Vertical Garden

Vertical Garden
Dukungan sahabat



" kalau lu mau perjuangin Dia, gue dukung. jangan kecewain gue, gue bahagia asal lu janji bakal buat Dia bahagia" ucapnya lagi


Adi bukannya tidak ingin memperjuangkan cintanya, tapi Dia sadar keluarganya akan menentang apalagi dengan status Airin dan itu nantinya pasti akan menyakiti orang yang dia cintai.


Adi lebih baik mundur teratur, melupakan pelan-pelan walaupun hatinya sakit. Dia sedikit lega setelah mengetahui kalau sahabatnya punya perasaàn yang sama seperti halnya perasaan Dia pada Airin.


" sorry gue ga tau.. terus sekarng gmn? gue jadi ga enak sama lu" ucap Bara sambil menepuk pundak Adi seraya menenangkan, dia pun merasa tak enak hati.


" ga apa2 bro, kita tak bisa menahan perasaan kita pada seseorang karena itu fitrah manusia" ucap Adi dengan bijak, walaupun dalam hatinya ada perasaan nyeri


" gue jadi bingung...apa lu pernah nembak dia?" tanya Bara


" gue cari tau dulu, takutny ya kyak gini" jelas Adi


Adi mencoba menenangkan hati dan pikirannya, mencoba memberi solusi pada sahabatnya tersebut.


" gimana, apa lu mau lanjut?" tanya Adi


" sekarng gue ga bisa mikir, kalaupun lanjut gue harus benar2 pikirin karena gue ga mau main2, dan harus minta pendapatnya bunda dulu" jawab Bara


" Anak pintar" ledek Adi sambil menepuk bahu Bara


" ckk thank's ya bro, gue do'ain biar lu cepat move on" ucap Bara


" cih pede amat, kayak bakalan diterima aja" kesal Adi


" ha..ha..ha.. harus pede dan yakin gue bakalan diterima" ucap Bara


" jangan kelamaan mikirnya, bisa2 ditikung sm yang lain" ucap Adi


" ok lah, dah malam juga. lu ga pulang? kasian sekretaris lu nungguin " ucap Bara


" ga apa2 dia dah biasa, lagian dia sekalian nunggu pacarnya" jawab Adi


" lu pacaran sm dia?" tanya Bara seolah tak percaya


" iish, pikiran lu ya, cowoknya dia itu si Daniel , aspri gue" jelas Adi agar Bara tidak salah paham


" ya udah lah gue pulang dulu, thank's ya dah ngasih solusi dan ngertiin gue" ucapnya lagi


" ok, good luck. bahagiakan Dia " ucap Adi


" gue ga bisa janji, tp akan berusaha" ucap Bara


" ok bro gue cabut dulu ya" ucap Bara sambil berdiri dan melakukan salaman ala sahabat, kemudian dia pergi.


Setelah kepergian Bara ,Adi sedikit melamun


" mungkin Bara memang yang terbaik untukmu, semoga kau berbahagia" ucapnya dalam hati


" gue harus move on secepatnya" gumam Adi


...----------------...


Setelah menerima telp dari Deni , Airin bertanya2 dalam hatinya


" apa benar dia mau datang , terus apa yang mau diomongin ya,kayaknya penting banget sampai ga bisa ditunda dulu, pake mau datang kesini pula" bathin Airin sambil dia menggelengkan kepalanya membayangkan Bara benar2 datang ke rumahnya


" bu kenapa, ibu pusing?" tanya mbok Nan karena melihàt majikannya tersebut geleng-geleng kepala.


" ga apa2 mbok, saya ke kamar Aira dulu, mbok langsung istirahat aja" seru Airin


" iya bu" ucap mbok Nan


" ada apa denganku, bisa2 nya mikirin tuh orang, Astagfirulloh" ucap Airin sambil mengelus2 dadanya


Airin pun langsung menuju ke kamar anaknya.


" dek, kok belum tidur? obatnya udah diminum belum?" tanya Airin


" udah bu, blm ngantuk" jawab Aira melihat ke ibunya sebentar lalu memainkan gawainya lagi


" ya udah, ibu ke kamar dulu, jangan tidur terlalu malam ya" ucap Airin sambil mencium kening anaknya dan mengusap rambutnya Aira, lalu iya pun keluar dari kamar anaknya