkan air mata nya, merasa bersalah pada orang tuanya karena telah membuat mereka khawatir dan berpikir macam-macam terjadi padanya.


Bima melihat air mata gadis itu mulai turun membasahi pipinya, mulai mengambil tisu dan membantu menghapus nya, mencoba menenangkan nya dengan terus mengusap tangan kiri Delisa yang berada di atas meja.


"Siniin hp nya, aku mau ngomong sama mamah kamu" tawar Bima


*Mah ini Bima yang bicara"


*Halo mah ini Bima, maaf udah bikin mamah khawatir, saya kira Delisa udah kasih tahu orang rumah kalo mau pulang telat"


*Iya tante maaf Bima juga gak minta izin dulu sama mamah dan papah bawa Delisa main"


*ya mah ini kita makan dulu baru pulang, enggak bakal kemana-mana lagi"


*Iya mah, sekali lagi maaf mah pah*"


"Udah jangan nangis lagi, jadi jelek muka kamu" kata Bima beralasan


"Apaan sih Bima~"


"Udah dong malu di liatin orang-orang di sini, di kira orang aku macam-macam sama kamu"


"Ehem aku mau ke toilet dulu, mau cuci muka"


"Mau aku anter ?" goda Bima menawarkan diri


"Enggak usah, aku juga bisa sendiri" dengus Delisa beranjak dari kursi


"Yaudah, jangan lama-lama"


Hahh ternyata gadis ceria ini bisa secengeng itu. gumam Bima sambil terus melihat Delisa yang pergi ke toilet.


Delisa menatap dirinya yang sekarang berada di hadapan sebuah cermin besar di dalam toilet, membasuh wajahnya yang acak-acakan habis menangis.


Kenapa jadi secengeng ini sih! gumamnya


Delisa di hadapan cermin sambil memegang kedua pipinya, merasa malu tiba-tiba menagis saat menelpon orang tuanya barusan, tapi ia saat itu benar-benar merasa sangat bersalah ada orang tuanya.


"Hah .. ayo kita balik Delisa, nanti Bima malah nunggu kelalamaan" kata Delisa pada bayanganya di cermin


Setelah merapikan rambut dan pakaian Delisa mulai melangkah keluar, tapi saat ia melihat meja tempat ia makan tadi ada seorang perempuan yang sedang berbicara pada Bima.


Siapa cewek itu!? gumam Delisa kesal


Di meja Bima kedatangan entah siapa perempuan menanyakan tentang dirinya, mungkin ia lagi mecoba mendekati Bima, karena terlihat duduk sendiri di sana.


"Sorry gue udah punya cewek" tolak Bima


"Enggak pa-pa, kita kan masih bisa jadi temen" paksanya


Perempuan itu pun pergi setelah mendengus kesal tak bisa mendapatkan laki-laki tampan di hadapannya ini.


Setelah perempuan itu pergi Delisa pun mulai menuju meja kembali duduk di bangkunya, melihat Bima dengan tatapan penasaran


"Siapa tadi Bim?" tanya Delisa


"Enggak tahu" Bima menggidikan bahu nya ke atas


"Terus dia mau ngapain sama kamu?"


"Dia mau kenalan terus minta nomor aku"


"Terus kamu kasih?" Delisa mulai terlihat bete


"Enggaklah, buat apa aku kasih sama!?"


"Ya kirain kamu mau kasih gitu aja"


"Haha kamu cemburu yah!?"


Bima mulai mengejek Delisa yang sekarang pipinya mulai memerah malu, tapi langsung cemberut begitu saja


"Aku belum punya hak buat cemburu"


"Kata siapa ?"


"Menurut aku, kamu kan emang bukan siapa-siapa aku jadi aku enggak berhak buat larang kamu deket sama cewek lain"


"Hahh jadi kamu pengen aku sama cewek lain!?" tanya Bima setelah membuang nafas panjang


"Iya bukan gitu Bim, tapi kan aku tuh ..."


"Udah kan makannya ? ayo pulang nanti mamah sama papah khawatir"


Bima yang terlihat kesal segera berdiri pergi menuju kasir membayar semua makanan yang mereka pesan tadi tanpa ingin mendengar pembicaraan Delisa selanjutnya.


Gadis itu hanya mengikuti langkah Bima dari belakang dengan wajah yang di tekuk sedih tak tahu harus berbuat apa.


"Ah aku yang bayar Bim"


"Enggak usah aku aja, nih mba"


"Ayo pulang"


Delisa makin tak karuan ia merasa bersalah telah berbicara sepeti tadi barusan pada Bima. ia malah membiarkan Bima untuk dekat dengan perempuan lain padahal ia sebenarnya tak rela, tapi karena hubungan mereka yang tak pasti ia merasa tak berhak untuk memiliki Bima sendirian.


Mereka berjalan masing-masing sampai basement tempat parkir tanpa ada suara atau berpegang tangan seperti saat mereka datang ke dalam mall tersebut.


Sebelum masuk mobil Delisa mencoba mencegah Bima, memanggil nama pria tersebut, hingga tangannya coba menarik pelan lengan baju laki-laki itu.


"Bim~ ... Bima ... Bimaa maaf" Delisa menunduk memelas


"Kita bicara ini besok, sekarang kita pulang dulu" Bima menyingkirkan lengan Delisa di baju nya


"Tapi Bim ..."


"Besok aja yah Delisa"


Bima memegang kedua bahu Delisa, memberikan senyuman nya, tapi tatapan matanya masih tergurat rasa marah padanya.


Delisa pun mengalah dan mengikuti kemauan Bima, duduk di samping dirinya. Keluar dari Mall membelah jalanan kota di malam hari, tanpa mengeluarkan suara, perjalanan pulang mereka pun terasa sangat lama dan dingin.


Pikiran Bima begitu sederhana, walau sekarang ia tidak punya hubungan yang punya sebuah komitmen, setidaknya ia ingin di anggap bahwa dia itu ada dan berharga, seperti dia menganggap gadis nya itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


#####


Gimana episode 32 kali ini guys ?? tolong beri kritik yang sopan dan saran yang membangun. jangan lupa kasih tip dan vote. tekan juga like dan jadikan ini cerita favorit kalian.


안녕~~💜🥰


LIHAT VISUAL KEEMPAT KITA GERY PRIA TAMPAN YANG PECICILAN SAMA PACAR NYA